
SHANGHAI, CAKRAWARTA.com – Kunjungan delegasi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Shanghai memunculkan pesan kuat tentang arah baru diplomasi Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Mahasiswa doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN, Abdullah Rasyid, menilai Indonesia tidak bisa lagi hanya hadir sebagai pasar dalam hubungan internasional, melainkan harus mulai bergerak menjadi negara yang mampu merebut pengetahuan, teknologi, dan pengaruh ekonomi global.
“Kita tidak bisa lagi hanya menjadi pasar. Diplomasi Indonesia harus mampu menghasilkan transfer pengetahuan, teknologi, dan penguatan kapasitas nasional,” kata Abdullah Rasyid, Jumat (8/5/2026).
Delegasi Studi Strategis IPDN yang dipimpin Wakil Rektor IPDN Prof. Hyronimus Rowa dan Direktur Pascasarjana IPDN Prof. Muhadam Labolo diterima langsung oleh Konsul Jenderal RI untuk Shanghai, Berlianto Situngkir.
Menurut Abdullah, kunjungan tersebut memberi gambaran nyata bahwa fungsi perwakilan Indonesia di luar negeri kini jauh lebih strategis dibanding sekadar pelayanan konsuler dan hubungan diplomatik formal.
Ia menyebut Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Shanghai telah berkembang menjadi simpul penting diplomasi perdagangan, investasi, pendidikan, budaya, hingga pengembangan jejaring industri Indonesia di kawasan Asia Timur.
“Diplomasi modern hari ini bukan hanya urusan hubungan antarnegara. Ada pertarungan ekonomi, teknologi, inovasi, dan kualitas sumber daya manusia di dalamnya,” ujar Abdullah.
Dalam forum bersama KJRI Shanghai, sejumlah agenda strategis turut menjadi pembahasan, mulai dari investasi berkualitas, penguatan perdagangan dan pendidikan, pengembangan ekonomi kreatif dan digital, hingga perluasan akses produk UMKM Indonesia ke pasar global melalui pusat perdagangan seperti Yiwu.
Abdullah menilai investasi asing ke Indonesia ke depan harus lebih selektif dan tidak hanya berorientasi pada besarnya modal yang masuk.
Menurut dia, investasi ideal harus mampu menghadirkan transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, penguatan industri nasional, serta peningkatan kapasitas SDM Indonesia.
“Negara yang berhasil bukan hanya yang memiliki sumber daya besar, tetapi yang mampu menghubungkan diplomasi, industri, kampus, dan riset dalam satu arah pembangunan nasional,” katanya.
Ia juga menyoroti mulai menguatnya eksistensi perusahaan Indonesia di Tiongkok.
Di sektor perbankan, Bank Mandiri telah memiliki kantor cabang penuh di Shanghai untuk melayani perdagangan dan pembiayaan korporasi Indonesia–Tiongkok. Sementara BNI hadir melalui kantor perwakilan guna mendukung aktivitas bisnis masyarakat Indonesia di kawasan tersebut.
Di sektor consumer goods, Mayora Group berhasil memperluas penetrasi produknya di pasar Tiongkok melalui Mayora Shanghai. Produk Kopiko bahkan berkembang menjadi salah satu merek global yang dikenal luas di negara tersebut.
Selain itu, Indofood memperkuat distribusi Indomie di wilayah Shanghai dan Tiongkok Timur, sedangkan Kapal Api Global mulai memperluas jaringan kopi kemasan di pasar urban Shanghai.
Abdullah mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan Indonesia mulai masuk ke rantai nilai global melalui produk-produk dengan identitas merek yang kuat.
Namun, menurut dia, tantangan terbesar Indonesia ke depan bukan hanya perdagangan dan investasi, melainkan penguasaan pengetahuan dan teknologi.
Karena itu, ia menilai kerja sama riset dan pendidikan antara Indonesia dan Tiongkok perlu terus diperkuat, terutama di bidang kecerdasan buatan, ekonomi digital, industri kreatif, dan inovasi teknologi.
“Indonesia membutuhkan diplomasi pengetahuan. Kalau tertinggal dalam penguasaan teknologi dan riset, kita akan sulit keluar dari jebakan negara berkembang,” ujar Abdullah.
Ia menambahkan, IPDN memiliki peran penting menyiapkan aparatur pemerintahan masa depan yang tidak hanya kuat secara administratif, tetapi juga memiliki perspektif global dan kemampuan membaca perubahan dunia.
Menurut Abdullah, pemerintah daerah di Indonesia pun kini dituntut mampu membangun jejaring internasional guna mendukung pembangunan wilayahnya masing-masing.
“Kunjungan ke KJRI Shanghai ini memberi pelajaran bahwa pembangunan bangsa modern membutuhkan orkestrasi kuat antara negara, kampus, industri, dan diplomasi,” katanya.(*)
Kontributor: Ahmad Toha A
Editor: Abdel Rafi








