Wednesday, April 17, 2024
HomeSudut PandangFikih Baru Dan Piagam PBB

Fikih Baru Dan Piagam PBB

Dalam perayaan Resepsi Puncak Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke-100 yang dilaksanakan di Stadion Gelora Delta pada 7 Pebruari 2023, Gus Mus dan Yeni Wachid mendeklarasikan Rekomendasi Hasil Muktamar Fiqh Peradaban yang diselenggarakan sehari sebelumnya di sebuah hotel berbintang lima di Surabaya. Paling tidak rekomendasi ini mencakup pandangan NU sebagai berikut.

Pertama, tradisi fikih klasik yang mencita-citakan menyatukan umat Islam dalam sebuah naungan tunggal atau negara khilafah harus digantikan oleh fikih baru demi mewujudkan kemaslahatan umat. Negara khilafah yang menempatkan non-muslim sebagai musuh bukanlah hal yang pantas dilakukan, juga tidak pantas dijadikan aspirasi. Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) disebut sebagai contoh paling meyakinkan bahwa cita-cita dan aspirasi ini telah menyebabkan kekacauan sekaligus bertentangan dengan maqashidus syari’ah.

Kedua, piagam Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) walaupun tidak sempurna dan mengandung masalah dipandang masih memiliki niat baik untuk mengakhiri perang yang amat merusak dan praktik-praktik biadab yang mewarnai sejarah hubungan internasional. Piagam PBB dan PBB dinilai bisa menjadi pijakan paling kokoh bagi pengembangan fikih baru untuk mewujudkan peradaban yang damai, adil dan harmonis.

Deklarasi NU ini perlu dicermati sekaligus disikapi. Pertama, mengatakan bahwa secara konsep khilafah memperlakukan non-muslim secara tidak adil adalah tidak benar, dan secara historis tidak sesuai dengan fakta. Gereja dan sinagog dihormati oleh khilafah, sementara ilmuwan-ilmuwan non-muslim mencapai ketinggian ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) justru selama dibawah kekhalifahan Islam. Kebangkitan Islam justru telah melahirkan peradaban baru yang telah menyelamatkan Eropa dari kegelapan ilmu pengetahuan dan spiritual akibat gereja yang korup. Kehidupan non-muslim jauh lebih baik dalam khilafah daripada dibawah Romawi ataupun Persia. Tentu ada sisi kelam dalam praktek khilafah, tapi menafikan peran khilafah dalam sejarah dunia adalah sikap gegabah.

Perang Dunia I (PD I) mengakhiri khilafah Utsmani. Lalu dunia memasuki era yang penuh konflik karena unfinished business yang ditinggalkan oleh PD I. Segera setelah PBB dibentuk usai Perang Dunia II (PD II), dunia justru memasuki masa yang penuh ketegangan perang dingin antara Amerika Serikat (AS) dan sekutunya melawan Union of Soviet Socialist Republics (USSR). Bahkan PD II hanya bisa diakhiri dengan Bom Atom atas Hiroshima dan Nagasaki.

Kini, North Atlantic Treaty Organization (NATO) yang dipimpin AS menjadikan Ukraina sebagai front baru konflik yang berpotensi meledak menjadi perang nuklir yang pasti akan menjadi Perang Dunia III. Selama kepemimpinan PBB, ekosistem global semakin rusak oleh model pembangunan yang terobsesi pertumbuhan yang dilakukan sebagian besar melalui eksploitasi sumber daya alam di negara-negara miskin. Melalui World Trade Organization (WTO) dan International Monetary Fund (IMF), eksploitasi ini dalam praktek merupakan penjajahan baru yang oleh Bung Karno disebut sebagai penjajahan baru atau neokolonialisme (nekolim). Melalui konsep democracy, reinventing government and new public administration, investasi asing dan hutang menjadi instrumen nekolimik.

Selama 70 tahun lebih dibawah PBB, kita menyaksikan perang Vietnam, dan Korea, lalu di awal abad 21 penghancuran Syiria, Iraq, dan Libya serta pendudukan Afghanistan oleh Rusia dan kekuatan-kekuatan Barat dibawah slogan demokrasi.

Seperti yang dikatakan Blum, demokrasi adalah ekspor AS yang paling mematikan. Bahkan oleh Noam Chomsky, organisasi yang paling berbahaya di planet ini adalah Partai Republik AS, bukan ISIS, Al Qaedah, apalagi HTI dan FPI. Organisasi lain yg bisa menandingi partai Republik AS hanya partai Demokrat AS. Amerika Serikat dibawah Trump atau Biden di dunia adalah semacam Satgas Merah Putih dibawah Sambo di Indonesia.

Benar bahwa kita membutuhkan fikih baru. Tidak cuma itu, kita juga butuh tauhid baru, serta ilmu-ilmu lain termasuk ilmu ekonomi dan ilmu politik serta ilmu pemerintahan baru. Ilmu-ilmu yang kita kenal saat ini terbukti gagal membawa keadilan dan perdamaian, apalagi harmoni. Nubuwah Rasulullah SAW juga yang meramalkan kehadiran pembaharu (mujaddid) setiap seratus tahun atau setiap 1 abad. Setelah keruntuhan khilafah Turki Utsmani pada 1924, umat Islam merindukan kelahiran sang pembaru itu, saat-saat ini. Kerinduan itu valid and legitimate, seperti kerinduan Barat pada kebesaran Romawi.

Seperti dikatakan Iqbal lebih seratus tahun silam, al-Qur’an terlalu lama dilihat dengan sinar dari Yunani, kita memerlukan rekonstruksi pemikiran Islam. Mengambil rekonstruksi fikih baru dari piagam PBB dan PBB yang gagal mewujudkan cita-citanya sendiri adalah jalan yang keliru, jika bukan sesat.

Surabaya, 9 Pebruari 2023

DANIEL MOHAMMAD ROSYID
Founder Rosyid College of Arts

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular