Gus Kikin: NU Berdiri untuk Menjaga Persatuan, Bukan Memperlebar Perbedaan

Gus Kikin (tengah) aat menyampaikan materi dalam momen PMKNU 1 PCNU Gresik di Gresik, Jawa Timur, Jumat (24/7/2026). (foto: PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

GRESIK, CAKRAWARTA.com – Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan bahwa menjaga sanad keilmuan dan memperkuat persatuan merupakan warisan utama Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari yang harus terus dirawat lintas generasi.

Pesan itu disampaikan Gus Kikin saat memberikan pembekalan kepada peserta Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) Angkatan I yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada 22–26 Juli 2026. Kegiatan tersebut diikuti 72 peserta dari berbagai daerah, termasuk Menteri Agama Nazaruddin Umar yang hadir sebagai peserta istimewa.

“Warisan penting para muassis Nahdlatul Ulama yang harus terus dijaga adalah kesinambungan sanad keilmuan serta kepemimpinan yang mengedepankan semangat persatuan,” ujar Gus Kikin di Gresik, Jumat (24/7/2026).

Menurut Pengasuh Pesantren Tebuireng itu, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari tidak hanya dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, tetapi juga menjadi figur yang berhasil mempersatukan umat Islam melalui keteladanan ilmu dan kepemimpinan.

Ia menuturkan, besarnya pengaruh Hadratussyaikh tercermin dari luasnya jaringan keilmuan yang dibangun. Pada 1942, sekitar 20.000 tokoh besar maupun kecil di Pulau Jawa tercatat sebagai santri Hadratussyaikh.

“Data itu menunjukkan betapa kuatnya tradisi sanad keilmuan yang diwariskan beliau,” kata Gus Kikin.

Di tengah berkembangnya berbagai pemikiran dan arus baru dalam kehidupan keagamaan, Gus Kikin menilai tantangan terbesar umat Islam saat ini bukan sekadar menghadapi perbedaan pandangan, melainkan memastikan setiap proses pembelajaran agama tetap berpijak pada sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW.

Menurut dia, menjaga, melanjutkan, dan mewariskan sanad merupakan ikhtiar mempertahankan otoritas keilmuan Islam sekaligus memastikan nilai-nilai yang diajarkan para ulama tetap hidup di tengah perubahan zaman.

“Ilmu yang terhubung melalui sanad memiliki legitimasi dan keberkahan. Karena itu, kita tidak boleh terputus dari mata rantai keilmuan para ulama,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pesantren Tebuireng hingga kini tetap konsisten merawat tradisi tersebut melalui pengajaran kitab kuning, tradisi pesantren, serta penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Bagi Gus Kikin, pembaruan dalam Islam tidak boleh dimaknai sebagai upaya memutus hubungan dengan tradisi keilmuan yang telah dibangun para ulama. Sebaliknya, pembaruan harus berpijak pada warisan intelektual yang telah terbukti melahirkan peradaban Islam di Indonesia.

“Jika pembaruan justru memutus sanad dan mencabut akar tradisi, maka yang hilang bukan hanya identitas warga Nahdliyin, tetapi juga keberkahan yang diwariskan dari generasi ke generasi,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Gus Kikin juga mengingatkan bahwa kelahiran Nahdlatul Ulama pada 1926 dilandasi semangat memperkuat persatuan umat melalui pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah yang menyeimbangkan dimensi lahir dan batin, serta aspek intelektual dan spiritual.

Karena itu, ia berharap PMKNU mampu melahirkan kader-kader pemimpin yang tidak hanya memiliki kapasitas intelektual, tetapi juga kedewasaan spiritual, sosial, dan kemampuan merawat persatuan di tengah masyarakat.

“Banyak hal yang harus kita pikirkan dan kerjakan. Namun yang paling utama adalah membangun ukhuwah. Wa’tashimu bihablillahi jami’an wa la tafarraqu,” ujar cicit Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari tersebut.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi