
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Dari gang-gang sempit di kawasan Mojo, Kecamatan Gubeng, Surabaya, kelompok pemuda RW 04 Mojo menorehkan bukti nyata bahwa keberanian bukan hanya soal melawan, tapi juga tentang mandiri dan berdaya. Bermula dari hidroponik sawi dan budidaya cabai serta tomat kecil-kecilan pada 2022, kini inisiatif warga itu meluas menjadi usaha produktif yang menopang perekonomian lingkungan.
Sejumlah usaha yang dikelola warga menunjukkan perkembangan signifikan. Budidaya ayam kampung menghasilkan penjualan hingga 150 butir telur per hari, sementara budidaya ikan patin memenuhi permintaan sampai 6 kilogram per hari. Produk-produk ini dipasarkan langsung oleh kelompok, membantu menambah penghasilan keluarga serta memperkuat ketahanan pangan lokal.
“Kemandirian seperti ini perlu diapresiasi dan didukung. RW 04 Mojo menjadi salah satu pionir kemandirian warga dalam menguatkan ketahanan pangan,” ujar Lurah Mojo, Widayati, saat berkunjung ke lokasi, Selasa (9/6/2026).
Kunjungan itu merupakan bentuk perhatian pemerintahan kelurahan terhadap inisiatif masyarakat yang konkret dan berkelanjutan.
Inisiatif ini digerakkan oleh pemuda setempat yang semula berasal dari organisasi remaja (remas) dan Karang Taruna. Ketua Karang Taruna RW 04 Mojo, Syaifullah Syam Humam Prayogo atau Yoga, mengakui bahwa diperlukan keberanian besar untuk memulai.
“Awalnya kami kumpulkan anak-anak muda dari remas dan karang taruna untuk mengedukasi mereka pentingnya mandiri dan berdaya. Sekarang, setelah melihat hasilnya, alhamdulillah mereka yang duduk di bangku SD–SMA itu makin semangat. Jangan kita padamkan gelora keberanian untuk mandiri ini,” kata Yoga.
Yoga berkolaborasi dengan warga yang telah lebih dahulu berpengalaman dalam budidaya, seperti Ahmad Hanafi.
“Sebelumnya usaha ini kami namakan Remas Mojo Farm. Tujuan awalnya memutus tradisi ‘proposal keliling’ ketika remas dan karang taruna punya hajat. Berjalannya waktu, alhamdulillah kini siap mengemban amanah baru. Kami siap dijadikan kelompok tani (Poktan) Mojo,” ujar Hanafi dengan optimisme.
Kunjungan Lurah diikuti pula oleh perwakilan Dinas Ketahanan Pangan & Pertanian (DKPP) Kota Surabaya.
“Kami siap dukung penuh juga poktan-poktan yang tumbuh dengan menyediakan bibit, alat, pelatihan, dan mengundang ketika ada pameran-pameran poktan di Surabaya hingga luar kota,” ungkap Bu Rotipah dari DKPP.
Dampak sosial program ini mulai terlihat seperti keterlibatan generasi muda meningkat dan akses pangan lokal menjadi lebih stabil. Sumber daya lahan sempit di perkotaan kini dimaksimalkan melalui teknik budidaya intensif, terutama hidroponik dan kolam lele/patin skala rumah tangga, model yang dinilai potensial direplikasi di RT/RW lain di Surabaya.
Pengurus RW dan warga berharap langkah mereka menjadi contoh bagi wilayah lain agar ketahanan pangan bisa tumbuh dari inisiatif lokal.
“Kami ingin bukan sekadar bertahan, tetapi berkembang. Jika difasilitasi, Poktan RW 04 Mojo bisa menjadi model produksi dan pemasaran skala mikro yang berkelanjutan,” tutup Yoga.(*)
Kontributor: Abdel Rafi
Editor: Umar Faruq








