Berita Terpercaya Tajam Terkini

Bunuh Ego Kita!

 

Banyak sudah saya bertemu dengan orang orang. Ada yang terkenal di keramaian. Ada yang hanya dikenal dalam kesunyian. Ilmuan,Tokoh Politik, Agamawan, Sufi, Kepala Daerah,Menteri dan bahkan mantan Presiden. Pebisnis Multi Billionair, ayah biasa teladan istri dan anak anaknya, seorang Ibu biasa, teladan anak anak dan kebanggan suaminya. Yang menurut saringan saya sebagai manusia biasa adalah “pribadi yang sukses”.

Ribuan jam yang saya habiskan berbincang dengan orang orang, beberapa ratus jam dengan beberapa pribadi sukses tersebut, saya tanya pada mereka apa kiat kiat menjadi sukses dalam prediket sesuai yang saya tulis di paragraph di atas.

Semua menjawab: “Kill Your Ego”. Bunuh Ego Anda. Bunuh Ego kita.

Ada suatu kisah seorang terpandang, anak muda bependidikan tinggi jebolan luar negeri, anak orang berpangkat, levelnya adalah “anak kepala negara”. Ia harus membunuh egonya untuk masuk satu demi satu pintu di suatu markas besar angkatan bersenjata, menunggu ber jam jam di pintu orang pangkat rendahan, hanya untuk mendapatkan satu tanda tangan pejabat rendah tersebut, karena sang anak memerlukan rekomendasi dari si pejabat tersebut. Si anak bisa saja menelpon jenderal bintang empat di markas besar tersebut, karena dia memang mengenal. Tapi tidak. Si Anak tidak melakukan. Ia membunuh egonya. Dia mengantri ber jam jam. Dia memilih sabar.

Ada seorang tokoh politik utama di negeri ini. Dia harusnya menjadi menteri di kabinet Pak Presiden yang terbaru. Pendidikan, kompetensi, dukungan politik parlemen, sokongan dari keluarga besar sangat terhormat di republik Ia kantongi. Presiden menginginkan dia juga. Ketua Umum partai juga demikian. Tapi ia memilih mundur. Ia bunuh egonya. Kenapa? Karena Ia masih muda. Ia baru di partai tersebut. Ada senior yang sudah lama berdarah darah yang menurut timbangan moral dan hatiny jauh lebih berhak. Dia membunuh egonya.

Seorang scientist bereputasi internasional. Memiliki kecerdasan berlippat lipat di atas rerata warga negaranya. Menjadi Presiden. Menyelamatkan negara di tengah badai. Memilih membunuh egonya. Dia bisa saja melawan konspirasi tokoh politik yang menolak pertanggungjawabannya di MPR, menyusun perlawanan politik. Toh kekuasaan masih di tangannya. Ia memilih tidak mau lagi dicalonkan. Ia membunuh egonya.

Seorang Jenderal Bintang 5. Berkuasa 32 tahun. Bisa menggerakkan angkatan bersenjata untuk membunuh dan menangkap semua lawan politiknya. Tapi Ia tidak memilih itu. Ia memilih berhenti dari jabatan Presiden. Ia membunuh Egonya. Kemudian negara tersebut meniiti takdir sejarah menjadi negara yang lebih demokratis dan terbuka.

Seorang Istri. Yang disakiti terus menerus oleh suaminya yang bajingan. Terzalimi hari demi hari. Tapi Ia terus memilih untuk mengabdi pada keluarga kecilnya. Ia memilih membunuh egonya. Setiap hari mendoakan suaminya yang bajingan. Demi masa depan anak anaknya untuk tetap bisa memiliki keluarga yang utuh. Istri tersebut, Sang Ibu itu, membunuh egonya. Akhirnya suaminya kembali ke jalan yang benar. Keluarga itu bahagia dan dua anaknya terbukti sukses menjadi pengusaha sukses dan scientist sukses dalam sejarah Republik Indonesia tercinta.

Ada seorang suami. Yang disakiti sekali saja oleh istrinya. Dia memilih membunuh egonya untuk memaafkan dan melukan kesalahan istrinya padanya. Padahal hak talak ada padanya. Namun Ia memilih mengalahkan ego. Mengubah dirinya menjadi lebih baik. Supaya istrinya juga berubah. Toh Istrinya begitu karena kelakuannya yang tidak baik. Dia hanya punya satu opsi mengubah diri lebih baik supaya istrinya juga bisa menjadi demikian. Senantiasa mendoakan pasangannya yang pernah berbuat nista padanya. Tidak pernah mengungkit ungkit kesalahan pasangan. Membunuh Ego. Kill the ego.

Kini suami itu menjadi salah seorang tokoh terpandang dalam politik kita. Dan istrinya sukses menjadi pengusaha sukses. Mereka kini hidup bahagia. Anak anaknya hafiz Quran. Sang istri memiliki sekolah internasional bernuansa islam. Sukses menjadi idola keluarga keluarga muda di Indonesia.

Ada seorang Menteri. Dia merasa Menteri yang menggantikannya goblok tidak secerdas dirinya. Meskipun sebenarnya Menteri yang menggantikan tersebut ya tidak seperti yang Ia “bayangkan” sejatinya. Setidaknya menurut kaca mata pribadinya saat menjabat.

Sang Menteri yang merasa sukses dalam memerintah itu merasa dia perlu memberi masukan. Banyak penggemarnya yang mengompor ngompori untuk memainkan opini publik menyerang Menteri yang menggantikannya. Tapi sang Menteri memilih membunuh egonya. Dia memilih mendatangi Menteri yang Ia gantikan. Mengantarkan surat pribadi. Membantu konsep konsep dengan pengalamannya yang sukses. Mementori penggantinya. Keep Silent. Sehingga kemudian Menteri yang menggantikannya menjadi sukses. Si Menteri pendahulu memilih membunuh egonya. Akhirnya. Di Negeri dongeng tersebut masyarakat, buruh, pengusaha dan kepala negara gembira karena kementrian tersebut sukses mencapai cita cita kemakmuran rakyatnya.

Pada mereka saya belajar satu hal, mereka sukses karena mereka adalah orang-orang yang berfikir lebih besar daripada sekedar menyukai/ memuaskan diri sendiri.

Apa itu Ego. Saya tidak dalam kesempatan hendak menjelaskan. Silahkan googling. Hare gene.

Anda sebal dengan cerita ini? Kill your Ego. Insyallah Anda akan mendapat hikmah. Anda akan mencapai kebijaksanaan. You Will Reach Wisdom.

ILLINOIS, 25 Januari 2020

 

Comments are closed.