Monday, February 26, 2024
HomeGagasanJika Hubungan Diplomatik Arab Saudi-Israel Terjalin

Jika Hubungan Diplomatik Arab Saudi-Israel Terjalin

Dasman Djamaluddin

Minggu ini, berita-berita internasional tentang akan terjalinnya hubungan diplomatik Arab Saudi-Israel yang di lapangan didahului hubungan ekonomi, semakin keras gaungnya. Jika benar hal ini terjadi, sudah tentu sekutu Arab Saudi sebagaimana memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, boleh jadi negara tetangga ini, akan bersama-sama juga melakukan hubungan diplomatik dengan Israel. Jika ini yang terjadi, bagaimana masa depan kemerdekaan bangsa Palestina?

Bukti nyata yang dilansir surat kabar asal Inggeris The Times yang mengutip sumber dari Arab Saudi dan Amerika Serikat, mengatakan bahwa tanda-tanda akan dilakukan hubungan ekonomi Arab Saudi-Israel sudah terlihat. Arab Saudi sudah mengizinkan perusahaan Israel beroperasi di Arab Saudi, bahkan membolehkan penerbangan El Al dari Israel melintasi udara Arab Saudi.

Sejak lama Arab Saudi dan negara Arab lainnya, termasuk Iran, ingin agar setelah wilayah Yahudi membentuk negara Israel dan memproklamirkan kemerdekaan pada 15 Mei 1948, mereka ingin juga Palestina memproklamirkan kemerdekaan. Tetapi hingga hari ini tidak terwujud.

Berbagai cara telah dilakukan, yaitu dengan mengangkat duta besar Palestina di beberapa negara, termasuk di Indonesia, tetapi menurut saya, itu hanya secara “de facto,” saja, sedang secara “de jure,” tidak pernah terjadi.

Saya masih ingat cerita Menteri Luar Negeri (Menlu) RI waktu itu dijabat Mochtar Kusumaatmadja di Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, bahwa pemimpin Palestine Liberation Organization (PLO) Yasser Arafat pernah bertemu Presiden Soeharto di Istana Merdeka dan mendesak Pak Harto -sapaan akrab Presiden Soeharto- agar mau menempatkan Duta Besar Palestina di Jakarta.

“Tangan Yasser Arafat memegang pistolnya di pinggang,” ujar Mochtar Kusumaatmadja tanpa menjelaskan lebih lanjut, mengapa Yasser Arafat memegang pistol di pinggangnya.

Selain di Indonesia, sudah banyak duta besar Palestina ditempatkan di berbagai negara. Juga banyak sekali peristiwa yang mendukung berdirinya negara Palestina, namun hal itu masih sebatas “de facto,” belum “de jure.”

Belum jelas perkembangan terakhir dengan diwujudkannya hubungan ekonomi dan boleh jadi akan meningkat kepada hubungan diplomatik antara Arab Saudi-Israel. Apakah Arab Saudi berniat sekali mendukung rakyat Palestina untuk merdeka secara “de facto,” dan “de jure.” Atau sebatas mempertegas sikap Arab Saudi (Sunni) yang menentang keras Iran (Syiah)?

Pada saat ini Arab Saudi dan Israel sama-sama menentang kebijakan yang dilakukan Iran. Menurut saya, cara pandang dalam melihat Iran antara Arab Saudi dan Israel sudah tentu berbeda. Jika Arab Saudi melihatnya lebih didasarkan Sunni dan Syiah, tetapi buat Israel lebih mengkhawatirkan persenjataan Iran yang makin lama semakin modern.

Semula ketika Khomeini datang ke Iran, tidak seorang pun menyangka bahwa Imam berusia lanjut itu bisa merubah peta Iran. Bahkan memproklamirkan sebuah revolusi. Kekuatan Iran semakin kuat setelah kelompok Sunni yang dikomandani Saddam Hussein di Irak, terguling. Awalnya Saddam Hussein (Sunni) mampu memimpin rakyat Irak yang mayoritas Syiah. Tetapi peta politik sekarang, penduduk Syiah Irak kembali lega karena bisa lebih leluasa berkembang.

Pada bulan September 2014, saya ke Irak untuk kedua kalinya. Pertama kali saya ke Irak bulan Desember 1992. Waktu ini Presiden Saddam Hussein masih berkuasa. Tetapi pada kunjungan tahun 2014, Saddam Hussein sudah tidak ada. Beliau sudah tewas digantung.

Kunjugan saya ke Irak bulan September 2014, saya mengunjungi Masjid Ali ra, Al Kufa dan Padang Karbala, di mana putera Ali ra, Hussein dibunuh. Ali ra juga tewas dibunuh di Masjid Al Kufa waktu sholat subuh. Bagi saya, sebagai Sunni yang mempercayai empat sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar ra, Umar ra, Utsman ra dan Ali ra, sudah tentu khalifah terakhir, Ali ra, saya hormati pula.

Hal ini sudah tentu terlepas dari situasi dan kondisi Masjid Al Kufa dan Padang Karbala, yang sudah dipengaruhi Islam Syiah. Syiah memang hanya mengakui Ali ra dan tidak mengakui Abu Bakar ra, Umar ra dan Utsman ra.

Perkembangan dengan kembalinya kekuatan Rusia dan mendukung pemerintahan Iran, merupakan faktor penting pula, mengapa Iran mampu mengekspor revolusinya hingga ke Yaman, perbatasan dengan Arab Saudi. Bukan tidak mungkin dengan perkembangan ini Arab Saudi harus menjalin hubungan baik dengan sekutu Amerika Serikat, yaitu Israel.

Nampaknya tentang masa depan rakyat Palestina, harus ditunggu perkembangan selanjutnya mengenai hubungan Arab Saudi-Israel. Sudah tentu kita pertanyakan pula dimana posisi Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina? Apakah tetap pada kebijakan awal, tidak akan mengadakan hubungan diplomatik dengan Israel?

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis, Sejarawan, dan Penulis Senior

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular