Thursday, February 22, 2024
HomePolitikaKoalisi Perubahan AMIN Dinilai Kehilangan Roh di Pilpres 2024

Koalisi Perubahan AMIN Dinilai Kehilangan Roh di Pilpres 2024

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Supriyanto asal Ponorogo. (foto: DS)

PONOROGO – Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Supriyanto menyebut Gerakan Perubahan yang digaungkan oleh paslon Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) belum mendapatkan momentum di Pilpres 2024.

Menurut Supriyanto, narasi perubahan yang dibangun oleh pasangan nomor urut 01, berpotensi kehilangan marwahnya. Imbasnya, gerakan politik ini, menurut Supriyanto berpotensi kehilangan makna dan kurang mendapat respon positif dari masyarakat Indonesia.

“Secara elektoral pasangan Anies-Cak Imin berpotensi problematik, stagnan, dan kurang prospektif. Prediksi saya pasangan ini hanya mampu meraih suara di kisaran 15-25 persen,” ujar Supriyanto saat ditemui awak media di Ponorogo, Jumat (22/12/2023).

Anggota BP MPR dari Ponorogo ini menyebut elektabilitas AMIN diprediksi berada di kisaran 15-25%.
Angka tersebut menurut Supriyanto berdasarkan analisis kualitatif dengan mempertimbangkan aspek teknis, diksi, narasi, tagline, slogan, perilaku partai, dan faktor lain yang berpengaruh pada proses pemenangan.

“Secara kontektual diksi perubahan positioning-nya (kedudukan, red.) berada secara diametral atau berhadapan dengan pemerintah. Sedangkan approval rating atau tingkat kepuasan terhadap Presiden Jokowi berada pada kisaran 75-85%,” ujarnya.

“Secara teori kubu Anies-Cak Imin berada pada captive market (ceruk pemilih) di kisaran 15-25 persen, yaitu masyarakat yang tidak puas dengan kinerja pemerintah,” tambahnya.

Anggota Komisi II (Bidang Pemilu) DPR RI ini menyebut tagline gerakan perubahan berpotensi kehilangan rohnya di Pilpres 2024. Sebab, prestasi Anies Baswedan selama menjabat Gubernur DKI Jakarta biasa-biasa saja.

“Bahkan tidak sedikit kalangan yang mempersepsikan Anies Baswedan sebagai figure yang pandai beretorika, dan pintar merangkai kata-kata, namun lemah dalam eksekusinya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Supriyanto menyebut diksi perubahan maknanya berpotensi semakin memudar, dan terasa kurang greget. Sebab Cak Imin, yang didapuk sebagai cawapres Anies Baswedan notabene adalah Ketum PKB, di mana PKB bersama Partai Nasdem saat ini masih masuk dalam jajaran partai pendukung pemerintah.

“Standing point (posisi, Red.) dan arah gerakan perubahan yang digawangi kubu Anies-Cak Imin berpotensi semakin tidak jelas. Apalagi branding gerakan perubahan dicitrakan lebih melekat pada partai Demokrat, karena icon tersebut pernah digunakan SBY pada Pilpres 2004.
Kenyataan-nya Partai Demokrat sekarang berada di kubu pasangan Prabowo-Gibran,” ungkapnya.

Menurut Supriyanto, dalam perspektif politik gerakan perubahan dipersepsikan sebagai kekuatan politik baru yang visioner, membangun narasi kritis, tajam, dan terpercaya untuk mengoreksi kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.

“Gerakan Perubahan harus menyuguhkan kepemimpinan alternatif dengan karakter yang lebih progresif, dan mampu menjawab tantangan zaman,” tegasnya.

Menurut Supriyanto terkait dengan pilpres, kinerja partai pendukung dipengaruhi oleh dinamika perkembangan elektabilitas paslon. Jika elektabilitas capres-cawapres rendah maka kerja partai menjadi melemah dalam membantu pemenangan Pilpres.

“Jika mengacu elektabilitas pasangan AMIN yang cenderung rendah, dan stagnan. Maka kinerja partai pengusung berpotensi tidak bekerja secara optimal dalam membantu pemenangan paslon AMIN pada Pilpres 2024,” pungkasnya.

(DS/RAF)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular