Launching Markaz, Alumni IPNU: Muktamar Itu “Ger-ger-an”, Bukan Gegeran!

Ketua MA IPNU Pusat, Prof. Dr. KH. Muhammad Asrorun Ni’am Soleh menyampaikan materi dalam momen launching Markaz MA IPNU pusat di PP Al-Wahabiyah 1, Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026). (foto: Bustomi/Cakrawarta)

JOMBANG, CAKRWARTA.com – Di Momen hari pertama penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) meluncurkan Markaz Majelis Alumni IPNU di Pondok Pesantren Al-Wahabiyah 1, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).

Peluncuran tersebut menjadi bagian dari side event Muktamar NU ke-35 sekaligus ruang pertemuan alumni IPNU dari berbagai daerah. Forum itu dihadiri perwakilan MA IPNU dari sejumlah wilayah di Indonesia serta pengurus IPNU Jawa Timur dan cabang aktif.

Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Sohibul Ma’had Ponpes Al-Wahabiyah 1 Nyai Hj. Mundjidah Wahab sekaligus putri salah satu muassis NU KH Wahab Hasbullah, putra muassis IPNU KH Tolhah Mansur yang juga masih dzurriyah KH Wahab Hasbullah, KH Romahurmuziy, dan Ketua MA IPNU, Prof. Dr. KH. Muhammad Asrorun Ni’am Soleh. Pembahasan tidak hanya berkisar pada keberadaan Markaz Alumni IPNU, tetapi juga menyentuh dinamika Muktamar, kaderisasi, dan masa depan kepemimpinan NU.

Mundjidah Wahab menyambut kehadiran para alumni serta putra-putri pendiri IPNU dan IPPNU di pesantren tersebut. Ia mengaku tidak mengetahui sebelumnya bahwa kegiatan itu akan digelar di Al-Wahabiyah 1.

“Alhamdulillah putra putri pendiri IPNU/IPPNU hadir. Saya saja tidak tahu ada acara ini. Jelas ini kersane Gusti Allah. Berkumpul semua putra putri pendiri IPNU/IPPNU di sini,” kata Mundjidah.

Mundjidah yang pernah menjabat Ketua PC IPPNU Jombang pada 1966 mengatakan dirinya kini berada dalam posisi sebagai pembina dan penasihat. Ia juga mengaku tetap berupaya memberikan kontribusi bagi kegiatan IPNU-IPPNU ketika pernah menjabat Wakil Bupati maupun Bupati Jombang.

“Tiada lelah dalam perjuangan kata Mbah Wahab. Jadi sepanjang bisa memberikan manfaat ya kita lakukan,” ujarnya.

Romahurmuziy: Muktamar Jangan Berubah Jadi Gegeran

Sementara itu, KH Romahurmuziy alias Rommy menilai kehadiran alumni IPNU di Tambakberas memiliki makna simbolik menjelang Muktamar NU.

Menurutnya, kembali ke lingkungan yang memiliki hubungan historis dengan KH Wahab Hasbullah dapat menjadi pengingat bagi seluruh elemen NU agar menjaga suasana Muktamar tetap tertib.

“Simbol kembali ke tempatnya Mbah Wahab adalah seruan seluruh elemen di NU. Agar semua pelaku kegaduhan bisa sadar dan Muktamar berjalan tertib,” ujar Romahurmuziy.

Ia menilai perbedaan dukungan dalam sebuah kontestasi merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya berkembang menjadi pertentangan yang merusak persaudaraan.

“Soal dukung-mendukung mah biasa saja. Saya bahagia karena MA IPNU bisa ikut meramaikan Muktamar dengan penuh khidmat. Damai dan tenang,” katanya.

Romahurmuziy juga menyoroti derasnya percakapan di media sosial menjelang Muktamar. Menurut dia, tidak seluruh suara yang ramai di media sosial layak dijadikan berita atau rujukan dalam melihat dinamika Muktamar.

Ia kemudian melontarkan frasa yang menjadi salah satu pesan utama dalam forum tersebut.

NU harusnya ger-ger-an, bukan gegeran,” kata Romahurmuziy.

Menurutnya, NU perlu memperbanyak doa agar Muktamar berjalan lancar, damai, dan penuh kegembiraan. Ia mengingatkan posisi NU sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia dan dunia memiliki tanggung jawab menjaga moderasi.

