Hari Libur Hari Kejepit

0
(foto: istimewa)

 

Sejak seminggu lalu, aku sudah mengantisipasi kehadiran tanggal 1 Muharram 1443 Hijriyah. Bahkan, aku membuat satu WhatsApp Grup yang kunamakan “Suhu, Sifu, Sobat”. Dua orang langsung keluar, barangkali akibat aku belum menjelaskan maksudku. WAG itu terkhusus kutujukan kepada kawan-kawan yang sudah emoh, jenuh, atau antipati terhadap WAG, webinar atau tulisan yang berbau politik kekuasaan.

Tentu, aku tak hanya mengundang yang beragama Islam. Tetapi juga beragama lain. Dalam kaitannya dengan Islampun, aku memasukkan sosok-sosok yang memiliki pengalaman, pengetahuan, sampai keyakinan berbeda menyangkut segala sesuatunya. Sosok-sosok yang tatkala berdebat, bakal memercikkan api. Jika tak bersilang kayu di tungku, tak bakal muncul asap dan percikan api.

Bukan tanggal 1 Muharram yang aku mau antisipasi, tetapi 10 Muharram. Bagiku, 10 Muharram adalah cerita pengalaman hidup sepanjang tahun. Sebab, pada tanggal 10 Muharram itulah dirakayasa Festival Tabut di Kota Pariaman, tempat kelahiranku hingga menamatkan sekolah menengah atas. Festival Tabut dirayakan dalam rangka kematian Husein bin Ali Bin Abi Thalib di Padang Karbala oleh pasukan Yazid bib Muawiyyah. Berbau Yahudi (Tabut adalah kotak tempat menyimpat Kitab Taurat dan Tongkat Nabi Musa AS) dan Syiah (Setiap hari adalah Assyura, setiap padang adalah Karbala). Namun, tak satupun orang Pariaman yang bakal mau dikatakan mengadopsi ajaran Yahudi, apalagi Syiah.

Bagiku, Festival Tabut sejak aku kecil itu adalah tungku api beragam pemikiran yang bersumberkan kepada kitab suci, minimal, dua agama. Yakni, Taurat (Yahudi) dan (Islam). Namun, jika dikembangkan lebih jauh, yakni menyangkut sistem matrilineal dalam hubungan kekerabatan orang Pariaman, yakni menganut garus keturunan ibu, tentu juga bermuara kepada kisah Isa Anak Maryam. Kaum lelaki di Pariaman adalah satu-satunya yang “dibeli” oleh kaum perempuan dalam hubungan perkawinan.

Tome Pires dalam buku Suma Oriental (1513-1515) menyebut keberadaan satu suku di pulau dekat Kota Pariaman sebagai “Amazon”-nya dunia timur. Seluruh isi pulau itu hanya berisi perempuan dan anak-anak. Kaum lelaki akan dikembalikan ke Kota Pariaman, setelah menjalani proses perkawinan.

Dalam tambo alam Minangkabau, tanpa dasar yang kuat dari bukti-bukti tertulis, dikisahkan bahwa Bundo Kanduang mengandung (hamil) setelah minum air kelapa gading (kuning emas) yang tumbuh di halaman Istana Pagarruyung. Dari sana sistem matrilineal ditubuhkan. Yang lain, berasal dari seorang putri dari Kerajaan Campa – dekat Kamboja – yang sudah terlebih dahulu menganut sistem matrilineal, lalu menjadi istri dari Dang Tuanku, putra dari Bundo Kanduang. Yang jelas, dari sisi teologi, dengan sama sekali tak menyebut pihak ayah, berumpun kepada Isa bin Maryam yang berhulu kepada Injil.

Tujuanku mengumpulkan ahli-ahli agama dari lintas iman itu, lebih ke arah menyigi dan menggali sumber-sumber yang tingkat validitasnya kuat dari disiplin ilmu sejarah, filologi, linguistik dan arkeologi. Namun, pekerjaan lain lebih mengisi hari-hariku. Sehingga terlupa menyampaikan maksud itu kepada anggota WAG.

Hari Rabu, 11 Agustus, aku berencana menghadiri acara ulang tahun Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Jalan Anggrek Nelly, kantor pusat Partai Golkar. Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto kebetulan memberikan orasi kebangsaan. Sayang, aku terbelit kepada riset tanggung. Aku hanya melihat satu website, tanpa keterangan hari dan tanggal. Kupikir, pidato itu digelar malam hari, pada hari Rabu. Apalagi, satu orang anggotaku mengatakan tanggal itu. Padahal, dalam beberapa hari belakangan, aku berkomunikasi dengan Arya Fernandes, salah seorang peneliti di CSIS. Aku terlambat membuka chat dari Arya yang menyampaikan tanggal dan jam acara dengan detil.

Hari Rabu, aku berpikir adalah hari kerja. Sejumlah orang mengirimkan chat, kenapa aku tidak memberikan ucapan Selamat Tahun Baru Islam. Aku katakan, sudah terlambat. Mereka mengatakan, “Bukankah hari liburnya sekarang?”

Aku tak menyadari, kekusutan apa yang kuingat, dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang itu. Sampai pagi ini, aku buka sejumlah pemberitaan media, ternyata Hari Libur Tahun Baru Islam dipindahkan.

Kesepakatan itu tertuang dalam Surat Keputusan Bersama yang ditanda-tangani oleh Menteri Tenaga Kerja, Menteri Agama, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Sayang sekali, sejumlah pihak hanya “menyerang” Menteri Agama RI. Alasan yang digunakan menurutku sudah sangat tepat, yakni menghindari terbentuknya cluster baru penyebaran Covid 19. Bagaimnapun, jika Hari Libur Tahun Baru Islam itu tetap dilakukan tanggal 10 Agustus 2021 yang jatuh pada hari Selasa, dalam bahasa publik berarti ‘hari kejepit’. Liburan bakal panjang, sejak hari Sabtu, Minggu, Senin (hari kejepit) dan Selasa.

Bagi yang tak memiliki anak-anak yang sedang sekolah jarak jauh, tentu tidak paham maksudku. Setiap pekan, anakku Afzaal Zapata Abhista selalu mengirimkan tanggal-tanggal merah atau hari liburan. Lengkap dengan jadwal liburan yang ada dalam pikirannya. Sebagai penyintas autisisme dengan daya pikir yang luar biasa, Afzaal bahkan beberapa kali mengirim jadwal liburan semester dan bahkan tahunannya. Seolah sekretaris pribadiku, Afzaal bahkan menyantumkan moda perjalanan yang kami pakai, baik di dalam negeri atau ke luar negeri.

Afzaal tidak sampai “menyerang”-ku terkait kekalutan terkait dengan penggeseran Hari Libur Tahun Baru Islam. Yang dikirim Afzaal adalah jadwal liburan sebelum dan setelah Hari Kemerdekaan. Cilaka, ternyata juga ‘hari kejepit’, terhubung 17 Agustus 2021 jatuh pada hari Selasa. Lebih tak diduga lagi, Hari Asyura jatuh pada tanggal 19 Agustus 2021 dalam mesin pencarian google.

Saking tak sadar, hari Rabu kemaren, aku mencari bank yang buka. Ternyata semua bank libur. Padahal, Fadha Dang Sati Ababil, lagi sekolah jarak jauh di rumah. Kenapa Hari Libur Tahun Baru Islam, Fadha justru masuk sekolah? Aku tak sempat bertanya. Aku juga tak mau menyalahkan siapapun.

Dalam musim simulakra, turbulensi, dan lompatan kuantum sedahsyat pandemi Covid 19 ini, jauh lebih terhormat bagiku mencari sendiri alasan-alasan rasional dibalik pengambilan satu keputusan oleh pihak yang memiliki otoritas. Dari masalah naik Haji, hingga Umroh. Kalaupun aku sangat keberatan dengan keputusan yang diambil itu, tentu tersisa apa yang disebut sebagai “hikmah kebijaksanaan” sebagai intisari dari demokrasi di Indonesia. Demi hikmah dan kebijaksanaan itu, aku merasa perlu mencarikan alasan yang paling masuk akal buat anak-anakku, terutama Afzaal Zapata Abhista.

Sesederhana itu.

Jakarta, 1 Agustus 2021

 

INDRA J PILIANG

Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara

Leave A Reply

Your email address will not be published.