Berita Terpercaya Tajam Terkini

Mengenal Sosok Rizal Agung Kurnia, Lanjut Studi Filologi Di Rusia Karena Kecintaannya Pada Linguistik

0
Rizal Agung Kurnia berfoto dengan latar belakang salah satu lokasi ternama di Rusia. (foto: dok. pribadi)

 

KAZAN RUSIA – Rizal Agung Kurnia berhasil menjadi salah seorang dari alumni UNAIR yang berkesempatan mengenyam studi magister di luar negeri. Rusia, menjadi negara yang ia pilih untuk studi lanjutnya tersebut.

Situasi politik internasional Rusia dan citra negatifnya telah banyak memantik banyak ketertarikan publik. Tidak terkecuali bagi Rizal. Ia dibuat penasaran dengan negara berjuluk Negeri Beruang Putih itu, dan mulai menjadikan Rusia sebagai bahan skripsinya dan selanjutnya melanjutkan studi magister di sana.

Rizal, sapaan akrabnya, tertarik pada bidang linguistik (ilmu tentang bahasa, Red). Ia mempelajari linguistik melalui Studi Magister Filologi (ilmu tentang bahasa, kebudayaan, dan sejarah suatu bangsa), di Kazan (Volga Region) Federal University atau KFU.

Menurutnya, Rusia memiliki tradisi linguistik yang sangat kuat dan mendalam. Sehingga kamus menjadi barang wajib agar makna suatu kata dapat dipelajari secara menyeluruh. “Bahkan, teman satu kelas yang berbangsa Rusia, juga dituntut untuk menggunakan kamus,” ungkapnya.

“Kamus di sini juga untuk mencari arti kata dan bagaimana ia digunakan. Terkadang, suatu kata memiliki beragam arti dan cara penggunaan. Saya bukan seorang filolog tanpa adanya kamus,” terang Rizal.

Menurut Rizal, Rusia memiliki tradisi ilmu pengetahuan yang serius, kuat, dan mendalam, sehingga memiliki banyak sudut pandang. “Ini yang membuat Indonesia perlu belajar dari Rusia, sehingga dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan,” ujar Rizal.

Belajar di Rusia memang tidak mudah dan perlu keseriusan. Kendati demikian, Rizal menuturkan bahwa ia mulai terbiasa dengan hal itu.

Kesulitan lain yang ia hadapi adalah rumpun bahasa Rusia yang berbeda dengan Indonesia. Bahasa Rusia yang tergolong rumpun Indo-Eropa, menjadikannya memiliki banyak kategori yang rumit. “Namun, bagi saya itu adalah tantangan,” ucap Rizal.

Rizal memang baru menempuh pendidikan magister di Rusia sejak tahun 2020. Namun, setahun sebelumnya ia telah berada di sana untuk mengikuti kelas persiapan.

Selama dua tahun berada di Rusia, Rizal menghadapi tantangan bahasa dan kultur masyarakat. Dimana masyarakat Rusia yang cukup ‘dingin’ namun bukan berarti cuek.

Dinginnya masyarakat Rusia yakni tidak mau mencampuri urusan orang lain selama tidak dilibatkan guna menghormati batas privasi. Itulah yang dipelajari Rizal dari Rusia, di samping ia jatuh cinta pada masyarakatnya yang sangat memperhatikan bahasa mereka.

Diungkap oleh Rizal bahwa ia pernah ditatap dengan mata melotot oleh sekuriti saat mengembalikan kunci sambil tersenyum. “Tersenyum pada orang yang tidak dikenal itu hal yang aneh di Rusia,” papar mahasiswa yang pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia FIB UNAIR itu.

Tantangan lain, yakni musim dingin yang puncaknya di Bulan Desember hingga Februari, suhu minus hingga 35 derajat celcius.

Selain berkuliah, Rizal juga tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (Permira), sebagai staf Kajian Strategis. Selain itu, ia juga menjadi penyiar di program Sehari Bersama Rusia (Siberia) dan Asisten Manager di Radio Perhimpunan Pelajar Indonesia di Dunia (Radio PPI Dunia).

Meski demikian, kesibukan itu tidak menjadi halangan bagi Rizal. Kedua aktivitas tersebut membuatnya semakin mengenal Rusia. “Sehingga tidak ada waktu yang terbuang percuma,” ungkapnya.

Terakhir, ia juga menuturkan bahwa beberapa alumni UNAIR pernah studi di Rusia. Banyak beasiswa yang bisa digunakan. Informasi seputar beasiswa kuliah di Rusia dapat ditemukan pada Facebook Pusat Kebudayaan Rusia, atau Instagram @permiraofficial, serta laman education-in-russia.com.

Rizal berpesan, pelamar beasiswa harus memperhatikan informasi jurusan dan kampus secara terperinci. Hal itu karena program studi di Rusia sangat spesifik.

“Saran saya, jangan hanya baca informasi laman kampus yang berbahasa Inggris, karena informasinya tidak cukup lengkap. Kita perlu baca yang berbahasa Rusia, tapi terjemahkan di aplikasi penerjemahan yang kita punya, itu lebih baik,” pungkas lulusan tahun 2014 program studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) tersebut.

(pkip/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.