Tuesday, January 31, 2023
HomeGagasanNapak Tilas Omicron: PPKM Dicabut, Prokes Lanjut

Napak Tilas Omicron: PPKM Dicabut, Prokes Lanjut

Masyarakat mempertanyakan apakah pandemi COVID-19 telah usai atau tidak, bahkan banyak yang apatis. Pertanyaan masyarakat lebih mengedepankan aspek ekonomi dan dijawab pemerintah di akhir 2022 lalu dengan mencabut aturan mengenai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan keluarnya Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 2022.

Tahun 2023 ini melengkapi tiga tahun kebersamaan kita dengan COVID-19 dan entah kapan benar-benar akan usai. Hal senada dengan peringatan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyampaikan bahwa dunia belum bisa mengakhiri pandemi. Justru jika tidak mengambil kesempatan sekarang, masih ada risiko lebih banyak varian, kematian, sektor terdampak dan ketidakpastian. Tentunya kesempatan yang dimaksud ibarat perlombaan lari maraton maka bagaimana berhasil menyelesaikan perlombaan sampai garis finish, yang diartikan mampu mengeradikasi COVID-19. Penurunan kasus bukan berarti sudah mencapai garis finish apalagi sepanjang tahun 2022 telah dilaporkan lebih 1 juta kematian karena COVID-19. Tiga tahun bergelut dengan COVID-19, kita tentu lelah. Wajar. Tetapi kerja keras dengan energi tersisa untuk mencapai garis finish masih sangat diperlukan. Semuanya harus berlari menyelesaikan garis finish. Mengakhiri pandemi COVID-19.

Sejenak kita flashback dimana pandemi artinya kasus telah menyebar ke berbagai negara di seluruh dunia, sehingga penyelesaiannya pun harus sinergis dan kolaboratif antar negara di dunia. Upaya dan kebijakan pengendalian yang dilakukan selama kurang lebih 36 bulan terakhir terbukti efektif untuk menyelamatkan nyawa, melindungi sistem kesehatan dan mencegah dampak buruk terutama sektor sosial dan ekonomi. Seperti, rekomendasi vaksinasi, testing dan tracing, penemuan varian baru, pengobatan efektif dan terjangkau, dan yang paling penting juga mempersiapkan adanya kemungkinan lonjakan kasus di masa mendatang dengan memperkuat infrastruktur kesehatan (peningkatan fasilitas kesehatan, peralatan dan SDM tenaga kesehatan).

Semakin lambat berlari apalagi berhenti, akan dihadapkan permasalahan baru adanya lonjakan kasus karena muncul varian baru dengan kemungkinan perubahan karakter yang signifikan dan berbahaya seperti yang dihadapi Tiongkok dan telah dikonfirmasi secara resmi pada Senin (2/1/2023) telah masuk ke Malaysia. Ini, artinya kita bisa saja berjuang kembali dari garis start baru dan mencapai garis finish yang panjang.

Napak Tilas Omicron: Ujian Kesabaran dan Kewaspadaan

COVID-19 berkembang menjadi varian-varian baru mulai dari Alpha, Beta, Gamma, Delta dan Omicron. Saat ini, omicron mendominasi kasus COVID-19. Walaupun tidak separah Delta, masih cukup berbahaya karena memiliki spektrum penyakit lengkap dari tanpa gejala hingga penyakit parah dan kematian. Keparahan terjadi pada kelompok rentan, usia lanjut dan belum divaksinasi.

Bukan varian baru, tapi omicron berkembang menjadi subvarian baru. Subvarian omicron memiliki mutasi spesifik yang kemungkinan membuat lebih mudah menular, menyebabkan keparahan penyakit, atau menghindarkan respons kekebalan dari vaksin. Omicron (B.1.1.529) atau dikenal BA.1 pertama kali terdeteksi di Bostswana dan dilaporkan ke WHO oleh Network for Genomics Surveillance di Afrika Selatan pada 24 November 2021. BA.1 ini berkembang menjadi subvarian baru BA.2, BA.3, BA.4, dan BA.5. Bahkan terjadi percampuran (rekombinasi) genetika virus dari subvarian BA.1 dan BA.2 (XE) yang ditemukan di Inggris pada Januari 2022 dan berpotensi 10% lebih menular daripada BA.2 atau 43-76% daripada BA.1.

Subvarian BA.2 juga berkembang menjadi BA.2.12 dan BA.2.12.1 yang ditemukan di New York, yang lebih menular 23-27% daripada BA.2 dan mendominasi sejak Mei 2022 di AS. Di bulan yang sama, di India ditemukan subvarian BA.2.75 (Centaurus) dan masuk sebagai “Variant Under Monitoring” oleh WHO. Centaurus berkembang menjadi varian BA.2.75.2 (Chiron), yang memiliki sifat menghindari kekebalan vaksin. BA.3 jarang ditemukan dan tidak berkembang ke subvarian baru, walaupun varian ini menyebabkan kegagalan deteksi sama dengan BA.1.

