
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pemerintah Kota Surabaya bersama Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surabaya memperkuat edukasi kebencanaan bagi masyarakat, dengan menyasar lingkungan sekolah dan pondok pesantren. Upaya ini menjadi bagian dari langkah mitigasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga terhadap potensi bencana yang dapat terjadi kapan saja, termasuk di wilayah perkotaan seperti Surabaya.
Program bertajuk “Pondok Pesantren Tangguh Bencana” tersebut difokuskan pada generasi muda, khususnya pelajar lintas jenjang pendidikan, santri pondok pesantren, serta anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Melalui pendekatan edukatif, pemerintah berupaya menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur teknis, antara lain Puskesmas, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Surabaya. Tim gabungan tersebut turun langsung ke sekolah, pondok pesantren, hingga masjid dan mushala untuk memberikan penyuluhan secara interaktif.
Pada Senin (27/4/2026), kegiatan digelar di Pondok Pesantren Taqwimul Ummah dan TPQ Masjid Al Djawahir, Jemur Ngawinan, Wonocolo. Tim dari Puskesmas Jemur Wonosari, DLH, BPBD, dan Damkar memberikan edukasi kepada para santri dan siswa TPQ yang menyambut kegiatan ini dengan antusias. Dialog dua arah pun berlangsung dinamis, menunjukkan tingginya minat peserta terhadap isu kebencanaan.
Dalam sesi penyuluhan, pihak Puskesmas menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan, terutama untuk mencegah penyakit menular seperti penyakit kulit. Sementara itu, DLH mengingatkan pentingnya pengelolaan lingkungan yang baik, termasuk kebiasaan memilah dan membuang sampah pada tempatnya sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan lingkungan.
Materi mitigasi bencana disampaikan oleh BPBD Kota Surabaya, yang menjelaskan sejumlah potensi risiko di wilayah Surabaya. Di antaranya adalah kemungkinan gempa bumi akibat keberadaan dua sesar aktif di sekitar Bundaran Waru dan Keputih, potensi banjir rob sebagai konsekuensi wilayah pesisir, serta ancaman banjir akibat intensitas hujan tinggi yang kerap disertai cuaca ekstrem.
Peserta juga diberikan panduan praktis menghadapi situasi darurat, seperti langkah berlindung saat gempa dan pentingnya segera menuju titik kumpul melalui jalur evakuasi setelah kondisi dinyatakan aman.
Sementara itu, Damkar Kota Surabaya menegaskan peran utamanya dalam pencegahan, pemadaman, dan penyelamatan. Masyarakat diimbau untuk segera menghubungi layanan darurat 112 apabila terjadi kebakaran atau situasi yang membutuhkan penanganan cepat.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menyebarkan pengetahuan tersebut kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Edukasi kebencanaan pun diharapkan menjadi bagian dari kesadaran kolektif masyarakat, dimulai dari generasi muda.(*)
Kontributor: Paryono
Editor: Abdel Rafi