Romahurmuziy juga menyampaikan gagasan mengenai mekanisme pemilihan pimpinan PBNU. Ia menilai mekanisme yang memungkinkan proses pemilihan lebih independen, seperti yang ia lihat dalam praktik Muhammadiyah, dapat menjadi bahan pembelajaran bagi NU.

Menurut dia, Tanwir Muhammadiyah memiliki mekanisme pengesahan nama-nama dengan perolehan suara terbanyak yang dinilainya memiliki kemiripan dengan konsep AHWA di NU. Ia berpandangan mekanisme semacam itu dapat memperkuat independensi organisasi dan membuka peluang lahirnya pemimpin terbaik.

Asrorun Ni’am: Jangan Hanya Jadi Penggembira

Pesan mengenai kaderisasi disampaikan Prof. Dr. KH Muhammad Asrorun Ni’am Soleh. Berbicara di lingkungan yang memiliki jejak sejarah para pendiri NU, ia mengingatkan kader IPNU bahwa para muassis NU juga membangun gagasan dan gerakan ketika masih berusia muda.

Ia mencontohkan KH Wahab Hasbullah yang mendirikan Taswirul Afkar pada 1914 ketika berusia sekitar 25 tahun. Menurut Asrorun, usia muda merupakan fase penting dalam pembentukan karakter, gagasan, dan kepemimpinan.

“Teman-teman jangan berleha-leha. Mungkin rekan-rekan jadi Romli alias penggembira saja di Muktamar, tapi dalam satu dua Muktamar ke depan Anda akan jadi aktornya menggantikan yang sekarang jadi aktor itu,” ujar Asrorun.

Ia meminta kader IPNU tidak memandang Muktamar sekadar sebagai ajang menyaksikan kontestasi elite NU. Sebaliknya, generasi muda harus melihatnya sebagai bagian dari proses belajar dan kesempatan untuk menyiapkan diri menjadi pelaku sejarah NU berikutnya.

“Ini adalah gawe kita. Saatnya kita mencatatkan sejarah sebagaimana para muassis mencatatkan sejarah sampai hari ini legacy-nya kita rasakan,” katanya.

Asrorun juga menyoroti pentingnya kepemimpinan NU yang tidak terlalu bertumpu pada figur individual. Menurut dia, kompleksitas persoalan yang dihadapi NU memasuki abad kedua membutuhkan perpaduan berbagai potensi di dalam organisasi.

Ia menyebut pentingnya desakralisasi kepemimpinan individu.

“Yang jadi kapten tak harus striker, misalnya,” ujar Asrorun.

Menurut dia, gagasan mujaddid fardi atau pembaharu individual perlu berkembang menjadi mujaddid institusi. Pembaruan tidak cukup dilakukan oleh satu orang, melainkan harus menjadi kerja kelembagaan secara kolektif dan kolegial.

“Problem saat ini tak bisa dihadapi satu orang saja, tapi kolektif kolegial, berpadu, menjadi kian kokoh,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar mekanisme permusyawaratan dalam Muktamar mampu mengakomodasi beragam potensi yang dimiliki NU. Perbedaan pandangan, kata dia, semestinya menjadi ruang bertukar gagasan, bukan berkembang menjadi permusuhan.

“Ketemu, berdiskusi, bertukar pandangan, berjual beli pendapat. Jadi ketemu esensi musyawarah. Jadinya bukan musyawarah tapi ‘adawah (permusuhan, red.),” ujar Asrorun.

Ia mendorong agar seluruh potensi dalam tubuh NU dapat terlibat dalam kepemimpinan secara kolektif-kolegial. Dengan cara itu, NU dinilai dapat semakin kokoh menghadapi tantangan abad kedua.

Peluncuran Markaz Majelis Alumni IPNU yang ditandai dengan penambahan rebana di Tambakberas akhirnya tidak hanya menjadi agenda pertemuan alumni. Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mengirim pesan menjelang Muktamar NU ke-35 bahwa perbedaan pilihan merupakan bagian dari dinamika organisasi, tetapi persaudaraan dan musyawarah tidak boleh hilang. Ger-ger-an, bukan gegeran.(*)

Reporter: Bustomi

Editor: Abdel Rafi