Friday, January 9, 2026
spot_img
HomeSains TeknologiKesehatanGejalanya Mirip Flu Biasa, Superflu H2N3 Sudah Ditemukan di 8 Provinsi

Gejalanya Mirip Flu Biasa, Superflu H2N3 Sudah Ditemukan di 8 Provinsi

ilustrasi.

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Kasus superflu yang disebabkan virus Influenza A (H2N3) subclade K telah ditemukan di delapan provinsi di Indonesia. Hingga awal Januari 2026, tercatat 62 kasus terkonfirmasi, dengan Jawa Timur menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 23%.

Dosen Luar Biasa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, mengatakan bahwa secara klinis gejala superflu sulit dibedakan dari influenza pada umumnya.

“Gejalanya mirip flu biasa, seperti demam, batuk, dan pilek. Secara kasat mata hampir tidak ada perbedaan. Namun, bila muncul sesak napas atau keluhan tidak kunjung membaik, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” ujar Windhu, Kamis (8/1/2026).

Menurut dia, untuk memastikan diagnosis superflu diperlukan pemeriksaan lanjutan di laboratorium. Salah satunya melalui Whole GenomeSequencing (WGS) guna mendeteksi keberadaan virus H2N3 pada manusia.

Dari sisi penularan, superflu dinilai memiliki kecepatan penyebaran yang lebih tinggi dibandingkan flu musiman. Meski demikian, Windhu menilai penyakit ini tidak termasuk dalam kategori dengan tingkat keganasan tinggi.

“Angka rawat inap dan fatalitas relatif rendah. Pada individu dengan sistem imun yang baik, penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, masyarakat tetap tidak boleh menganggap remeh,” katanya.

Pencegahan dan Surveilans

Windhu menekankan pentingnya penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah pencegahan utama. Virus superflu menyebar melalui droplet, sehingga kebersihan tangan dan etika batuk serta bersin perlu diperhatikan.

 

Dosen Luar Biasa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Windhu Purnomo. (foto: dokumen pribadi)

“Mencuci tangan secara rutin, menggunakan masker saat sakit, berolahraga teratur, serta istirahat cukup menjadi langkah sederhana yang efektif mencegah penularan,” ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan masyarakat agar cermat dalam menyikapi informasi terkait superflu. Informasi yang tidak akurat berpotensi menimbulkan kepanikan dan kesalahpahaman.

“Pastikan informasi berasal dari sumber yang kredibel. Jangan ikut menyebarkan kabar yang belum terverifikasi,” katanya.

Windhu juga menilai penguatan sistem pemantauan atau surveilans menjadi kunci dalam mengendalikan penyebaran superflu. Pemerintah perlu mencatat dan memantau kasus Influenza Like Illness (ILI) sebagai dasar untuk pemeriksaan lanjutan, termasuk pengujian WGS.

“Masyarakat tidak perlu panik. Pemerintah juga perlu menyampaikan informasi secara proporsional dengan tidak meremehkan risiko, tetapi juga tidak menimbulkan ketakutan,” ujarnya mengakhiri keterangan.(*)

Kontributor: Khefti PKIP

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular