Sunday, March 8, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomEsai Ramadan (18): Menggapai Puncak Ketakwaan Melalui Pengetahuan Irfani

Esai Ramadan (18): Menggapai Puncak Ketakwaan Melalui Pengetahuan Irfani

(foto: kredit foto diunggah dari kanal Youtube @Nooreroshni-bo6xz #sufiqutes #poetry #irfani #sufism #ishqmur)

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, maka haramkanlah surga bagiku. Tetapi jika aku menyembah-Mu semata-mata karena cinta kepada-Mu, maka janganlah Engkau jauhkan aku dari keindahan-Mu yang abadi.” — Rabiah al-Adawiyah dalam Tazkiratul Awliya (Terjemahan 2015) dari Fariduddin Attar (1145-1221 M)

Mengapai puncak takwa melalui pengetahuan irfani berarti menempuh jalan spiritual yang tidak berhenti pada ritual lahiriah, tetapi menuju ke inti ibadah yaitu kembali kepada Allah, ilaihi turja‘un.

Sebagaimana ibadah puasa yang diperintahkan dalam Al-Baqarah ayat 183 adalah sarana untuk mencapai derajat takwa, dan takwa dalam tradisi Islam berkembang menjadi pengetahuan tertinggi yang banyak digali oleh kaum sufi.

Salah satunya, Fariduddin Attar, penyair dan sufi besar Persia yang lahir sekitar 1145 M di Nishapur dan wafat sekitar 1221 M saat invasi Mongol, telah menulis Tazkiratul Awliya sebagai penjabaran pengalaman dan pengetahuan tertinggi (ma‘rifat) itu dari para sufi awal.

Dengan buku ini, selain menulis “Musyawarah Burung” (Manthiq At-Thair), Attar hendak mengungkap kisah-kisah para wali Allah, tokoh sufi besar seperti Hasan al-Basri, Rabi‘ah al-Adawiyah, Al Hallaj, Bayazid al-Busthami, hingga Junaid al-Baghdadi.

Kisah-kisah mereka, para sufi awal itu, dipenuhi hikmah, anekdot, dan teladan spiritual yang menekankan kesederhanaan, pengorbanan, cinta kepada Allah, serta perjuangan melawan hawa nafsu.

Attar ingin agar umat Islam tidak melupakan para wali yang hidupnya telah memperkaya spiritualitas umat dan menjadi teladan dalam cinta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam terjemahan Indonesia, Tadzkiratul Auliya: Kisah-Kisah Ajaib dan Sarat Hikmah Para Wali Allah (2015) menjadikan karya ini relevan hingga kini sebagai pengingat bahwa spiritualitas sejati tidak terlepas dari kepedulian sosial dan cinta universal yang bersumber dari ma‘rifat diri mereka sendiri.

Selain itu, dalam konteks lebih modern dan mutakhir, gagasan irfan ini juga dibahas oleh tiga ulama besar kontemporer asal Iran, Murtadha Muthahhari, Muhammad Husain Thabathabai, dan Ayatollah Ruhullah Khomeini yang juga merupakan guru dari mendiang Sayyid Ali Khamenei, dalam Light Within Me (2008).

Lebih jauh, dalam Light Within Me, Murtadha Muthahhari, Muhammad Husain Thabathabai, dan Ayatollah Ruhullah Khomeini menegaskan bahwa pengetahuan spiritual tertinggi adalah irfan, yang hanya dapat dicapai setelah menapaki tahap burhani (rasional-filosofis) dan bayyani (tekstual-normatif).

Mereka menyebut bahwa para arif sejati dengan irfani telah melampaui batas ilmu kalam, tafsir, dan fiqh, karena irfan itu sendiri adalah jalan menuju penyaksian langsung tentang hakikat Ilahi.

Dalam bagian pengantar tentang irfan, mereka menulis, “Bentuk pengetahuan tertinggi dalam Islam adalah gnosis(irfan), yang datang setelah tahapan bayani dan burhani.

Sementara bayyani bergantung pada teks-teks yang diriwayatkan dan burhani pada bukti-bukti rasional, irfan melampaui keduanya, menuntun pencari kebenaran kepada kesaksian langsung akan realitas ilahi.”

Penjelasan tiap tahapan itu diuraikan berikut:

1/ Bayyani:
Tahap pengetahuan berbasis teks, yaitu Al-Qur’an, hadis, dan tradisi ulama. Di sini, kebenaran dipahami melalui otoritas nash atau wahyu.

2/ Burhani:
Tahap pengetahuan rasional-filosofis, di mana akal digunakan untuk membuktikan kebenaran.

Para filsuf Muslim seperti Ibn Sina dan Mulla Sadra banyak menekankan tahap ini.

Sementara, pengetahuan irfani sebagai tahap tertinggi, di mana pengetahuan tidak lagi sekadar teks atau rasio, melainkan pengalaman langsung melalui penyucian jiwa, dzikir, dan perjalanan spiritual mencapai puncak takwa (khasaf).

3/ Makna irfan dalam konteks sufi, menurut ketiga penulis, hendak menandaskan bahwa pengetahuan irfani bukanlah sekadar cabang ilmu, melainkan jalan hidup dari tarikat hingga pucuk ma‘rifat.

Seorang arif dengan irfani tidak hanya membaca teks atau berdebat dengan logika, tetapi menempuh suluk (perjalanan spiritual) untuk mencapai ma‘rifah (pengetahuan batin).

Karena itu, irfan disebut sebagai “pengetahuan yang disertai penyaksian” (ilm al-hudhuri), dan tentu berbeda dengan ilmu biasa yang bersifat konseptual maupun praksis.

Kata irfan berasal dari bahasa Arab, dari akar kata ‘arafa (عرف) yang berarti “mengetahui”, “mengenal”, atau “menyadari”.

Secara etimologis, ‘irfān (عرفان) berarti “pengetahuan” atau “pengenalan”, khususnya pengenalan yang mendalam dan intuitif terhadap sesuatu yang melampui segala eksistensi dan hakikat.

Dalam konteks Islam, kata ini berkembang menjadi istilah teknis yang merujuk pada pengetahuan batiniah atau gnosis, yaitu pengetahuan yang diperoleh bukan semata-mata melalui teks (bayyani) atau akal rasional (burhani), melainkan melalui pengalaman spiritual langsung.

Makna irfan dalam tradisi sufi adalah ma‘rifah, yaitu pengenalan sejati kepada Allah melalui penyucian jiwa, dzikir, dan perjalanan ruhani.

Seorang ‘arif (orang yang memiliki irfan) bukan hanya mengetahui secara konseptual, tetapi mengalami dan menyaksikan hakikat Ilahi secara langsung.

Karena itu, irfan dianggap sebagai puncak pengetahuan dalam Islam, melampaui ilmu rasional dan tekstual, dan menjadi jalan menuju kedekatan dengan Allah.

Dengan demikian, etimologi kata irfan menunjukkan bahwa ia bukan sekadar “ilmu” dalam arti akademis, melainkan “pengenalan” yang intim, yang menuntun manusia untuk menghayati kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Dalam konteks umat Islam dengan relevansi masa kini, pengetahuan irfan tetap relevan sebagai pengingat bahwa ibadah tidak berhenti pada fase ritual atau argumentasi rasional sekalipun.

Ia harus mencapai titik puncak yang dikenal sebagai fase purgatoris dalam wilayah ibadah batiniyah semata.

Dengan demikian ibadah puisa, zakat, dan shalat adalah sarana kombinasi menuju takwa, tetapi takwa itu sendiri adalah pintu masuk ke irfan.

Dengan irfan, seorang Muslim tidak hanya memahami agama secara tekstual atau rasional, tetapi juga menghayati kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Kesimpulannya, dalam Light Within Me ditegaskan bahwa irfan adalah puncak pengetahuan spiritual dalam Islam, yang hanya dapat dicapai setelah melewati tahap bayyani dan burhani.

Irfan menjadikan manusia bukan sekadar berilmu, tetapi berpengetahuan batiniah yang menyaksikan langsung hakikat Ilahi.

Mereka menjelaskan bahwa ilmu irfan lahir dan tumbuh dalam budaya Islam, dapat pula dilihat dari sudut sosiologis maupun ilmiah.

Perbedaan penting antara ahli irfan dan ahli ilmu Islam lainnya adalah bahwa meskipun mereka sama-sama cendekia, para arif-irfani memilih membentuk jalan spiritual tersendiri.

Dari sudut pandang ilmiah, mereka disebut arif, sementara dari sudut sosial mereka lebih dikenal sebagai sufi.

Namun, sufi bukanlah kelompok religius yang terorganisir, melainkan tersebar di seluruh lapisan umat Islam.

Kini, mereka tumbuh dalam majelis-majelis takbligh yang sangat populer hampir ke seluruh dunia.

Karena itu, pengetahuan irfan menjadi jalan spiritual tertinggi, sebuah pencapaian yang menghubungkan ibadah lahiriah dengan pengetahuan batiniah.

Melalui irfan, ibadah seperti puasa, zakat, dan sedekah tidak hanya menjadi kewajiban ritual, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan solidaritas sosial, kesederhanaan, dan cinta kasih dari sesama kaum beriman.

Dengan demikian, menggapai puncak takwa melalui pengetahuan irfani berarti menempuh jalan menuju Allah dengan cinta, takwa, dan kesadaran bahwa kehidupan spiritual sejati selalu berhubungan dengan kehidupan sosial yang diliputi kasih dan keadilan semata dari rahmat Allah azza wajjalah.

#coversongs: “Ilahi in Makam Ussak” oleh Sufi Music Ensemble pertama kali dirilis pada 1 Februari 2010 dalam album Sufi Music from Turkey, dan kemudian kembali dipublikasikan pada 28 September 2018 oleh ARC/Naxos of America. Lagu ini bermakna sebagai ekspresi spiritual dalam tradisi musik sufi Turki, menggunakan makam Uşşâk yang dikenal bernuansa lembut, penuh kerinduan, dan mengajak pendengar mendekat kepada Allah.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular