
YOGYAKARTA, CAKRAWARTA.com – Pengasuh Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menilai Al-Qanun al-Asasi merupakan salah satu warisan penting Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari yang perlu terus dikaji dan dihidupkan.
Menurut Gus Kikin, warisan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut tidak hanya berupa karya tulis, tetapi juga sistem nilai yang menjadi pijakan dalam membangun tradisi keilmuan, persatuan, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat.
”Al-Qanun al-Asasi bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan fondasi nilai yang harus terus dihidupkan. Di dalamnya terkandung prinsip-prinsip yang membentuk tradisi keilmuan, adab, persatuan dan akhlak, serta tanggung jawab dalam pengabdian kepada umat,” kata Gus Kikin dalam diskusi bersama sejumlah guru besar dan dosen di Yogyakarta, Kamis (30/7/2026).
Ia berpandangan, nilai-nilai yang diwariskan KH Hasyim Asy’ari tetap memiliki relevansi untuk menghadapi perubahan dan tantangan zaman. Karena itu, tradisi intelektual yang dibangun pendiri NU tersebut perlu dirawat sekaligus dikembangkan sebagai salah satu pijakan bagi pendidikan, pemikiran Islam, dan kehidupan kebangsaan.
Diskusi tersebut juga membahas pentingnya menjaga kesinambungan sanad intelektual KH Hasyim Asy’ari melalui penguatan kajian akademik dan penelitian. Upaya itu dinilai penting agar pemikirannya tidak berhenti sebagai warisan sejarah, tetapi terus berdialog dengan persoalan masyarakat kontemporer.
Gus Kikin mengatakan, perguruan tinggi mempunyai posisi strategis dalam membawa khazanah pemikiran KH Hasyim Asy’ari ke dalam kajian ilmiah yang lebih luas. Pengembangan tersebut, menurut dia, tetap perlu dilakukan tanpa melepaskan pemikiran itu dari akar tradisi pesantren yang melahirkannya.
Karena itu, kerja sama antara pesantren, perguruan tinggi, akademisi, dan lembaga pendidikan diperlukan untuk memperkuat penelitian sekaligus memperluas pemanfaatan khazanah intelektual ulama Nusantara.
Sinergi tersebut juga diharapkan dapat menjembatani tradisi keilmuan pesantren dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Forum itu kemudian mendorong penguatan penelitian, dokumentasi, dan diseminasi pemikiran KH Hasyim Asy’ari. Salah satu yang menjadi perhatian ialah pengembangan kajian mengenai Al-Qanun al-Asasi dan relevansinya dalam kehidupan NU ataupun masyarakat yang terus berubah.
Dokumen tersebut memuat sejumlah prinsip yang berkaitan dengan perjuangan, kehidupan organisasi, persatuan, serta etika keilmuan. Nilai-nilai itu dinilai tidak cukup hanya dipahami sebagai bagian dari sejarah berdirinya NU, tetapi juga perlu dibaca kembali sesuai konteks zaman.
Melalui penguatan kajian akademik, warisan intelektual KH Hasyim Asy’ari diharapkan dapat terus berkembang sekaligus menjadi salah satu sumber pemikiran dalam menjawab persoalan keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Kolaborasi pesantren dan perguruan tinggi juga dipandang penting untuk menjaga mata rantai keilmuan ulama Nusantara serta memperkenalkannya kepada generasi baru melalui pendekatan akademik yang lebih sistematis.
Dengan cara itu, Al-Qanun al-Asasi tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan penting dalam perjalanan NU, tetapi juga sebagai khazanah pemikiran yang terus dapat dikaji, diperdebatkan, dan dikontekstualisasikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat masa kini.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








