
“Memory is the treasury and guardian of all things.“
“Memory is the bridge that connects our present to our past.“ — Frances Amelia Yates (1899-1981), The Art of Memory (1966)
Usai puasa, mungkin jarang orang menyisakan kenangan dan mimpi untuk merenungkan fase uji layak psiko-spiritual.
Mungkin juga dengan asumsi kejarangan itu, apakah cukup urgen untuk menyimak ulang pengetahuan atas hal itu.
Dan tentu di antaranya, perlu ditelisik lagi sekedar dasar psiko-spiritual dari setidaknya dua pakar berikut.
Pertama, Carl Gustav Jung, lahir pada 26 Juli 1875 dan wafat 6 Juni 1961, menuliskan otobiografinya Memories, Dreams, Reflections yang terbit pertama kali pada 1962, setahun setelah ia meninggal.
Dari bukunya dikutip ihwal kenangan, “Pikiran bawah sadar kita, seperti tubuh kita, adalah gudang peninggalan dan kenangan masa lalu.”
Dengan demikian, kutipan Jung dalam Memories, Dreams, Reflections menegaskan bahwa kenangan adalah pengalaman batin yang menyimpan makna eksistensial, bukan sekadar nostalgia sentimental.
Ia adalah bagian dari perjalanan jiwa yang terus beresonansi, bahkan melampaui batas waktu dan ruang.
Jung juga menulis, “Sebagai seorang anak, saya merasa kesepian, dan sampai sekarang pun masih begitu, karena saya tahu banyak hal dan harus memberi petunjuk tentang hal-hal yang tampaknya tidak diketahui orang lain, dan sebagian besar tidak ingin mereka ketahui.”
Kutipan ini menunjukkan bahwa kenangan masa kecil baginya bukan sekadar nostalgia, melainkan kesadaran akan keterasingan eksistensial yang membentuk pandangan hidupnya.
Kenangan, dalam perspektif Jung, adalah refleksi otentik dari perjalanan jiwa, yang sering kali lebih jujur daripada fakta-fakta eksternal.
Hakikat kenangan menurut Jung adalah bahwa ia tidak pernah benar-benar hilang.
Kenangan hidup dalam lapisan tak sadar kolektif, bercampur dengan arketipe universal, dan dapat muncul kembali dalam mimpi atau intuisi.
Karena itu, kenangan bukan hanya milik individu, tetapi juga bagian dari pengalaman manusia secara keseluruhan.
Jung melihat kenangan sebagai pintu menuju pemahaman diri yang lebih dalam, sekaligus jembatan ke dunia transenden.
Dengan demikian, kutipan Jung dalam Memories, Dreams, Reflections menegaskan bahwa kenangan adalah pengalaman batin yang menyimpan makna eksistensial, bukan sekadar nostalgia sentimental.
Ia adalah bagian dari perjalanan jiwa yang terus beresonansi, bahkan melampaui batas waktu dan ruang.
Sementara, Sigmund Freud, lahir 6 Mei 1856 dan wafat 23 September 1939, sebelumnya telah membuka jalan dengan Die Traumdeutung (The Interpretation of Dreams) yang terbit pada 1899.
Dikutip ia mengungkap bab mimpi, “Penafsiran mimpi adalah jalan utama menuju pengetahuan tentang aktivitas bawah sadar pikiran.”
Dengan pandangan ini, mimpi bukanlah sekadar keindahan atau nostalgia, melainkan kode simbolik yang menyimpan pesan dari bawah sadar.
Freud percaya bahwa mimpi adalah kompromi antara keinginan yang ditekan dan mekanisme pertahanan ego, sehingga mimpi sering tampil dalam bentuk simbol, distorsi, atau absurditas.
Hakikat mimpi menurut Freud adalah cermin jiwa yang tersembunyi dimana ia memperlihatkan apa yang tidak bisa diucapkan secara langsung, tetapi tetap mencari jalan untuk hadir.
Karena itu, menafsirkan mimpi berarti menyingkap lapisan terdalam dari diri manusia, sebuah proses yang membuka kemungkinan pemahaman lebih jujur tentang siapa kita sebenarnya.
Dengan kutipan tersebut, Freud menegaskan bahwa mimpi adalah royal road atau jalan utama, menuju pemahaman diri, sebuah hakikat yang menjadikan mimpi bukan sekadar bunga tidur, melainkan jendela menuju dunia batin yang paling intim.
