Thursday, February 22, 2024
HomeGagasanElit 212, Lucu dan Kurang Kerjaan

Elit 212, Lucu dan Kurang Kerjaan

 

LUCU juga. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan Gerakan Umat 411 dan 212 yang justru diklaim sebagai gerakan perorangan atau sekelompok orang saja. Memang betul yang mengatur acara dan memfasilitasi perijinan dan melakukan gerakan bersih-bersih usai kedua acara adalah pihak-pihak tertentu.

Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa bila umat tidak terpanggil untuk mengikuti aksi. Kehadiran umat dalam dua kegiatan di tahun 2016 itu lebih didorong oleh penistaan terhadap agama Islam yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Melalui pemberitaan media arus utama (mainstream) dan media sosial (medsos) secara massif kejadian penistaan tersebut menggerakkan umat untuk hadir dan terlibat aktif dalam aksi yang menjadi saksi sejarah aksi dengan massa terbesar di Indonesia dan bisa jadi terbesar di dunia. Mencapai sekitar 7 juta massa.

Jutaan massa tersebut dengan biaya sendiri datang berbondong-bondong menuju Monas dan menyuarakan aspirasi mereka yang merasa agama dan kitab sucinya dihinakan.

Kalaupun ada yang dibiayai oleh kelompok tertentu untuk transportasi dan akomodasi, diperkirakan hanya 10 persen dari sekitar 7 juta yang hadir pada tanggal 2 Desember 2016.

Selebihnya hadir dengan kesadaran sendiri. Saya dari Bandung ketika itu hadir bersama keluarga, sanak saudara, serta bertemu dengan teman-teman dari Aceh dan dari Sumatera Barat karena pernah lama di daerah tersebut. Sebagian besar dari mereka hadir bukan digerakkan oleh kelompok yang sekarang mengaku sebagai pendiri ataupun kelompok pemuka agama yang merasa berkepentingan mengajukan rekomendasi calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) atas nama 212.

Kenal ataupun punya hubungan saja tidak dengan mereka. Kalaupun ada nama tokoh nasional atau pemuka agama terkenal, semata dikenal melalui kemunculan mereka di televisi jauh sebelum acara 212.

Lucu dan Kurang Kerjaan

Lucu saja jika sekarang mereka merasa punya hak politik untuk mengatasnamakan umat yang sangat cair tersebut dan berasal dari berbagai suku dan latar belakang paham keagamaan ini.

Mau bukti? Silakan mereka hadirkan umat dalam satu momen sekarang, yakin mereka tidak akan bisa menghadirkan, jangankan satu juta umat, ratusan ribu umat pun sulit, kalau bukan panggilan dari hati seperti Aksi Bela Islam 212 yang ramai karena penistaan terhadap Islam.

Sekelompok elit yang mengaku pendiri dan penggerak tersebut lebih tepat jika dikatakan kurang kerjaan. Seandainya mereka mendirikan partai politik ditanggung tidak akan laku karena bukan itu tujuan umat hadir di aksi 212. Melainkan karena ketulusan dalam membela agama Islam yang dinista. Itu saja.

 

SYAFRIL SJOFYAN

Penulis adalah pengamat sosial, tinggal di Bandung.

RELATED ARTICLES

Most Popular