
“Negosiasi bukanlah seni menang, melainkan seni bertahan sampai lawn menyerahkan kemenangan kepada kita.” – Igor Ryzov(49), The Kremlin School of Negotiation (Cetakan ke‑8, 2026)
Eforia kemenangan Spanyol atas juara bertahan Argentina yang mengingatkan Dont Cry Me For Argentina dari kisah Evita Peron yang jadi tema lagu Lloyd Webber dan Tim Rice dengan vokal suara Madona, diikuti dengan lahirnya legenda bola Gen Z, Lamine Yamal (19) sebagai pengganti akhir tragis legenda lama, Lionel Messi (39).
Sekembalinya dari urusan bisnis di Jakarta,ngopi‑nguping bersama Aan Pateda yang juga Sekretaris Buhuta Lamahu Sulut di Lücha Society.
Dengan dua buku sebagai hadiah yang terbuka di meja yaitu Bola, Luka dan Harapan karya
Sindhunata dan The Kremlin School of Negotiation karya Igor Ryzov, lebih mirip sebuah ritual membaca yang melampaui teks.
Meski bukan pengopi, kopi yang mengepul seakan mengikat percakapan penulis dengan Aan tentang bola kaki dan negosiasi sebagai harapan atas takdir berkat atau kutukan dari desain semesta.
Di dua dunia yang sekilas berbeda ini, ternyata sama‑sama berurusan dengan luka, harapan, dan strategi bertahan dalam jalan residu kehidupan kami bersama.
Di Lücha Society, percakapan tentang bola dan negosiasi menjelma refleksi tentang hidup kami sendiri yang terpaut lebih dari lima belas tahun.
Jika bola kaki mengajarkan bahwa harapan lahir dari takdir luka, maka negosiasi mengajarkan bahwa kemenangan lahir dari kesabaran tanpa batas.
Ngopi bersama dua buku itu menjadi pengalaman membaca yang kolektif, di mana setiap tegukan kopi adalah jeda untuk merenungkan, bahwa hidup seperti bola dan negosiasi.
Dan keduanya selalu bergerak antara luka dan harapan atau antara diam dan kata pada tirakat dan takdir masing-masing.
Dengan itu, dua buku sebagai hadiah terindah, saya sajikan dalam resensi ringkas berikut.
Romo Sindhunata, mantan jurnalis sepak bola di koran Kompas dalam buku antologi terbarunya, Bola, Luka dan Harapan (2026), telah menulis sebuah refleksi panjang tentang sepak bola sebagai cermin luka sosial dan politik Indonesia sekaligus ruang harapan kolektif.
Buku ini bukan sekadar kronik pertandingan, melainkan tafsir budaya: bagaimana bola menjadi bahasa penderitaan sekaligus doa.
Sindhunata menganyam narasi tentang sejarah sepak bola Indonesia, tragedi dan kegagalan, serta gairah yang tak pernah padam.
Ia melihat sepak bola sebagai “agama rakyat” yang menyatukan sekaligus melukai.
Luka hadir dalam bentuk kekalahan, korupsi, dan tragedi stadion; harapan muncul dalam mimpi kolektif, nasionalisme, dan solidaritas.
Dalam gaya khas yang puitis‑teologis, alumni doktoral dari Hochschüle Jerman ihwal Ratu Adil, ini mengulas:
“Sepak bola adalah doa yang ditendang ke langit, kadang jatuh sebagai luka, kadang kembali sebagai harapan.”
Kutipan ini merangkum saripati buku: bola bukan sekadar permainan, melainkan metafora kompleks hidupnya sebuah bangsa.
Dalam buku ini pun, ia menyinggung Piala Dunia 2026 sebagai latar global, tetapi fokus utamanya tetap pada pengalaman Indonesia.
Sindhunata menempatkan sepak bola sebagai ruang perjumpaan antara mitos dan realitas, antara politik dan rakyat.
Ia mengingatkan bahwa setiap gol adalah perayaan, tetapi juga bisa menjadi pengingat luka sejarah.
Dengan gaya bertutur reflektif, ia menulis:
“Di lapangan hijau, kita belajar bahwa harapan selalu lahir dari luka; tanpa luka, harapan hanyalah mimpi kosong.”
Kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya menghubungkan sepak bola dengan filsafat dan teologi.
Sindhunata mengajak pembaca melihat bola sebagai simbol eksistensial yaitu manusia yang jatuh, bangkit, dan terus berlari.
Ia menolak melihat sepak bola hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai teks budaya yang harus dibaca dengan kesadaran kritis.
Karena itu, Bola, Luka dan Harapan menjadi lebih dari sekadar buku olahraga. Ia justru menjelma sebagai sebuah refleksi dalam dan telak tentang bangsa, luka sejarah, dan harapan yang terus ditendang ke masa depan.
Berikutnya, Igor Ryzov dalam The Kremlin School of Negotiation (cetakan ke‑8, 2026) menegaskan bahwa inti seni bernegosiasi bukanlah agresi melainkan kesabaran yang dipersenjatai.
Buku ini menyajikan metode Kremlin sebagai strategi sistematis: diam, tekanan psikologis, dan penciptaan ketidakpastian untuk memaksa lawan keluar dari zona nyaman.
Ryzov, lahir di Minsk pada 3 Juli 1977, kini berusia 49 tahun dan masih aktif sebagai pelatih bisnis, penulis, serta pendiri Akademi Negosiasi yang telah melatih ratusan ribu orang.
Ia menekankan bahwa negosiasi adalah “pertempuran tanpa darah” yang menuntut pengendalian emosi, pemahaman lawan, dan kemampuan menunda resolusi.
Lima postulat yang ia uraikan yaitu mendengarkan dalam diam, bertanya untuk menguasai percakapan, menetapkan skala nilai, menggelar “karpet merah” sebagai jalan keluar, dan menciptakan ketidakpastian, menjadi kerangka utama buku ini.
Ryzov menulis dengan gaya yang lugas namun reflektif, sering mengutip tradisi diplomasi Soviet.
Salah satu kutipan Ryzov yang relevan berasal dari Andrei Andreyevich Gromyko, mantan Duta Besar Inggris: “Lebih baik sepuluh tahun bernegosiasi daripada satu hari berperang.”
Kalimat ini, yang pernah diucapkan Gromyko, dijadikan Ryzov sebagai motto bahwa kesabaran adalah senjata paling ampuh.
Ia juga menekankan bahwa kompromi bukan sekadar emosi, melainkan dapat dicapai melalui metode rasional seperti “poligon kepentingan.”
Buku ini tidak hanya membahas teknik, tetapi juga etika dalam setiap orang berhadapan dengan negosiasi.
Ryzov mengingatkan bahwa manipulasi emosional bisa merusak hubungan jangka panjang jika tidak digunakan dengan hati‑hati.
Dengan demikian, The Kremlin School of Negotiation menjadi panduan praktis sekaligus refleksi filosofis tentang kekuasaan, kesabaran, dan seni berbicara dalam diam.(*)
#coversongs: Madonna merilis “Don’t Cry for Me Argentina” pada 16 Desember 1996 sebagai bagian dari soundtrack film Evita, di mana ia memerankan Eva Perón. Lagu ini bukan sekadar balada pop, melainkan sebuah deklarasi emosional yang menegaskan hubungan Eva dengan rakyat Argentina, meminta mereka untuk tidak meratapinya.
Resto-Kafe Lücha Society, Manado 22 Juli 2026
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan






