Istri Ridwan Kamil Terpapar Covid-19 Walau Sudah Divaksin Dua Kali, Begini Penjelasan Pakar Unair

0 134
Membiasakan diri dengan tetap memakai masker dan membawa hand sanitizer sendiri serta memilih lokasi yang menerapkan kesehatan ketat adalah langkah preventif penting bagi masyarakat untuk melindungi dirinya dari paparan Covid-19. Tampak Diyah Ayu Rachma, seorang warga Surabaya yang tetap memilih ketat dalam menerapkan protokol kesehatan kemanapun dan dimanapun dia berada, salah satunya saat dia berkunjung ke Angkringan Literasi di Surabaya beberapa waku lalu. Ia menyatakan itu penting sebagai bentuk perlindungan diri dan orang-orang sekitarnya. (foto: m. bashroni)

 

SURABAYA – Sabtu (17/4/2021) Kabar terbaru muncul dari istri Gubernur Jawa Barat, Atalia Praratya, yang mengaku terpapar Covid-19 padahal dirinya telah dua kali menjalani vaksinasi. Pengakuan tersebut muncul di akun instagram resmi Atalia, @ataliapr.

“Assalamualaikum akang teteh. Punten ada kabar kurang baik.. Saya positif covid 19. CT 14. Tdk terasa apa2, penciuman normal, hanya kemarin, kepala sedikit pening. Saya pikir karena kehujanan. Keluarga besar pakuan alhamdulillahh termasuk pak gub, arka, adc, walpri, dll non reaktif semua. Mohon dimaafkan, saya jg tdk tahu tertular siapa karena banyak sekali yang saya temui termasuk masyarakat. Kepada yang merasa ada kontak erat dengan saya, mohon sekali utk segera melakukan pemeriksaan ya.. Mohon dimaafkan dan mohon doanya🙏. -Atalia- Day 1, 17 April 2021.” demikian bunyi postingan @ataliapr.

Menarik kasus ini dan jelas menghebohkan publik terutama warganet mengingat Atalia sudah menjalani vaksin Sinovac dua kali. Sesuai data yang redaksi cakrawarta dapatkan, Atalia mendapatkan vaksin pertama pada 4 Maret 2021 dan vaksin kedua pada 18 Maret 2021.

Untuk mendapatkan penjelasan terkait kasus Atalia ini, tim redaksi cakrawarta.com, mencoba menghubungi tim peneliti Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga (ITD Unair) Surabaya, Laura Navika Yamani.

“Soal kasus Bu Atalia itu saya kira wajar. Hal pertama yang perlu dijelaskan adalah beliau mendapatkan dua dosis vaksin Sinovac pada 4 Maret 2021 dan selang dua pekan kemudian sesuai dengan panduan pemberian vaksin Sinovac pada 18 Maret 2021. Ini sesuai hasil uji klinisnya dan memang beda dengan vaksin Astrazeneca yang sesuai hasil uji klinis jeda pemberian dosis kedua 8-12 minggu,” papar lulusan program doktoral dari Kobe University, Jepang itu, Senin (19/4/2021).

Laura menambahkan, bahwa vaksin Sinovac dari data ilmiah menyebutkan bahwa kekebalan tubuh yang bersifat primer baru akan terbentuk pada pekan kedua pasca pemberian dosis pertama. Namun, kekebalan tubuh tersebut akan diperkuat dengan pemberian dosis kedua dengan tujuan membentuk kekebalan yang bersifat sekunder. Sesuai dengan data ilmiah, kekebalan yang bersifat sekunder itu akan terbentuk lebih cepat dari dosis pertama.

“Jadi rentang waktu untuk terbentuknya kekebalan tubuh secara total membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu setelah semua dosis diberikan. Tetapi perlu diingat bahwa kekebalan tubuh belum tentu terbentuk optimal karena daya efikasi Vaksin Sinovac hanya mencapai 63,5%. Jadi kasus Bu Atalia ini ya wajar,” imbuh Laura.

Karena itu, Laura menegaskan bahwa vaksinasi hanyalah salah satu upaya untuk meredam pandemi Covid-19. Ia justru meminta masyarakat patuh pada protokol kesehatan ketat meskipun mereka telah divaksin sebanyak dua kali.

“Paling penting ya tetap Protokol Kesehatan Ketat sebagai upaya preventif utama. Tetapi kasus Bu Atalia menunjukkan bahwa kekebalan tubuhnya bisa saja terbentuk walau belum optimal dan ini bisa dilihat dari status beliau yang menjadi pasien tanpa gejala berat. Hanya gejala ringan. Karenanya saya meminta kepada masyarakat, pasca vaksinasi tetap harus patuhi protokol kesehatan ketat dengan selalu pakai masker, jaga jarak aman dan rajin mencuci tangan serta hindari kerumunan,” pungkas wanita yang juga adalah epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair.

(bus/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.