Diplomasi Pendidikan Indonesia Menguat di Asia Tenggara-Pasifik, dari Beasiswa hingga Kolaborasi Riset

Pemaparan peluang riset dan beasiswa Indonesia-Timor Leste dalam Webinar Series Atdikbud & Wadetap RI-UNESCO, (foto: Atdikbud KBRI Dili)

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Indonesia kian menegaskan peran pendidikan sebagai instrumen utama diplomasi di kawasan Asia Tenggara hingga Pasifik Barat. Melalui Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) di KBRI Dili dan KBRI Manila, pemerintah memperluas jejaring kerja sama pendidikan, riset, dan kebudayaan secara lebih terarah dan berdampak.

Upaya tersebut mengemuka dalam forum Webinar Series Atdikbud & Wadetap RI-UNESCO, yang menempatkan pendidikan sebagai pilar diplomasi lunak (soft power) Indonesia di tengah meningkatnya mobilitas pelajar global.

Data UNESCO Institute for Statistics menunjukkan lebih dari 6 juta mahasiswa saat ini menempuh pendidikan lintas negara. Indonesia mencatat sekitar 59.000 mahasiswa belajar di luar negeri pada 2024. Di sisi lain, Indonesia juga semakin dilirik sebagai tujuan studi, terutama oleh negara-negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili, Tasrifin Tahara, mengatakan hubungan Indonesia-Timor Leste kini diarahkan pada program konkret yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah pembukaan kelas khusus Fakultas Kedokteran bagi mahasiswa Timor Leste, serta pengembangan program Vocational Sister School untuk memperkuat pendidikan vokasi di negara tersebut.

“Sering kali kesuksesan kerja sama internasional ditentukan oleh hubungan personal. Diplomasi di meja makan terkadang lebih efektif daripada pertemuan formal,” ujar Tasrifin.

Indonesia tetap menjadi tujuan utama pelajar Timor Leste melalui berbagai skema beasiswa, seperti KNB (Kemitraan Negara Berkembang), Indonesian AID, hingga beasiswa bebas UKT dan fasilitas asrama dari perguruan tinggi.

Pada 2025, tercatat sekitar 350 mahasiswa Timor Leste menerima beasiswa di Indonesia. Secara keseluruhan, sekitar 1.800 mahasiswa Timor Leste tengah menempuh pendidikan di berbagai kampus di Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Salah satu contoh kontribusi datang dari Universitas Hasanuddin yang menyediakan ratusan beasiswa lintas jenjang.

Kerja sama pendidikan Indonesia dengan Papua Nugini juga terus diperkuat. Dalam pertemuan Juli 2024, Presiden RI ke-7 saat itu, Joko Widodo dan Perdana Menteri James Marape membahas peningkatan kolaborasi, termasuk pelatihan dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.

Program beasiswa pemerintah Indonesia, seperti KNB dan Indonesian AID, terbuka bagi mahasiswa Papua Nugini pada jenjang sarjana hingga doktoral, lengkap dengan dukungan biaya hidup, akomodasi, dan pembelajaran bahasa Indonesia.

Selain itu, Indonesia juga membuka akses pendidikan militer bagi perwira muda dan kadet Papua Nugini sebagai bagian dari kerja sama strategis kedua negara.

Sementara itu, Atdikbud KBRI Manila, Nina Yulianti, mengungkapkan pihaknya tengah memetakan sistem pendidikan di Palau dan Kepulauan Marshall.

Langkah ini bertujuan menyelaraskan kontribusi Indonesia terhadap agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya di bidang pendidikan berkualitas.

Meski belum terdapat kerja sama bilateral formal, Indonesia melihat peluang besar melalui pendekatan regional dan multilateral. Ketiga negara terhubung dalam forum seperti Pacific Islands Forum dan Asian Development Bank.

Potensi kerja sama mencakup pemberian beasiswa bagi mahasiswa Pasifik, pertukaran budaya berbasis warisan Austronesia, hingga kolaborasi pelestarian bahasa.

Melalui program The Indonesian AID Scholarship (TIAS), Indonesia membuka akses pendidikan bagi generasi muda di kawasan tersebut. Fokusnya adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia, terutama bagi negara kepulauan yang menghadapi tantangan geografis khas.

Diplomasi Pengetahuan

Sinergi antara KBRI Dili dan KBRI Manila mencerminkan arah baru diplomasi Indonesia yang tidak lagi semata bertumpu pada politik dan ekonomi, tetapi juga pada pertukaran pengetahuan.

Upaya ini sejalan dengan amanat konstitusi untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa, yang kini diperluas melampaui batas teritorial dengan menjadikan pendidikan sebagai jembatan persahabatan dan pembangunan bersama di kawasan.(*)

Editor: Abdel Rafi