Sunday, April 21, 2024
HomeBerita AllNegara Sebagai Tertuduh Dalam Insiden Tolikara

Negara Sebagai Tertuduh Dalam Insiden Tolikara

IMG_20150803_131617

Insiden pembakaran sebuah masjid oleh sekelompok aktivis yang mengatas namakan jemaat Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) beberapa waktu lalu, masih menyisakan kerumitan misteri yang belum terpecahkan. Sampai dengan saat ini persoalan tersebut masih dikaji oleh berbagai lembaga kemasyarakatan dan kelompok kelompok studi kemahasiswaan. Setidaknya pertanyaan yang mengemuka yang harus dijawab, di mana posisi negara pada saat insiden pembakaran itu terjadi? Dan langkah langkah apa yang harus dilakukan oleh negara sehingga dapat mencegah terjadinya insiden pembakaran itu?  Bila tidak dilakukan maka hal itu merupakan pembiaran dan kesengajaan.

Mengingat insiden pembakaran itu terjadi pada hari raya kemenangan umat Islam, hari kesucian umat Islam, hari raya pengampunan bagi umat Islam, dimana hari itu umat islam saling memberi dan menerima permafaan. Hari raya itu ditandai dengan shalat sunnah dua rakat dan khutbah, yang diikuti dg gemuruh takbir dan tahmid sebagai tanda syukur bagi umat Islam kembali ke fitrah. Tentu pristiwa pembakaran masjid tersebut tidak saja melumuri dan melukai kejiwaan kaum muslimin di Tolikara Papua, melainkan semua umat Islam di dunia, khususnya umat islam Indonesia. Sebab umat Islam adalah ummat bersaudara. Apabila satu muslim menghahadapi masalah, maka hal tersebut menjadi masalah bagi kaum muslimin yang lain secara internasional khususnya Indonesia. Oleh karenanya, menjadi sesuatu yang logis bila insiden Tolikara Papua menimbulkan respon berbagai fihak di berbagai tempat di tanah air.

Insiden ini tentu dirasakan menohok dan menistai rasa keberagamaan sesama umat Islam. Umat Islam sebagai kelompok yang tidak hanya mayoritas tetapi penyumbang dan pemilik saham terbesar terhadapap proses perjuangan kemerdekaan dan pembentukan Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Tetapi kenapa umat yang mayoritas ini justru tidak mendapatkan jaminan serta perlindungan politik dan keamanan pada saat menjalankan ibadah shalat Idul Fitri?  Peristiwa ini tentu sangat tragis, dirasakan sebagai diskriminasi keamanan bagi muslim dalam menjalankan ibadah, sesuai syariat agama yang dijamin oleh konstitusi. Lantas, dimanakah fungsi konstitusi yang bisa menjamin kemerdekaan ummat beragama menjalankan ajaran agamanya.

Insiden Tolikara Papua, tidak hanya mencoreng bangunanan konsepsional kerukunan antar umat beragama di Indonesia, yang konon telah menjadi model yang dipuji dan diduplikasi oleh banyak negara di dunia, tetapi juga mencoreng wajah Indonesia di mata internasional. Tidak salah, kehebatan Indonesia dikenal sebagai bangsa yang damai, penyumbang perdamaian dunia, serta menjadi negara yang mampu menangani konflik (berskala) dunia. Insiden Tolikara meredupkan prestasi gemilang yang telah diukir Indonesia di kancah internasional.

Di sisi lain, GIDI hanya semacam NGO (Non-Governmental Organization), yang mengurus agama dalam sekte tertentu. Dan GIDI terkategori NGO yang kecil, dan keberadaannya yang dominan di tanah Papua. Tetapi kenapa Indonesia yang begini besar, namun tak sanggup mendeteksi dan menangani setiap kemungkinan yang dilakukan oleh GIDI yang berujung pada pencederaan keberagamaan dan kerukunan umat beragama di Indonesia? Insiden Tolikara ini menjadi contoh buruk bagi agama-agama lain, di kawasan tertentu seperti NTT, Bali dan Kalbar, yang minoritas muslim. Bisa jadi suatu saat terulang kembali insiden serupa yang memilukan itu. Negara tak berdaya,  kehilangan kekuasaan, serta gagal melindungi kelompok mayoritas ditengah tekanan dominasi minoritas. Ini jelas telah terjadi tirani minoritas. Anehkan?

Untuk itu Insiden Tolikara, tidak bisa dipisahkan dari peran negara. Mengingat negara dihadirkan dengan tujuan mulia yaitu, antara lain untuk memberikan jaminan ketertiban keamanan,  kemaslahatan, kemakmuran dan kemajuan lahir dan batin setiap warga negara dari Sabang sampai ke Merauke. Negara memberikan perlindungan setiap pemeluknya untuk melaksanakan ajaran agama sesuai dengan agama dan keyakinannya.

Tetapi secara empiris dalam konteks Tolikara Papua, negara memang tidak berperan untuk menciptakan keamanan bagi muslim untuk menjalankan ibadahnya. Di sisi lain negara memiliki aparatur intelijen yang memantau setiap perkembangan yang patut dicurigai. Negara punya aparat keamanan bernama polisi mulai dari level Mabes Polri (pusat ibukota negara) sampai ke Polsek (kecamatan), negara juga mempunyai alat pertahanan (TNI) yang ada mulai dari Mabes TNI (pusat) sampai ke Koramil (kecamatan), negara pun punya perangkat aparatur pemerintahan dari Presiden sampai Ketua RT. Apakah semua instrumen tersebut mengalami disfungsional, disorientasi, sehingga tidak bisa memantau apa yang semestinya yang sedang dan akan terjadi. Bila kondisi yang demikian adanya apakah negara ini masih eksis, dan masikah ada manfaat bagi rakyat? Jika negara tidak berperan untuk menciptakan dan menjamin stabilitas, maka kita patut menggugat, mempertanyakan eksistensi, fungsi dan peran negara. Jangan-jangan negara turut andil untuk menciptakan instabilitas politik di Tolikara, membakar masjid pada hari besar umat Islam, sehingga menyulut api kerusuhan yang bagai bola liar sehingga memicu kerusuhan sosial di tempat yang lain seperti di Manado dan Jawa setelah Insiden Tolikara terjadi?

Dalam konteks mikro, simbolisasi negara ada pada Presiden sebagai kepala negara. Apakah Presiden selaku kepala negara tidak mencermati kondisi kebangsaan kita secara keseluruhan sampai pada level yang paling bawah? Sebagai orang awam rasanya tidak logis jika seorang Presiden tidak memantau perkembangan terkini yang terjadi di masyarakat. Presiden mestinya melakukan koordinasi dan meminta masukan dari semua jajaran yang bertanggung jawab, dan merumuskan langkah kebijakan pengamanan yang tepat dan efektif untuk mengendalikan keamanan dan ketertiban secara nasional pada hari besar umat Islam khususnya Idul Fitri. Bila kebijakan ini dilakukan oleh Presiden, maka tentu ada gerakan siaga nasional dari pusat sampai ke kampung kampung yang terpencil.

Dengan tidak adanya kebijakan pengamanan nasional pada hari besar khususnya Idul Fitri, maka patut dicurigai bahwasanya negara ternyata ikut andil akan terjadinya insiden Tolikara di Papua. Negara dibawah pimpinan Presiden Joko Widodo dapat menjadi tertuduh, atas pembiaran terjadinya insiden Tolikara Papua yang mencederai mayoritas muslim di Indonesia tersebut.

MHR. SHIKKA SONGGE
Direktur Istana Watch

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular