
“Cara terbaik adalah mencatat kejadian dari hari ke hari. Buatlah buku harian agar terlihat jelas-misalnya: hari ini tanggal 29 Januari 1932.” — Jean Paul Sastre (1905-1980), La Nausée (1938)
Dengan kalimat ini, Antoine Roquentin, tokoh novel La Nausee (Muak) membuka catatan hariannya, seolah ingin menegaskan bahwa menulis adalah cara untuk memahami apa yang terjadi dalam hidupnya.
Aku harus menuliskan semuanya, setiap detail, agar kelak bisa melihat dengan lebih jernih.
Hari ini, 29 Januari 1932, aku mencatat bahwa sore tadi, di depan sebuah kafe, aku mengambil sebuah batu.
Anak-anak menertawakan gerakku yang tampak canggung, tetapi yang lebih penting adalah apa yang terjadi di dalam diriku.
Ada sesuatu yang menjijikkan, sesuatu yang membuatku muak, meski aku tak lagi tahu apakah itu berasal dari laut atau dari batu yang kugenggam.
Jejaknya samar, namun rasa itu nyata: dunia yang biasanya akrab tiba-tiba berubah asing, seolah menyingkap absurditas yang tersembunyi di balik keseharian.
Rosteine merasa perlu mencatat setiap detail, agar mungkin suatu saat ia bisa melihat dengan lebih jernih.
Segera setelah itu, ia menambahkan bahwa ia tidak boleh melupakan apa yang terjadi, bahwa setiap detail harus dituliskan.
Ada keyakinan samar bahwa dengan menuliskan semuanya, ia akan mampu menyingkap sesuatu yang tersembunyi di balik pengalaman sehari-hari.
Roquentin lalu mengingat sebuah peristiwa sederhana pada sore hari, sekitar pukul empat, di depan sebuah kafe.
Ia mengambil sebuah batu, mungkin dengan gerak yang tampak canggung atau linglung, sehingga anak-anak yang melihatnya tertawa.
Namun yang lebih penting bukanlah tawa anak-anak itu, melainkan apa yang terjadi di dalam dirinya.
Ia merasakan sesuatu yang menjijikkan, meski tidak lagi tahu apakah rasa itu datang dari laut atau dari batu yang ia pegang.
Pengalaman kecil ini, yang tampak sepele, justru menyingkap kegelisahan yang lebih dalam bahwa dunia di sekitarnya tidak lagi terasa akrab, melainkan menghadirkan rasa asing dan jijik.
Monolog ini terus mengalir sebagai suara batin yang penuh introspeksi.
Catatan hariannya bukan sekadar dokumentasi, melainkan usaha untuk memahami pengalaman eksistensial yang muncul dari hal-hal malah paling biasa.
Dari batu yang diangkat di depan kafe, dari tawa anak-anak, dari laut yang bergemuruh, Roquentin mulai merasakan keterasingan yang akan berkembang menjadi mual eksistensial.
Sartre menulis dengan gaya diary untuk menegaskan bahwa absurditas hidup tidak datang dari peristiwa besar, melainkan dari detail keseharian yang tiba-tiba kehilangan makna.
Inilah awal perjalanan filosofis Roquentin, sebuah pencarian yang dimulai dari rasa jijik terhadap dunia yang tampak begitu kebetulan dan tanpa alasan.
Selanjutnya, monolog awal di atas sedikit bergulir.
Dengan nada introspektif, Roquentin tidak berbicara kepada orang lain, tetapi kepada dirinya sendiri, menekankan bentuk jurnal pribadi (buku harian).
Dengan kesadaran waktu, ia menandai tanggal, seolah-olah untuk menegaskan eksistensinya dalam aliran waktu yang absurd.
Sejak awal, Sartre menekankan bahwa pengalaman Roquentin bukan sekadar narasi, tetapi refleksi tentang kontingensi eksistensi.
Eksistensi mendahului esensi. Roquentin memahami dunia tanpa makna yang telah ditentukan sebelumnya; ia harus menuliskannya sendiri untuk “melihat dengan jelas.”
Mual sebagai simbol atau sensasi mual yang akan berkembang sepanjang novel adalah metafora untuk kesadaran akan absurditas kehidupan.
Gaya dan format ebuku harian menempatkan pembaca langsung ke dalam pikiran karakter, bukan narasi objektif.
Kalimat pembuka Roquentin bukan hanya pengantar cerita, tetapi juga deklarasi eksistensial bahwa sejatinya menulis untuk memahami, menandai waktu, dan menghadapi absurditas.
Sartre sengaja memulai dengan monolog sederhana yang segera berkembang menjadi refleksi filosofis yang mendalam tentang makna hidup.
Berikutnya, dari monolog awal Roquentin dalam La Nausée dimulai dengan keinginan sederhana untuk menulis agar dapat melihat jelas, mencatat setiap detail, bahkan hal sepele seperti mengambil sebuah batu di depan kafe.
Namun dari peristiwa kecil itu muncul rasa jijik yang tidak bisa ia pastikan asalnya, apakah dari laut atau dari batu, dan dari situ lahirlah kesadaran akan keterasingan.
Sartre menulisnya sebagai catatan harian yang mengalir, bukan sekadar dokumentasi, melainkan usaha memahami absurditas hidup.
Dunia yang tampak kebetulan, tanpa makna, menimbulkan mual eksistensial yang menjadi inti novel ini.
Monolog awal Roquentin dalam La Nausée dimulai dengan keinginan sederhana untuk menulis agar dapat melihat jelas, mencatat setiap detail, bahkan hal sepele seperti mengambil sebuah batu di depan kafe.
Namun dari peristiwa kecil itu muncul rasa jijik yang tidak bisa ia pastikan asalnya, apakah dari laut atau dari batu, dan dari situ lahirlah kesadaran akan keterasingan.
Sartre menulisnya sebagai catatan harian yang mengalir, bukan sekadar dokumentasi, melainkan usaha memahami absurditas hidup.
Dunia yang tampak kebetulan, tanpa makna, menimbulkan mual eksistensial yang menjadi inti novel ini.
Jika kita tarik ke konteks politik global, pengalaman Roquentin yang merasa dunia tiba-tiba asing dan menjijikkan dapat menjadi metafora bagi masyarakat yang menyaksikan konflik geopolitik hari ini.
Perang yang melibatkan Amerika, Israel, dan sekutunya melawan Iran memperlihatkan bagaimana perebutan kepentingan dan kekuasaan seringkali tampak absurd, menimbulkan rasa muak di kalangan publik yang melihat betapa jauh jarak antara retorika politik dan kehidupan nyata.
Di Indonesia, sikap pemerintah dalam merespons isu ini, khususnya di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, memicu reaksi keras dari netizen.
Banyak yang menilai sikap resmi negara tidak sejalan dengan aspirasi publik, sehingga muncul gelombang komentar negatif yang mencerminkan keterasingan rakyat dari keputusan politik.
Media sosial menjadi semacam diary kolektif, tempat publik menuliskan rasa muak mereka terhadap absurditas politik, sama seperti Roquentin menuliskan mual eksistensialnya.
Isu-isu dalam negeri yang penuh kemaruk dan ketidakpastian memperkuat rasa mual politik ini.
Perebutan kekuasaan, kebijakan yang tampak tidak konsisten, dan ketidakjelasan arah pemerintahan membuat publik merasa dunia politik semakin asing, semakin menjijikkan, dan semakin sulit dipahami.
Sama seperti Roquentin yang tidak bisa memastikan apakah rasa jijiknya berasal dari laut atau batu, rakyat pun tidak bisa memastikan apakah sumber ketidaknyamanan berasal dari kebijakan luar negeri, konflik global, atau dari kerakusan politik dalam negeri.
Yang jelas, rasa muak itu nyata dan mengalir dalam percakapan publik.
Kata nausée sendiri, yang dipilih Sartre sebagai judul, berakar dari bahasa Latin nausea dan Yunani Kuno nausia, yang berarti “mabuk laut” atau “penyakit kapal.”
Dari arti fisik berupa mabuk laut, istilah ini bergeser menjadi metafora untuk rasa jijik, muak, atau ketidaknyamanan eksistensial.
Dalam bahasa modern, ia berarti mual secara medis, tetapi juga muak secara figuratif.
Sartre menggunakannya untuk menandai pengalaman eksistensial
Roquentin yaitu rasa asing, muak, dan terguncang oleh absurditas keberadaan.
“Mual” di sini bukan sekadar gejala tubuh, melainkan simbol kesadaran bahwa dunia tidak memiliki esensi yang tetap.
