Berita Terpercaya Tajam Terkini

Ikut Mendukung Radjiman Wedyodiningrat Sebagai Pahlawan Nasional

Dua tahun sebelum Presiden RI Soeharto mengundurkan diri, tepatnya pada 29 Mei 1996, ia mencanangkan “Hari Lanjut Usia Nasional” di Semarang. Dua tahun setelah itu, tepatnya pada 21 Mei 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri.

Pada masa ini, nama Radjiman Wedyodiningrat disebut sebagai tokoh yang di usia lanjut masih mampu memimpin sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang mulai dilaksanakan pada 29 Mei 1945.

Dokter Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T) Radjiman Wedyodiningrat lahir di Yogyakarta, 21 April 1879. Selain sebagai seorang dokter, ia merupakan salah seorang tokoh pendiri Republik Indonesia dan anggota organisasi Boedi Oetomo dan sempat menjadi ketuanya pada tahun 1914-1915.

Tanggal 9 Agustus 1945, Radjiman Wedyodiningrat, Soekarno dan Hatta terbang ke Saigon untuk bertemu dengan Marsekal Hisaichi.

Dalam hal menyosialisasikan kesehatan lanjut usia tahun 2020 ini, Kementerian Kesehatan melakukan kampanye pada peringatan Hari Lanjut Usia Nasional yang jatuh setiap tanggal 29 Mei. Peringatan tahun ini mengusung tema nasional “Negara Hadir untuk Lanjut Usia” dan sub tema bidang kesehatan adalah “Keluarga Sayang Lansia, Keluarga Bahagia”.

Pahlawan Nasional

Dokter Radjiman Wedyodiningrat pada 20 September 1952 meninggal dunia di Ngawi, Jawa Tengah dan dimakamkan di Yogyakarta.

Radjiman Wedyodiningrat adalah Pahlawan Nasional tahun 2013 di masa pemerintahan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebelum memperoleh Pahlawan Nasional diselenggarakanlah Ceramah Tokoh Radjiman Wedyodiningrat: “Pemikiran dan Perjuangannya,” di Museum Perumusan Naskah Proklamasi (bekas Rumah Maeda ) pada, Selasa, 29 Maret 2011. Ceramah itu telah berjalan dengan baik.

Acara ini dihadiri pula Mooryati Soedibyo, waktu itu Wakil Ketua II Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Presiden Direktur Mustika Ratu, sekaligus Cucu Sri Susuhan Pakoe Boewono X Keraton Surakarta.

Kehadiran Mooryati yang nama lengkapnya Hj. BRA. Mooryati Soedibyo itu menunjukkan bahwa jati diri Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat patut menjadi teladan generasi muda bangsa Indonesia.

Rumah kediamannya yang sekarang telah menjadi situs sudah berusia 134 tahun lebih. Begitu dekatnya Radjiman dengan Bung Karno sampai-sampai Bung Karno pun telah bertandang dua kali ke rumah tersebut.

Dalam perjalanan sejarah menuju kemerdekaan Indonesia, dr. Radjiman adalah satu-satunya orang yang terlibat secara akif dalam kancah perjuangan berbangsa dimulai dari munculnya Boedi Utomo sampai pembentukan BPUPKI. Manuvernya di saat memimpin Boedi Oetomo yang mengusulkan pembentukan milisi rakyat di setiap daerah Indonesia (kesadaran memiliki tentara rakyat) dijawab Belanda dengan kompensasi membentuk Volksraad dan dr. Radjiman masuk di dalamnya sebagai wakil dari Boedi Oetomo.

Pada sidang BPUPKI pada 29 Mei 1945, ia mengajukan pertanyaan “apa dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?” Pertanyaan ini dijawab oleh Bung Karno dengan Pancasila. Jawaban dan uraian Bung Karno tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia ini kemudian ditulis oleh Radjiman selaku ketua BPUPKI dalam sebuah pengantar penerbitan buku Pancasila yang pertama tahun 1948 di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Terbongkarnya dokumen yang berada di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi ini menjadi temuan baru dalam sejarah Indonesia yang memaparkan kembali fakta bahwa Soekarno adalah Bapak Bangsa pencetus Pancasila.

Sebagaimana diuraikan di atas, pada tanggal 9 Agustus 1945, Radjiman Wedyodiningrat dan Bung Karno, Bung Hatta ke Saigon dan Da Lat untuk menemui pimpinan tentara Jepang untuk Asia Timur Raya terkait dengan pemboman Hiroshima dan Nagasaki yang menyebabkan Jepang berencana menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, yang akan menciptakan kekosongan kekuasaan di Indonesia.

Di masa setelah kemerdekaan RI, Radjiman pernah menjadi anggota DPA, KNIP dan pemimpin sidang DPR pertama di saat Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dari RIS.

Selain itu, adalah dr. Radjiman yang sebelumnya memperkenalkan istilah yang diucapkan Presiden Amerika Serikat JF Kennedy, ”Jangan pernah tanya apa yang diberikan negara kepadamu, tetapi tanyalah apa yang kamu berikan kepada negara.”

Pada saat acara berlangsung, banyak di antara peserta mengusulkan dr. Radjiman diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Keluarga dr. Radjiman sedikit keberatan kalau usulan datang dari pihak keluarga, karena dr. Radjiman tidak pernah meminta balas jasa. Tetapi mendukung kalau ada di antara bangsa Indonesia mengusulkannya. Sudah tentu saya adalah salah seorang yang ikut mengusul. Pada waktu itu, saya sebagai moderator diskusi sudah tentu setuju untuk mengusulkan agar dokter Radjiman Wedyodiningrat sebagai Pahlawan Nasional. Begitu pula dua pembicara dalam diskusi tersebut, yaitu Dr. Rushdy Hoesein dan cucu Radjiman Wedyodiningrat, yaitu Prof. Dr. dr. Retno Widiowati Soebaryo.

 

Comments are closed.