Monday, March 2, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomEsai Ramadan (12): Membaca Lagi Puasa Dari Cermin Sosialisme

Esai Ramadan (12): Membaca Lagi Puasa Dari Cermin Sosialisme

(foto: slide tayangan dari kanal Youtube Islamic socialism @WikiWikiup)

“Islam adalah agama persaudaraan dan persamaan. Sosialisme yang sejati tidak lain adalah ajaran Islam itu sendiri.” — Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto (1882-1934), Islam dan Sosialisme (Cetak ulang 2012)

Puasa, khususnya di bulan Ramadan, bukan hanya ritual keagamaan yang menuntut pengekangan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu.

Ia juga dapat dibaca sebagai praktik sosial yang memiliki implikasi pada gagasan sosialisme secara luas dan memadai.

Dalam puasa, setiap individu menanggalkan keistimewaan duniawi, menundukkan ego, dan merasakan solidaritas dengan sesama yang lapar dan haus.

Di sinilah puasa menemukan relevansinya dengan ide sosialisme yang menekankan kesetaraan, keadilan, dan kebersamaan.

Di Nusantara pra Indonesia, HOS Cokroaminoto melalui Sarekat Islam telah mengawalinya dengan merintis gagasan ini.

Dalam Islam dan Sosialisme (1924; cetak ulang 2012), ia menjembatani ajaran Islam dengan sosialisme yang saat itu berkembang di dunia.

Baginya, Islam adalah dasar keadilan sosial, persaudaraan, dan tolong-menolong, yang sejalan dengan cita-cita sosialisme.

Ia mengkritik kolonialisme dan kapitalisme sebagai sumber penderitaan rakyat, lalu menawarkan sosialisme Islami yang berakar pada nilai-nilai agama agar sesuai dengan budaya dan keyakinan rakyat Indonesia.

Buku ini sekaligus menjadi manifestasi ideologis Sarekat Islam, yang di bawah kepemimpinannya tumbuh sebagai organisasi politik terbesar awal abad ke-20.

Dengan demikian, Islam dan Sosialisme bukan hanya karya teoretis, melainkan dokumen politik yang memengaruhi arah gerakan nasional, memperlihatkan Islam sebagai landasan perjuangan sosial sekaligus alternatif terhadap sosialisme Barat.

Secara kontemporer, lain lagi Muhidin M. Dahlan (47) dalam Sosialisme Religius (2000) yang mengulas kelahiran sosialisme di dunia dan di Indonesia, serta perbedaan sosialisme ala Marx, Lenin, Mao, dan Hatta.

Ia menyoroti bagaimana sosialisme bisa dipahami dalam kerangka religius, khususnya Islam, sehingga tidak sekadar ideologi sekuler.

Sosialisme religius digambarkan sebagai “jalan keempat” yang berbeda dari kapitalisme, sosialisme Barat, maupun komunisme, dengan menekankan nilai spiritual dan moral.

Buku ini menyajikan artikel-artikel yang mengaitkan sosialisme dengan agama sebagai basis perjuangan sosial berkeadilan.

Dengan demikian, Sosialisme Religius berfungsi sebagai jembatan antara gagasan sosialisme klasik dan konteks religius di Indonesia.

Gagasan ini pun menandaskan bahwa perjuangan sosial tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai spiritual dan ikut mengikatnya dalam praktek.

Terkait puasa, ulasan Cokroaminoto dan Dahlan dari dua zaman yang berbeda, dapat dirujuk untuk menemukan relevansinya.

Puasa adalah praktik yang menegaskan kesetaraan dimana orang kaya dan miskin sama-sama menahan lapar dan dahaga. Pada hakikatnya, tak ada perbedaan sedikitpun.

Karena itu, puasa pun menumbuhkan solidaritas sosial dan orang yang berpuasa merasakan penderitaan yang sama dialami kaum lemah.

Dengan demikian, dalam perspektif sosialisme, puasa menjadi latihan praktis untuk menumbuhkan empati, mengikis egoisme, dan menegakkan keadilan sosial.

Vincent Geoghegan dalam Socialism and Religion: Roads to Common Wealth (2011) menambahkan perspektif lain.

Ia mengurai bagaimana agama dapat berperan dalam politik progresif, khususnya dalam gerakan Common Wealth di Inggris.

Analisisnya terhadap keagamaan global pasca 9/11 menanyakan bagaimana agama bisa diintegrasikan atau dikritisi dalam masyarakat sekuler modern.

Ia menunjukkan bahwa sosialisme dan agama saling berinteraksi, dan keinginan untuk mengintegrasikan agama ke dalam politik progresif bukanlah hal baru.

Tradisi sosialisme religius sudah lama ada, dan Geoghegan menampilkan signifikansi hubungan itu dalam konteks modern.

Nilai plus dari analisisnya adalah penegasan bahwa agama bisa menjadi sumber moral dan spiritual bagi sosialisme, bukan sekadar hambatan, sehingga membuka jalan bagi common wealth, kesejahteraan bersama yang berakar pada keadilan sosial dan spiritualitas.

Dengan demikian, puasa dapat dibaca sebagai praktik sosialisme dalam bentuk religius yang bisa diterapkan sehari-hari.

Lebih lanjut, Geoghegan menekankan kesetaraan, solidaritas, dan keadilan, sekaligus menjadi latihan spiritual untuk menumbuhkan empati dan cinta kasih.

Dari Cokroaminoto hingga Muhidin M. Dahlan, dan dari Geoghegan hingga tradisi sosialisme religius global, puasa memperlihatkan bahwa jalan spiritual dapat sekaligus menjadi jalan sosial danbmenghubungkan agama dengan perjuangan keadilan dalam kehidupan bersama.

#coversongs: Album “Orang Pinggiran” adalah kolaborasi Franky Sahilatua, Iwan Fals, dan Ian Antono, dirilis pada Juni 1995 di bawah label Ken Project dan Metrotama Records. Makna lagu ini berakar pada kritik sosial. Lagu utama Orang Pinggiran menyoroti kehidupan kaum marjinal, buruh, dan rakyat kecil yang sering terpinggirkan oleh sistem ekonomi dan politik. Liriknya menggambarkan suara mereka yang jarang terdengar, sekaligus menjadi bentuk solidaritas terhadap perjuangan kelas pekerja.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular