Saturday, January 28, 2023
HomeSains TeknologiKesehatanHampir 70% Tercemar Tinja, Masyarakat Diminta Perhatikan Sumber Air Minum

Hampir 70% Tercemar Tinja, Masyarakat Diminta Perhatikan Sumber Air Minum

 

SURABAYA – Menurut penelitian UNICEF pada Februari 2022 lalu ditemukan bahwa hampir 70% dari 20.000 sumber air minum rumah tangga yang diuji di Indonesia ternyata tercemar limbah tinja. Pencemaran air tersebut turut meningkatkan penyebaran penyakit diare yang merupakan penyebab utama kematian anak balita.

Menanggapi temuan UNICEF tersebut, guru besar bidang kesehatan lingkungan Universitas Airlangga Prof. Dr. Ririh Yudhastuti, drh., M.Sc., menerangkan bahwa apa yang dilakukan UNICEF menjadi bagian dari kampanye sanitasi aman. Tetapi, menurutnya hal yang penting diperhatikan adalah sumber air minum.

Menurut Prof Ririh, setidaknya ada tiga jenis sumber air minum yakni air olahan PDAM, sumur gali, dan tadah hujan. Mungkin kita terbiasa mendengar istilah air kemasan, air isi ulang, serta air sumur.

“Sumber air dari sumur galian semakin dalam sumur maka akan semakin terbebas dari kontaminasi tinja baik itu tinja manusia, hewan, ataupun yang lainnya,” kata Prof Ririh, Rabu (2/11/2022).

Terkait air kemasan bermerk, Prof Ririh menerangkan bahwa usaha air kemasan bermerk sudah masuk skala industri sehingga ada standar yang harus dipenuhi yaitu Hazard analysis and critical control points (HACCP).

“HACCP adalah bentuk penjamin mutu yang sistematis untuk mengidentifikasi bahaya sekaligus bahan yang terkandung dalam suatu produk. Biasanya digunakan untuk controlling bahwa industri air minum sudah melewati HACCP ini. Oleh karena itu salah satu standar HACCP harus mencantumkan tanggal kadaluarsa,” paparnya.

Sementara untuk air isi ulang, Prof Ririh menerangkan bahwa umumnya depo dilakukan inspeksi oleh dinas kesehatan melalui Puskesmas dua kali dalam setahun. Hal itu dilakukan agar penjamah tidak terkena penyakit menular seperti tipes dan TBC. Selain itu juga memastikan tidak ada penularan melalui air atau makanan (food borne diseases). Prof Ririh menyarankan untuk melihat sarana dan prasarana depo. Memeriksa kebersihan dan kehigienisan pencucian galon mereka.

“Walaupun pencucian mereka sudah menawarkan macam-macam seperti ozon atau yang lainnya. Tapi kalau pencucian mereka tidak bersih akan membawa air yang tidak bersih,” tegasnya.

Karena itu, menurut Prof Ririh meminta pihak depo air isi ulang hendaknya melaporkan kepada pihak Puskesmas atau Dinas Kesehatan jika ada sesuatu yang diragukan.

“Sebagai konsumen air isi ulang jika kita masih ragu dengan air yang kita beli di depo isi ulang, sebaiknya merebus air itu selama satu menit dalam suhu 100 derajat celcius agar bersih terhadap mikroorganisme,” sarannya.

Air Minum Dan Kasus Gagal Ginjal Akut

Ditanya terkait kasus gagal ginjal pada anak, menurut Prof Ririh, dirinya belum mendalami hubungan tersebut karena air tidak banyak berkontribusi akan gagal ginjal akut.

“Karena yang penyakit ginjal itu biasanya kronis dan bukan air penyebab utamanya. Biasanya bisa pola makannya,” ucapnya.

Prof Ririh menambahkan bahwa temuan etilen glikol yang menyebabkan gagal ginjal akut itu dikarenakan kandungan asam oksalat yang tajam. Hal tersebut yang merusak tubulus dan glomerulus ginjal secara cepat.

“Dan itu terjadi pada anak-anak karena ginjal mereka masih dalam tumbuh kembang,” tandasnya.

Terakhir, wanita murah senyum ini meminta masyarakat agar memilih air yang secara organoleptik bebas warna, bau dan rasa serta ketika masyarakat ingin menyimpan air panas akan lebih baik apabila disimpan pada wadah kaca atau keramik atau stainless steel.

(bus/pkip/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular