Miris, Cagar Budaya Bukti Umur Surabaya 728 Tahun Dinilai Tak Ada

0

Prof. Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum (atas, tengah) saat mengisi Webinar terkait pentingnya menjaga kelestarian cagar budaya sebagai peninggalan kebudayaan masa lalu, dalam yang diadakan oleh RBC FIB Unair, Selasa (3/8/2021) kemarin. (foto: istimewa)

 

 

SURABAYA – Ruang Baca Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (RBC FIB Unair), gelar webinar bertajuk Bincang Merdeka: Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Melalui platform Zoom Meeting, webinar tersebut diselenggarakan pada Selasa (3/8/2021) kemarin.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum sebagai pembicara memaparkan terkait pentingnya menjaga kelestarian cagar budaya sebagai peninggalan kebudayaan masa lalu.

Guru besar FIB Unair yang mendapat penghargaan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sebagai pemerhati kelestarian cagar budaya tersebut menyebutkan, bahwa kebudayaan merupakan warisan dari anak-cucu kita.

“Jadi bukan warisan untuk mereka yang kita beri dalam keadaan rongsokan misalnya. Justru ini adalah milik mereka yang harus kita rawat, sehingga Kita bisa menghindari hal-hal yang meleset dari pengelolaan kebudayaan tidak terstandar (terawat, Red),” ungkap Purnawan Basundoro.

Purnawan menyoroti, bahwa amat disayangkan ketika kemajuan zaman kemudian berdampak pada hilangnya peninggalan kebudayaan berupa cagar budaya.

“Cagar budaya itu kan menyangkut gedung lama. Sifat dari orang Indonesia yang menginginkan hal-hal baru, maka kemudian gedung tersebut (gedung cagar budaya, Red) dihancurkan,” tutur Purnawan.

Lokasi cagar budaya yang strategis karena terkadang berada di tengah kota, menjadi hal yang menyebabkan para investor “menukarnya” dengan bangunan baru. Menyesali hal itu, Purnawan menyebutkan, seharusnya bangunan cagar budaya dapat dijadikan penanda sejarah.

“Misalnya kita mengaku bahwa umur Kota Surabaya sudah 728 tahun, tapi kita tidak memiliki bukti karena semua bangunan tua sudah dirobohkan,” jelasnya.

Oleh karena itu, sambungnya, kita harus arif untuk mengelola kelestarian cagar budaya di tengah situasi yang terus berkembang dan aspek global yang menekan. Bahkan menurutnya, justru aspek kebudayaan tersebut bisa ditawarkan kepada masyarakat global untuk memperlihatkan kekayaan kita dalam bentuk cagar budaya.

“Jadi justru ada namanya paradoks globalisasi. Di tengah globalisasi justru kan sekarang banyak negara menawarkan aspek-aspek kelokalan. Sehingga kita harus hati-hati, jangan sampai kemudian tawaran sesaat terkait dengan isu global itu akan menghancurkan kekayaan yang bersifat lokal,” terang Purnawan.

Ditambahkan oleh Purnawan, bahwa terdapat dua sisi dari pembangunan yang berpotensi merusak cagar budaya. Karena di sisi lain, pembangunan tersebut memang dapat melayani kepentingan wisatawan global.

“Tapi justru kontraproduktif, karena wisatawan datang ke Indonesia itu kan ingin melihat keunikan budaya yang berkembang di sini,” imbuhnya.

Terakhir, Purnawan berpesan bahwa kita harus arif dalam membuat berbagai kebijakan, agar tidak menjadi fatal.

“Itu (kebijakan, red.) bisa merugikan aspek-aspek yang nilainya bersifat jangka panjang,” pungkas Dekan FIB Unair itu.

(pkip/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.