Wednesday, April 1, 2026
spot_img
HomePendidikanGus Baha: Ilmu Itu Sudah Barokah, Bahkan Saat Belum Sempurna Diamalkan

Gus Baha: Ilmu Itu Sudah Barokah, Bahkan Saat Belum Sempurna Diamalkan

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. (foto: istimewa)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha menegaskan bahwa ilmu agama memiliki nilai keberkahan tersendiri, bahkan ketika belum sepenuhnya diamalkan oleh seseorang.

Dalam sebuah pengajian yang beredar luas, Gus Baha menjelaskan bahwa seseorang yang diberi ilmu agama sejatinya telah mendapatkan karunia besar dari Allah. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Man yuridi Allahu bihi khairan yufaqqihhu fid din” yang berarti barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka akan dipahamkan dalam urusan agama.

“Piye-piye, ilmu itu sendiri sudah barokah. Orang yang dititipi ilmu itu pilihan,” ujar Gus Baha.

Ia kemudian menyinggung pendapat sahabat Nabi, Abu Hurairah, yang pernah ditanya mengenai periwayat hadis yang belum mampu mengamalkan hadis tersebut. Abu Hurairah menjawab bahwa sekadar meriwayatkan hadis sudah termasuk bagian dari ilmu dan amal.

Menurut Gus Baha, hal itu menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang tetap berjalan, terlepas dari kesempurnaan praktik individu. Ia bahkan memberikan ilustrasi sederhana: seseorang yang mengakui kewajiban shalat Jumat, meski dirinya belum menjalankan, tetap berkontribusi dalam menjaga kebenaran hukum agama.

“Paling tidak, itu menjadi penegasan bahwa Jumat itu wajib. Ilmunya tetap hidup,” katanya.

Gus Baha juga mengingatkan bahwa niat dan kesadaran dalam beragama menjadi aspek penting. Ia menilai, menjalankan ibadah tanpa niat yang benar justru dapat menjadi persoalan yang lebih kompleks.

Lebih lanjut, ia mengutip nadzam yang dinisbatkan kepada ulama klasik, Ibn Ruslan, yang menyebut bahwa orang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya dapat menghadapi konsekuensi berat. Namun, Gus Baha menekankan bahwa pemahaman terhadap teks tersebut tidak boleh berhenti secara parsial.

Ia merujuk pada penjelasan dalam kitab karya al-Ghazali yang menegaskan bahwa Allah tetap memberikan ampunan dan kemuliaan kepada orang berilmu, karena ilmu itu sendiri merupakan pilihan dan titipan dari-Nya.

Gus Baha juga mengutip ayat Al-Qur’an, “Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama” yang berarti sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah para ulama.

Menurut dia, orang berilmu pada hakikatnya memikul beban moral yang tidak ringan. Mereka memiliki kegelisahan terhadap praktik keagamaan di masyarakat, mulai dari keabsahan ibadah hingga tata cara pengurusan jenazah.

“Orang alim itu sebenarnya sudah tersiksa. Dia khawatir kalau ada yang salah dalam praktik agama,” ujarnya.

Ia menegaskan, meskipun seseorang memiliki kekurangan dalam praktik pribadi, komitmen terhadap keberlangsungan ajaran agama tetap menjadi nilai penting yang tidak bisa diabaikan.

“Artinya, meskipun belum sempurna, orang berilmu itu tetap punya komitmen menjaga agama,” kata Gus Baha.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular