Jelang Muktamar NU, Dzurriyah Muassis Usulkan Tongkat dan Tasbih dalam Pelantikan Pengurus

Para Dzurriyah muassis NU saat menyampaikan keterangan pers di kompleks PP Al Falah Ploso, Kediri, Senin (22/6/2026). (foto: PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

KEDIRI, CAKRAWARTA.com – Menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama pada 2026, sejumlah dzurriyah muassis NU mengusulkan penguatan kembali tradisi, memori sejarah, dan sanad perjuangan organisasi. Salah satu gagasan yang diajukan ialah prosesi penyerahan tongkat dan tasbih dalam setiap pelantikan pengurus NU, dari tingkat pusat hingga daerah.

Usulan itu disampaikan melalui Komite Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama kepada Panitia Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar serta Muktamar NU. Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, KHR Achmad Azaim Ibrahimy, menjadi salah satu tokoh yang menandatangani dokumen rekomendasi tersebut.

Bagi Komite Dzurriyah, tongkat dan tasbih bukan sekadar benda simbolik. Keduanya dipandang sebagai pengingat bahwa kepemimpinan di tubuh NU bertumpu pada amanah, keteguhan, keberanian, tanggung jawab, serta kedalaman spiritual.

Tongkat dimaknai sebagai lambang keteguhan seorang pemimpin dalam memikul amanah organisasi. Adapun tasbih merepresentasikan zikir, keikhlasan, ketawadhuan, dan kedekatan seorang pemimpin dengan nilai-nilai spiritual yang selama ini menjadi fondasi perjuangan NU.

”Jabatan organisasi tidak semestinya dipahami hanya sebagai posisi struktural. Di dalamnya ada amanah untuk melanjutkan perjuangan para ulama pendiri,” demikian substansi pandangan yang disampaikan Komite Dzurriyah dalam dokumen usulan tersebut.

Selain prosesi simbolik itu, Komite Dzurriyah mengusulkan pemutaran Video Dokumenter Napak Tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama dalam berbagai agenda resmi organisasi. Dokumenter itu diharapkan menjadi medium pendidikan sejarah, terutama bagi generasi muda Nahdliyin.

Apabila diterima sebagai rekomendasi Muktamar Ke-35 NU, dokumenter tersebut diusulkan diputar secara berkala dalam forum-forum strategis, antara lain muktamar, musyawarah nasional, konferensi, pelantikan pengurus, kaderisasi, peringatan Hari Lahir NU, serta kegiatan resmi lainnya.

Komite Dzurriyah menilai bahwa organisasi sebesar NU memerlukan ikhtiar yang lebih sistematis untuk merawat kesadaran sejarah. Pemahaman atas proses kelahiran NU dan perjuangan para muassis dipandang penting agar warga organisasi tidak kehilangan orientasi di tengah perubahan sosial dan politik yang bergerak cepat.

Merawat tradisi, dalam pandangan mereka, bukanlah nostalgia terhadap masa silam. Tradisi justru menjadi jalan untuk menjaga identitas, memperkuat kesinambungan nilai, dan memastikan NU tetap berpijak pada mandat keulamaan yang diwariskan para pendirinya.

Penguatan tradisi tersebut juga dimaksudkan sebagai upaya merawat sanad perjuangan NU. Dengan demikian, hubungan antara generasi penerus dan para muassis tidak berhenti sebagai hubungan genealogis atau historis, melainkan hidup dalam praktik kepemimpinan dan kehidupan organisasi sehari-hari.

Dokumen rekomendasi itu turut ditandatangani KH Fahmi Amrullah dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang; KHR Achmad Azaim Ibrahimy dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo; KH Hasib Wahab dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang; serta KH Fakhruddin Aschol dari Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil, Bangkalan.

Melalui rekomendasi tersebut, para dzurriyah muassis berharap Muktamar Ke-35 NU tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan dan penyusunan program organisasi, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kembali akar sejarah, tradisi keulamaan, dan arah perjuangan NU memasuki abad keduanya.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi