Atdikbud Paris-Berlin Perkuat Diplomasi Bahasa Indonesia di Eropa

Suasana Seminar Atase Pendidikan dan Kebudayaan serta Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO di Paris, Minggu (2/8/2026) yang dilakukan secara daring. (foto: tangkapan layar)

PARIS, CAKRAWARTA.com – Upaya menginternasionalkan bahasa dan budaya Indonesia di Eropa terus diperkuat melalui kolaborasi pendidikan, kebudayaan, dan komunitas masyarakat. Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Paris dan KBRI Berlin menegaskan bahwa diplomasi budaya hanya akan berkelanjutan jika dibangun melalui jejaring institusi, program pendidikan yang konsisten, serta keterlibatan aktif masyarakat setempat.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar Atase Pendidikan dan Kebudayaan serta Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO di Paris, Minggu (2/8/2026). Seminar dibuka Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan menghadirkan Atdikbud KBRI Paris Syarifa Hanoum serta Atdikbud KBRI Berlin Roniyus Marjunus dengan moderator Atdikbud KBRI Canberra Yuli Rahmawati.

Syarifa Hanoum mengatakan, hubungan Indonesia dan Prancis yang telah memasuki usia 75 tahun menjadi modal penting untuk memperluas diplomasi bahasa dan budaya. Kerja sama kedua negara kini tidak hanya mencakup pendidikan dan riset, tetapi juga pelindungan warisan budaya, industri budaya, hingga transformasi digital.

Momentum itu diperkuat melalui Joint Working Group France-Indonesia di Angers pada Juli 2026 yang menghasilkan penandatanganan 40 nota kesepahaman antarlembaga pendidikan tinggi kedua negara. Sebelumnya, pertemuan Menteri Kebudayaan Indonesia dan Prancis pada April 2026 juga menyepakati penguatan kolaborasi di berbagai bidang kebudayaan.

“Internasionalisasi bahasa dan budaya Indonesia tidak cukup dilakukan melalui promosi sesaat. Kita perlu membangun ekosistem yang menghubungkan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas seni, mahasiswa, dan masyarakat Prancis secara berkelanjutan,” kata Syarifa.

Menurut dia, salah satu instrumen utama diplomasi tersebut adalah program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang secara rutin diselenggarakan sejak 2019. Program itu melibatkan Institut National des Langues et Civilisations Orientales (INALCO), Université de La Rochelle, dan IUT Le Havre.

INALCO bahkan telah membuka studi bahasa Indonesia hingga jenjang magister dan doktoral, sedangkan Université de La Rochelle menawarkan program Inggris–Indonesia yang memadukan pembelajaran bahasa, penerjemahan, serta kajian masyarakat dan budaya Indonesia. Di sisi lain, IUT Le Havre memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada mahasiswa lintas disiplin ilmu. KBRI Paris juga menggandeng Pusat Bahasa Universitas Telkom untuk membuka kelas BIPA tingkat mahir.

Diplomasi budaya di Prancis juga diperkuat melalui kiprah komunitas seni Indonesia. Pendiri Asosiasi Pantcha Indra di Université Paris Nanterre, Kadek Puspasari, mengatakan pengenalan budaya akan lebih efektif ketika masyarakat setempat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mempelajari dan mempraktikkan budaya Indonesia.

“Melalui gamelan dan tari, kami membangun perjumpaan yang lebih dekat antara masyarakat Prancis dan Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Selasa (4/8/2026) dini hari.

Sejak berdiri pada 2021, komunitas tersebut secara rutin menggelar konser gamelan tahunan dan melibatkan mahasiswa maupun masyarakat Prancis dalam berbagai kegiatan seni. Upaya serupa juga dilakukan melalui program Café des Langues bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Paris yang mempertemukan mahasiswa Indonesia dan Prancis untuk berlatih bahasa sekaligus mengenal budaya kedua negara.

Sementara itu, Roniyus Marjunus memaparkan peran Rumah Budaya Indonesia (RBI) KBRI Berlin sebagai pusat promosi bahasa dan budaya Indonesia di Jerman. Sejak berdiri pada 2012, RBI Berlin berkembang menjadi ruang pembelajaran sekaligus perjumpaan budaya bagi warga Indonesia dan masyarakat internasional.

“RBI Berlin bukan sekadar ruang pertunjukan, tetapi rumah bersama bagi warga Indonesia dan komunitas internasional untuk mempelajari, memainkan, dan mengalami langsung kebudayaan Indonesia,” kata Roniyus.

Saat ini RBI Berlin membina enam kelompok seni dan musik, antara lain Lindhu Raras, Manunggal Laras, Saptavarna, Angklung Orchestra Berlin, kelompok Tari Minang, dan Rampak Kendang. Anggotanya berasal dari berbagai negara, termasuk Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia.

Salah satu agenda tahunan yang menjadi etalase budaya Indonesia ialah Fête de la Musique. Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan itu menampilkan prosesi pernikahan adat Lombok, pawai budaya Betawi, hingga beragam pertunjukan seni Nusantara yang menarik ratusan pengunjung setiap penyelenggaraannya.

Selain itu, RBI Berlin juga menyelenggarakan kursus BIPA tingkat A2, B1, dan kelas percakapan melalui kerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Pengalaman Prancis dan Jerman menunjukkan bahwa diplomasi bahasa dan budaya tidak cukup mengandalkan kegiatan seremonial. Penguatan jejaring pendidikan, pusat kebudayaan, program bahasa yang berkelanjutan, serta partisipasi aktif komunitas lokal menjadi fondasi penting agar bahasa dan budaya Indonesia semakin dikenal dan mendapat tempat di kancah internasional.(*)

Editor: Abdel Rafi