Sunday, March 1, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomEsai Ramadan (11): Menemukan Kembali Fondasi Iman di Tengah Distraksi Medsos

Esai Ramadan (11): Menemukan Kembali Fondasi Iman di Tengah Distraksi Medsos

(foto: foto diri Suhaib Webb dari kanal IG-nya)

“Iman adalah intisari dari semua ibadah; tanpanya, perbuatan hanyalah formalitas kosong.” — Suhaib Webb(54) dalam Essentials of Islamic Faith: For Parents and Teens (SWISS Series 2017)

Dewasa ini, keyakinan beragama sedang diganggu oleh kemayaan digital yang deras dan pesat.

Media sosial umumnya, dengan segala algoritma pengetahuan yang mengalir kencang, telah menjadi ruang baru bagi manusia untuk berinteraksi, belajar, bahkan beribadah.

Namun, di balik kemudahan itu, ada tantangan besar yaitu bagaimana menjaga fondasi iman agar tidak larut dalam arus kemudahan dan distraksi digital.

Puasa di dunia maya, atau puasa media sosial (medsos), jika boleh menyebutnya demikian, menjadi salah satu cara untuk menemukan kembali inti spiritualitas di tengah riuhnya jagat digital.

Suhaib Webb, imam dan cendekiawan Muslim asal Amerika Serikat, adalah salah satu sosok yang menyoroti hal ini.

Lahir pada 29 Juni 1972 di Oklahoma dengan nama asli William Webb dan dibesarkan dalam keluarga Kristen.

Setelah mengalami krisis spiritual remaja, dan sempat aktif di dunia musik hip hop sebagai DJ sebelumnya, ia akhirnya memutuskan masuk Islam.

Setelah menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, ia kemudian menjabat sebagai imam di Islamic Society of Boston Cultural Center (ISBCC), salah satu masjid terbesar di Amerika.

Kini ia aktif sebagai pendidik, pembicara publik, dan kreator konten di berbagai platform digital, seperti YouTube dan situs pribadinya, dengan fokus pada isu-isu keislaman kontemporer, integrasi Muslim di Barat, serta upaya menjembatani tradisi Islam klasik dengan masyarakat modern.

Gaya dakwahnya dikenal membumi dan relevan, sering mengaitkan ajaran Islam dengan realitas sosial di Amerika, sehingga banyak digemari oleh generasi muda Muslim.

Dalam unggahannya di Instagramnya, Suhaib Webb menulis dalam seri Ramadan yaitu “Adab di Atas Algoritma: Pelajaran Ketiga Iman Tidak Dinilai Berdasarkan Kemudahan.”

Kutipan teks IG ini menegaskan bahwa iman bukanlah sesuatu yang bisa diukur dari seberapa mudah atau cepat kita mengakses pengetahuan agama melalui media sosial.

Justru, iman menuntut kesungguhan, disiplin, dan pengorbanan, sebagaimana puasa menuntut pengekangan diri dari hal-hal yang menggoda.

Webb mengingatkan bahwa algoritma digital sering kali menjerumuskan manusia pada ilusi kemudahan.

Padahal, fondasi iman justru ditemukan dalam kesulitan, dalam usaha menahan diri, dan dalam kesadaran penuh terhadap Tuhan.

Puasa medsos, dalam konteks ini, bukan sekadar berhenti menggunakan media sosial.

Ia adalah latihan spiritual untuk menundukkan ego digital, menahan diri dari keinginan untuk selalu tampil, berkomentar, atau mencari validasi.

Dengan berpuasa dari distraksi medsos, seseorang belajar kembali menemukan ruang hening, ruang kontemplasi, dan ruang iman yang tidak bergantung pada algoritma.

Sama seperti puasa Ramadan yang menumbuhkan empati terhadap sesama yang lapar dan haus, puasa distraksi medsos menumbuhkan kesadaran akan kebutuhan jiwa untuk tenang dan fokus pada Tuhan.

Suhaib Webb bahkan mengaitkan praktik ini dengan pendidikan.

Dalam promosi program SWISS Ramadan, ia menekankan pentingnya pendidikan dewasa dan program pemuda yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter iman yang kokoh di tengah dunia digital.

Pesan yang ingin ia sampaikan jelas bahwa iman tidak bisa diukur dari seberapa cepat kita mengakses ceramah atau konten Islami di YouTube, melainkan dari kesungguhan kita dalam menginternalisasi nilai-nilai itu ke dalam kehidupan nyata.

Dengan demikian, menemukan fondasi iman dalam puasa medsos berarti mengembalikan ibadah pada esensinya yakni iman sebagai ruh dari segala amal.

Media sosial bisa menjadi sarana dakwah, pendidikan, dan interaksi, tetapi ia juga bisa menjadi jebakan yang mengikis kesungguhan spiritual.

Puasa distraksi medsos adalah cara untuk menegaskan kembali bahwa iman tidak dinilai berdasarkan kemudahan:

Akan tetapi, berdasarkan kesetiaan, pengorbanan, dan kesadaran penuh terhadap Tuhan saja. Bukan yang lainnya.

#coversong: Lagu “Islamic Faithful Celebration” dibawakan oleh Aldy Fajr dan dirilis pada 21 Desember 2025 oleh label 11 Entertainment, sebagai bagian dari album Islamic Sounds. Lagu ini menekankan pada kegembiraan dan rasa syukur umat Muslim dalam merayakan iman sebagai perayaan spiritual yang kaya serta berakar pada iman, doa, dan rasa damai.(*)

 

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular