Tuesday, June 18, 2024
spot_img
HomeEkonomikaNasionalApa Alasan Muhammadiyah Tetiba Menarik Dana Rp 15 Triliun Dari BSI dan...

Apa Alasan Muhammadiyah Tetiba Menarik Dana Rp 15 Triliun Dari BSI dan Apa Dampaknya Secara Ekonomi?

ilustrasi. (foto: cakrawarta)

Surabaya, – Sebagaimana sempat viral, ormas Islam modern terbesar di Indonesia, Muhammadiyah diberitakan menarik dananya dari Bank Syariah Indonesia (BSI) sebesar Rp 15 triliun. Kira-kira ada penjelasan apa untuk memahami langkah tiba-tiba Muhammadiyah tersebut?

Tim media ini mencoba melakukan beberapa penelusuran untuk menjawab fenomena yang tergolong menarik dan tak biasa tersebut.

Menurut keterangan resmi pihak Muhammadiyah berdasarkan surat resmi dari PP Muhammadiyah yang ditujukan kepada Majelis Pendidikan Tinggi Pendidikan dan Pengembangan PP Muhammadiyah, Majelis Pembinaan Kesehatan Umum PP Muhammadiyah, Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Pimpinan Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Pimpinan Badan Usaha Milik Muhammadiyah di seluruh Indonesia tertanggal 30 Mei 2024, disebutkan bahwa “menindaklanjuti pertemuan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Badan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) mengenai konsolidasi keuangan di lingkungan AUM tanggal 26 Mei 2024 di Yogyakarta, dengan ini kami minta dilakukan rasionalisasi dana simpanan dan pembiayaan di Bank Syariah Indonesia (BSI) dengan pengalihan ke Bank Syariah Bukopin, Bank Mega Syariah, Bank Muamalat, Bank-bank Syariah Daerah dan bank-bank lain yang selama ini bekerja sama dengan baik dengan Muhammadiyah.

Surat resmi tersebut ditandatangani Ketua PP Muhammadiyah Dr. H. Agung Danarto, M.Ag. dan Sekretaris PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D. Jika dilihat dari kalimat yang diberikan dalam isi surat, maka ada kata kunci yakni ‘dengan pengalihan ke …. dan bank-bank lain yang selama ini bekerja sama dengan baik dengan Muhammadiyah.

Surat edaran resmi PP Muhammadiyah mengenai perintah rasionalisasi penempatan dana dan pembiayaan Muhammadiyah di BSI yang dialihkan ke beberapa bank syariah lainnya. (foto: sulaiman rhosyid/cakrawarta)

Apakah ini kemudian, ada indikasi bahwa BSI dan Muhammadiyah tengah memiliki ‘kerja sama kurang baik? Selain surat resmi PP Muhammadiyah kepada beberapa ortom dan lembaga di lingkungan internal tersebut, Ketua PP Muhammadiyah yang lain, Anwar Abbas misalnya kepada awak media menyatakan bahwa penempatan di BSI terlalu besar sehingga ditakutkan terdapat risiko konsentrasi, dan dikhawatirkan bank-bank lain yang masih sedikit itu sulit bersaing.

“Bank-bank syariah lain tersebut (bank syariah tujuan pengalihan dana, red.) tidak bisa berkompetisi dengan margin yang ditawarkan oleh BSI, baik dalam hal penempatan dana maupun pembiayaan,” ujar Anwar Abbas dalam keterangan tertulis pada awak media, pada Rabu (5/6/2024).

Anwar Abbas menerangkan bahwa pihak Muhammadiyah tidak ingin terjadi persaingan tidak sehat di kalangan perbankan syariah karena itulah Muhammadiyah berkomitmen melakukan rasionalisasi baik dari segi penempataan dana maupun pembiayaan yang diterima pihak Muhammadiyah.