Dengan demikian, nausée bukan hanya istilah filosofis, melainkan juga cermin bagi kondisi sosial politik kita.
Ia menggambarkan bagaimana publik merasakan mual terhadap absurditas global, terhadap perang yang tampak tanpa ujung, terhadap sikap pemerintah yang dianggap tidak berpihak, dan terhadap politik dalam negeri yang penuh ketidakpastian.
Sama seperti Roquentin yang menulis untuk melihat jelas, publik pun menuliskan rasa muaknya di ruang digital, berharap dari catatan itu lahir kejelasan, meski yang muncul justru semakin kuat kesadaran akan absurditas hidup bersama dalam dunia yang penuh kemaruk dan tanpa arah.l
Banyak yang menilai sikap resmi negara tidak sejalan dengan aspirasi publik, sehingga muncul gelombang komentar negatif yang mencerminkan keterasingan rakyat dari keputusan politik.
Media sosial menjadi semacam diary kolektif, tempat publik menuliskan rasa muak mereka terhadap absurditas politik yang dipasok semena-mena dari algoritme info daring luring. Mirip bagaimana Roquentin menuliskan mual eksistensialnya.
Isu-isu dalam negeri yang penuh kemaruk dan ketidakpastian yang mudah memengaruhi dan memperkuat rasa mual politik ini.
Perebutan kekuasaan, kebijakan yang tampak tidak konsisten, dan ketidakjelasan arah pemerintahan membuat publik merasa dunia politik semakin asing, semakin menjijikkan, dan semakin sulit dipahami.
Sama seperti Roquentin yang tidak bisa memastikan apakah rasa jijiknya berasal dari laut atau batu, rakyat pun tidak bisa memastikan apakah sumber ketidaknyamanan berasal dari kebijakan luar negeri, konflik global, atau dari kerakusan politik dalam negeri.
Yang jelas, rasa muak itu nyata dan mengalir deras, masif, tanpa jeda dalam percakapan publik.
Karena itu, kata nausée sendiri, yang dipilih Sartre sebagai kumparan, berakar dari bahasa Latin nausea dan Yunani Kuno nausia, yang berarti “mabuk laut” atau “penyakit kapal.”
Dari arti fisik berupa mabuk laut, istilah ini bergeser menjadi metafora untuk rasa jijik, muak, atau ketidaknyamanan eksistensial.
Dalam bahasa kontemporer, mual secara medis bisa ditangkal menenggak antasid. Akan tetapi, juga muak secara figuratif bisa berujung bunuh diri.
Sama seperti kasus anak bunuh diri karena tidak punya seragam dan perlengkapan sekolah. Terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis, 29 Januari 2026.
Korban adalah seorang siswa SD berusia 10 tahun yang ditemukan meninggal di kebun milik neneknya
Lebih lanjut, Sartre menggunakannya untuk menandai pengalaman eksistensial Roquentin dengan mengalami rasa asing, muak, dan terguncang oleh absurditas keberadaan.
“Mual” di sini bukan sekadar gejala tubuh, melainkan simbol kesadaran bahwa dunia tidak memiliki esensi yang tetap.
Dengan demikian, nausée bukan hanya istilah filosofis, melainkan juga cermin bagi kondisi sosial politik kita terus bereskalasi tanpa satu isu untuk bisa menenggak rasa muak dari perut ke otak.
Akhirnya, situasi ini menggambarkan bagaimana publik merasakan mual terhadap absurditas global, terhadap perang yang tampak tanpa ujung, terhadap sikap pemerintah yang dianggap tidak berpihak, dan terhadap politik dalam negeri yang penuh ketidakpastian.
Sama seperti Roquentin yang menulis untuk melihat jelas. Publik pun menuliskan rasa muaknya di ruang digital, berharap dari catatan itu lahir kejelasan.
Meski yang muncul justru semakin kuat kesadaran akan absurditas hidup bersama dalam dunia yang penuh kemaruk, disruptif dan tanpa arah.(*)
#coversongs: Naomi Scott (32) merilis single “Sweet Nausea” pada 7 November 2025 sebagai bagian dari album debutnya F.I.G (Fall Into Grace) yang keluar 20 Maret 2026.
Lagu ini menggambarkan perasaan campuran antara keindahan dan ketidaknyamanan, sebuah refleksi emosional yang intim tentang kerentanan dan absurditas hidup.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