Kedua tokoh ini, meski berseberangan dalam banyak hal, sama-sama menempatkan mimpi sebagai pintu masuk ke dalam dunia batin yang paling dalam, dunia yang sering kali lebih jujur daripada kesadaran sehari-hari.
Mimpi, sebagaimana ditulis dalam “Memories & Dreams”, bukan sekadar bunga tidur yang indah atau nostalgia yang menyakitkan.
Ia adalah semacam tandu jiwa, sebuah wahana yang membawa kita melintasi batas waktu dan ruang, menghubungkan masa lalu dengan masa kini, bahkan membuka kemungkinan masa depan.
Freud melihat mimpi sebagai jalan menuju alam bawah sadar, tempat hasrat dan konflik tersembunyi mencari simbol untuk menampakkan diri.
Jung, sebaliknya, menekankan mimpi sebagai ekspresi dari arketipe dan kolektif tak sadar, sebuah bahasa universal yang menghubungkan manusia dengan pengalaman primordial.
Ketika seseorang bermimpi tentang wajah lama yang tak pernah ditemui lagi selama puluhan tahun, atau tentang tempat asing yang kelak ternyata nyata, pengalaman itu menjadi bukti bahwa mimpi bukanlah ilusi belaka.
Ia adalah memori yang direproduksi dalam bentuk lain, atau bahkan intuisi yang mendahului pengalaman.
Jung sendiri pernah bermimpi tentang lokasi yang kemudian ia temui dalam kehidupan nyata, dan pengalaman itu memperkuat keyakinannya bahwa mimpi adalah jembatan antara dunia batin dan dunia luar.
Kenangan dan mimpi, dalam perspektif ini, menjadi semacam resonansi jiwa. Mereka tidak hanya mengingatkan, tetapi juga menghidupkan kembali, memperluas, dan memperdalam pengalaman manusia.
Nostalgia, yang etimologinya, nostos algos, berarti “sakit karena rindu rumah”, bisa berubah menjadi energi kreatif ketika dikenang dalam cahaya mimpi.
Istilah nostos-algos (nostalgia) pertama kali dipakai pada abad ke-17 oleh seorang dokter Swiss, Johannes Hofer, untuk menggambarkan kondisi psikologis para prajurit yang merasakan sakit fisik dan mental akibat kerinduan mendalam terhadap kampung halaman.
Seperti misal, artis Chen Chen,artis Taiwan kelahiran 1948 kini berusia 77 tahun, yang wajahnya mengundang kembali suasana masa muda mereka yang tumbuh di era kemashurannya.
Kenangan akan hal itu bukan sekadar luka, melainkan juga keindahan yang menumbuhkan spirit jiwa.
Pada akhirnya, baik Freud maupun Jung mengajarkan bahwa mimpi adalah bagian dari eksistensi manusia yang tak bisa diremehkan.
Freud menyingkap lapisan bawah sadar yang penuh konflik, Jung menyingkap arketipe yang menyatukan manusia dengan semesta.
Dalam kontemplasi ini, mimpi dan memori menjadi tanda bahwa jiwa memiliki ritme sendiri, sebuah frekuensi yang menghubungkan kita dengan keabadian.
Seperti yang disebut dalam tradisi Buddha sebagai moksa, atau dalam agama samawi sebagai surga, mimpi dan kenangan adalah kilasan Eden, tempat jiwa berhenti dari kefanaan, dan menemukan dirinya dalam keutuhan yang tenang.
#coversong: Elaine Paige pertama kali merilis lagu “Memory” dari musikal Cats pada tahun 1981, bersamaan dengan produksi West End di London di mana ia memerankan Grizabella. Lagu ini kemudian menjadi single yang dirilis oleh Polydor pada tahun yang sama dan menjadi salah satu show tune paling terkenal di dunia. Lagu Memory diciptakan oleh Andrew Lloyd Webber dengan lirik oleh Trevor Nunn, yang terinspirasi dari puisi T.S. Eliot. Elaine Paige adalah penyanyi pertama yang membawakan lagu ini di panggung publik, karena ia memerankan Grizabella dalam produksi perdana Cats di West End.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