Varian BA.4 dan BA.5, April 2022 ditemukan di Afrika Selatan, Botswana, Denmark, Skotlandia, Jerman, Portugal, Amerika, Prancis dan Inggris, dengan sifat lebih menular dibandingkan BA.2 dan sejak Mei 2022 mendominasi, kemudian menjadi “Variant of Concern”. BA.5 berkembang menjadi BA.5.2.1 yang dilaporkan pada 10 Juli di California dan memicu gelombang baru. Pertengahan Juli, mendominasi di Kanada (termasuk pelacong yang tiba di bandara), Australia, Belgia, Brunei, Yunani dan Islandia. Selain itu, BF.7 (BA.5.2.1.7), turunan lain dari BA.5, terdeteksi pada 4 Oktober di Yantai, Shaoguan, dan mendominasi di Beijing, serta penyebab lonjakan kasus di Tiongkok. Laporan dari Tiongkok menunjukkan BF.7 memiliki kemampuan infeksi terkuat dari subvarian omicron di negara tersebut, lebih cepat menular, memiliki masa inkubasi lebih pendek, dan menyebabkan reinfeksi dan kebal terhadap vaksin. Tapi, tidak berkembang di luar Tiongkok.

Saat ini yang menjadi perhatian adalah munculnya XBB (rekombinasi centaurus dan subvarian BA.2.10.1). Terdeteksi pertama kali pada Agustus 2022 lalu dan mampu menghindari respon kekebalan dari vaksin dan menyebabkan lonjakan kasus di Singapura dan Bangladesh. Pengamatan awal XBB di Singapura tidak terlalu parah dibandingkan dengan BA.5, yang menunjukkan risiko rawat inap 30% lebih rendah. Walaupun mungkin disebabkan karena tingginya populasi yang divaksin dan terinfeksi sebelumnya.

Masih berlanjut, BA.5 berkembang menjadi 2 subvarian baru BQ.1 (Typhon) dan BQ.1.1 (Cerberus) yang cepat menyebar. November 2022, keduanya ditemukan di Prancis. Sekarang ada lebih dari 300 subvarian omicron, diantaranya memiliki kemampuan menghindari kekebalan vaksin atau daya tular tinggi dibandingkan BA.5, termasuk XBB, BF.7, BQ.1 dan BQ.1.1. Omicron saat ini menjadi varian dominan yang beredar secara global, terhitung lebih dari 98% dari urutan virus yang dibagikan di GISAID setelah Februari 2022. Di Indonesia, data Kemenkes akhir November 2022 menunjukkan XBB dan BQ.1 sudah mendominasi kasus COVID-19 sebanyak 90% sedangkan BA.5 hanya 10%.

Banyaknya subvarian omicron yang muncul dan berpotensi berbahaya, penting untuk mengurangi transmisi omicron karena beberapa alasan. Pertama, kita ingin mencegah orang terinfeksi terutama kelompok rentan karena tetap ada risiko keparahan penyakit. Kedua, kita belum memahami sepenuhnya dampak dari kondisi pasca atau long COVID-19. Konsekuensi jangka panjang ini masih banyak yang harus dipelajari. Ketiga, potensi lonjakan kasus akibat omicron akan meningkatkan beban sistem kesehatan dan berdampak pada semua sektor. Keempat, karena kasus masih ada, semakin berpotensi virus beredar di sekitaran kita dan meningkatkan peluang mutasi. Omicron mungkin bukan varian terakhir, akan muncul varian baru terutama yang dikhawatirkan memiliki sifat kebal terhadap vaksin COVID-19.

Strategi komprehensif mengurangi risiko terinfeksi masih diperlukan. Meskipun kebijakan PPKM telah dicabut, tetapi upaya vaksinasi terbukti melindungi terhadap keparahan penyakit dan kematian, walaupun tidak mencegah penularan secara sempurna. Sehingga upaya 3M (Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjauhi kerumunan) masih sangat efektif untuk dikombinasikan dengan vaksinasi terutama vaksin booster. Karenanya, tetap waspada dengan kondisi kesehatan dengan menjalani tes dan memastikan bahwa kita mendapatkan perawatan yang tepat jika diperlukan.

Dus, PPKM boleh saja dicabut tetapi penerapan protokol kesehatan tetap harus dilanjutkan dengan diikuti vaksinasi. Pendekatan berlapis ini dapat menjaga diri kita tetap aman dan juga melindungi orang lain sehingga pencabutan PPKM bukan berarti momentum euforia melainkan tetap sabar dan waspada karena COVID-19 belum benar-benar usai.

 

LAURA NAVIKA YAMANI, Ph.D

Dosen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Ketua Research Center on Global Emerging and Re-emerging Infectious Diseases Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga (RC-GERID ITD Unair)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular