
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Euforia menjelang Hari Raya Idulfitri kerap diiringi peningkatan konsumsi masyarakat. Kebutuhan akan pakaian baru, kue kering, hingga perlengkapan mudik meningkat seiring tradisi silaturahmi dan berkumpul bersama keluarga.
Pakar ekonomi Tika Widiastuti, menilai fenomena tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Menurut dia, berbagai aktivitas khas Lebaran mendorong masyarakat mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan hari biasa.
“Momentum Lebaran memang menghadirkan banyak kegiatan seperti mudik, halal bihalal, hingga menjamu tamu. Ini yang kemudian mendorong peningkatan konsumsi,” ujarnya, Jumat (20/3/2026).
Namun, di balik euforia tersebut, Tika mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada perilaku konsumtif. Dalam perspektif ekonomi, konsumtif merujuk pada pembelian yang didasarkan pada keinginan, bukan kebutuhan, yang kerap dipicu oleh tren atau dorongan sosial.
Ia menambahkan, salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah tidak adanya skala prioritas dalam pengeluaran. Akibatnya, masyarakat cenderung memenuhi berbagai keinginan tanpa mempertimbangkan urgensi dan manfaatnya.
Dalam perspektif ekonomi Islam, kebutuhan dibagi dalam tiga tingkatan, yakni dharuriyah (kebutuhan pokok), hajiyah (kebutuhan penunjang), dan tahsiniyah (kebutuhan pelengkap). “Sering kali yang dipenuhi justru keinginan. Padahal, biaya yang dikeluarkan tidak selalu sebanding dengan manfaat yang diperoleh,” katanya.
Untuk menjaga kondisi keuangan tetap aman, Tika menekankan pentingnya perencanaan sejak awal. Ia menyarankan masyarakat menyusun daftar kebutuhan Lebaran secara rinci, mulai dari biaya transportasi mudik, konsumsi, hingga oleh-oleh bagi keluarga.
Menurut dia, pengelolaan pemasukan tambahan juga perlu diperhatikan. “Jika ada tambahan pendapatan, sebaiknya hanya sekitar 70 persen yang digunakan untuk kebutuhan Lebaran, sementara sisanya disimpan sebagai cadangan untuk kebutuhan tak terduga,” ujarnya.
Selain itu, ia menganjurkan pemisahan anggaran Lebaran dari rekening utama agar pengeluaran lebih terkontrol dan tidak mengganggu kebutuhan pasca-Lebaran.
Lebih jauh, Tika mengingatkan bahwa Idulfitri tidak semata tentang konsumsi, melainkan juga momentum memperkuat kepedulian sosial. Ia mengajak masyarakat menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu sesama.
“Sebagian rezeki yang kita miliki adalah titipan yang bisa dimanfaatkan untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Dengan begitu, Lebaran menjadi lebih bermakna,” pungkas guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga itu.(*)
Kontributor: Khefti
Editor: Abdel Rafi



