Berita Terpercaya Tajam Terkini

Indonesia dan Dunia Peringati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

0

Komisi Nasional (Komnas) Perempuan adalah lembaga negara independen di Indonesia yang dibentuk sebagai mekanisme nasional untuk menghapuskan Kekerasan terhadap Perempuan.

Komnas Perempuan didirikan tanggal 15 Oktober 1998 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 181/1998 yang diperbarui oleh Perpres no 65 dan 66 tahun 2005. Komnas Perempuan merupakan 1 dari 3 lembaga HAM Nasional. Dua Lembaga HAM Nasional lainnya adalah Komnas HAM dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Komnas Perempuan lahir dari tuntutan masyarakat sipil, terutama kaum perempuan kepada pemerintah untuk mewujudkan tanggung jawab negara dalam menangapi dan menangani persoalan kekerasan terhadap perempuan. Tuntutan tersebut berakar dari tragedi kekerasan seksual yang dialami terutama perempuan etnis Tionghoa dalam kerusuhan Mei 1998 di berbagai kota besar di Indonesia.

Dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 25 November 2020, Komnas Perempuan menggelar Kampanye 16 Hari mulai dari 25 November hingga 10 Desember 2020.

Tema besar Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yakni “Gerak Bersama: Jangan Tunda lagi, Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.”

Dalam kampanye 16 hari tahun ini, Komnas Perempuan mengajak berbagai komponen masyarakat untuk membangun strategi pengorganisiran dan menyepakati agenda bersama yakni:

1. Menggalang gerakan solidaritas berdasarkan kesadaran bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran HAM.

2. Mendorong kegiatan bersama untuk menjamin perlindungan lebih baik bagi para survivor atau penyintas (korban yang sudah mampu melampaui pengalaman kekerasan).

3. Mengajak semua orang untuk terlibat aktif sesuai dengan kapasitasnya dalam upaya penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Namun karena pandemi Covid-19 belum memiliki kepastian kapan akan berakhir, maka kegiatan peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan pada tahun 2020 ini dilaksanakan dengan mengacu pada protokol kesehatan.

Sejarah kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau yang disebut 16 Days of Activism Against Gender Violence pada awalnya merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia.

Aktivitas 16 Hari ini pertama kali dilakukan oleh Women’s Global Leadership Institute pada tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership.

Di Indonesia maupun dunia, Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan merupakan agenda tahunan.

Di Indonesia, kampanye ini mulai dilakukan sejak 2003, kerja sama antara Komnas Perempuan bersama organisasi masyarakat sipil.

Dipilihan 16 Hari dari selama 25 November – 10 Desember untuk menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM.

Cerita Perempuan Yazidi Irak yang Mengharukan

Berbicara mengenai penderitaan perempuan dalam rangka memperingati: ” Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan,” maka di dunia, kita ambil contoh terhadap perempuan Yazidi di Irak.

Salah seorang perempuan Yazidi yang bernama Nadia Murad dan penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2018, pernah menceritakan penderitaanya kepada Presiden Irak waktu itu, yaitu Dr. Barham Salih di Istana as-Salam di Baghdad, ibukota Irak pada hari Rabu, 12 Desember 2018. Pada waktu itu, diundang pula para diplomat negara sahabat di Irak.

Presiden Irak yang berasal dari suku Kurdi sudah tentu mendengarkan apa yang dibicarakan Nadia Murad yang baru saja menerima “2018, Nobel Prize Award Ceremony,” pada hari Senin, 10 Desember 2018 di Oslo, Norwegia.

Nadia Murad bernama lengkap Denis Murad  Basee Taha, lahir pada tahun 1993. Di usia relatif muda itu, ia merupakan salah seorang perempuan Yazidi Irak yang menjadi korban pemekorsaan gerilyawan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Itu terjadi ketika ia diculik ISIS pada tahun 2014. Pada waktu itu ISIS sudah merambah ke Suriah dan pada hari Minggu, 29 Juni 2014, mendeklarasikan pembentukan Kekhalifahan Islam.

Nadia Murad tidak sendirian. Ada sekitar 6.500 perempuan Yazidi Irak yang diculik ISIS dan dijadikan budak seks. Untunglah perempuan ini ada yang dilelang termasuk Nadia Murad. Ia kemudian ditebus oleh keluarga Muslim Irak. Pengalaman ini dan keterbukaannya serta ingin berjuang menghentikan kekerasan seksual dalam perang, akhirnya ia pantas menerima Hadiah Nobel Perdamaian 2018.

Awalnya ISIS memang lahir di Irak setelah Presiden Irak Saddam Hussein digulingkan dan dihukum gantung.  Sesudah itu otomatis seluruh Irak diduduki oleh Amerika Serikat (AS). Bermula dari semangat ingin mengusir AS, Al-Qaeda dari Afghanistan dipimpin oleh Abu Mush’ab al-Zarqawi masuk ke Irak.dan membentuk Jama’ah at-Tauhid wal-Jihad.

Selanjutnya mereka bergabung dengan Dewan Syuro Mujahidin Irak.yang terdiri dari delapan kelompok milisi bersenjata Irak. Kemudian tahun 2006, Abu Murah,’ab al-Zarqawi tewas dan digantikan oleh Abu Umar al-Baghdadi, selanjutnya ia mendirikan Negara Islam Irak (ISI) yang berpusat di Baquba, Provinsi Diyala.

Tahun 2010, Abu Umar tewas dan digantikan oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Pada saat terjadi pergolakan di Suriah,  al-Qaeda telah mendukung oposisi dengan membantu Front al-Nusra untuk melawan pemerintahan Suriah pimpinan Bashar al-Assad. Banyak para Mujahidin yang datang dari negara lain termasuk dari Indonesia. Inilah perkembangan ISIS di Irak dan Suriah. Tahun 2014 ketika kelompok ini sedang jaya, pada waktu ini pulalah Nadia Murad diculik.

Pada tahun 2017, Pemerintah Irak mengumumkan ISIS di Irak berhasil dihancurkan. Di Suriah terjadi konflik berkepanjangan dan ISIS pelan pelan juga tersingkir. ISIS yang awalnya ingin mengusir pasukan AS dari Irak, ternyata mendengarkan kesaksian Nadia Murad, mereka juga melakukan tindakan di luar prikemanusiaan. Membunuh dan memperkosa.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.