Meskipun begitu, jawaban pihak PP Muhammadiyah memang nampak normatif. Di tengah jawaban normatif yang terjadi itulah, beredar kabar dari pihak yang tidak mau disebutkan namanya bahwa penarikan yang nampak tiba-tiba itu dikarenakan rekomendasi PP Muhammadiyah yang menjawab permintaan pihak BSI terkait penempatan persona di bagian Dewan Pengawas Syariah (DPS) maupun Komisaris yang ternyata tidak sesuai dengan harapan dan justru rekomendasi nama dari pihak PP Muhammadiyah justru tergantikan oleh nama politikus Partai Gerindra. Partai yang digawangi Presiden RI terpilih 2024-2029, Prabowo Subianto, atas nama Felicitas Tallulembang. Padahal nama rekomendasi untuk jabatan Komisaris yang ditempati Felicitas di BSI, tidak main-main posisinya di PP Muhammadiyah, yakni Sekretaris Umum Abdul Mu’ti.

Meskipun begitu, persoalan jabatan Komisaris yang ‘tergantikan’ tersebut bisa dikatakan menjadi isu saja. Mengapa? Karena selain alasan resmi PP Muhammadiyah mengenai rasionalisasi dan perimbangan konsentrasi penempatan dana di BSI tersebut. Muncul pula kabar atau informasi mengenai keberatan PP Muhammadiyah bahwa dana yang mereka tempatkan akan dijadikan obligasi untuk pembiayaan Ibukota Nusantara (IKN).

Untuk melihat bagaimana perspektif ekonomi apabila PP Muhammadiyah jadi melakukan penarikan dana sebesar Rp 15 triliun, tim media Cakrawarta.com mencoba mendapatkan penjelasan dari Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Tofan Tri Nugroho.

Pada media ini, Jumat (7/6/2024), Tofan -sapaan akrabnya- mengatakan bahwa dari data yang ada ia dapatkan, terlihat bahwa BSI memiliki jumlah kas yang cukup besar yakni Rp 6,5 Triliun, namun terdapat penempatan yang signifikan pada bank sentral serta jumlah surat berharga yang cukup besar juga.

Laporan Keuangan BSI per April 2024. I(foto: tofan tri nugroho)

“Piutang yang tinggi menunjukkan bank memberikan kredit dalam jumlah besar, sementara pembiayaan bagi hasil menunjukkan adanya investasi pada proyek-proyek atau program-program yang menghasilkan pendapatan,” paparnya mengenai kondisi keuangan BSI.

Karena itu, lanjut Tofan, apabila dana yang dimiliki PP Muhammadiyah sebesar Rp 15 triliun ditarik dimana masuk ke dalam dana nasabah korporat sedangkan kas sebesar Rp 6,5 triliun, situasinya menjadi lebih menarik.

“Penarikan dana sebesar itu (Rp 15 triliun, red.) dari tabungan korporat bisa memiliki dampak yang signifikan terhadap likuiditas bank. Bank mungkin perlu mencari sumber likuiditas tambahan untuk menutupi kebutuhan pendanaan yang ditarik tersebut,” papar pria asal Probolinggo itu.

Dalam situasi seperti itu, lanjut pria alumnus FEB Unair itu, BSI dapat mengalami tekanan pada sumber daya likuiditasnya. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan BSI untuk memberikan pinjaman baru kepada nasabah lainnya, terutama jika dana tersebut tidak dapat segera digantikan melalui sumber pendanaan lainnya. Dampaknya pada perekonomian bisa menjadi penurunan dalam aktivitas pinjaman dan investasi, karena bank mungkin menjadi lebih hati-hati dalam memberikan kredit baru atau membiayai proyek-proyek.

“Ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi, terutama jika pinjaman dan pembiayaan memiliki peran penting dalam mendukung konsumsi dan investasi,” tukas Tofan.

Dampak yang bisa timbul tersebut, lanjut Tofan, baru awalan dari sisi penarikan dana. Kalau kemudian merembet pada kerjasama pembiayaan ke depannya, maka BSI harus berpikir lebih keras agar mereka tetap mau memakai jasa bank ini.

Pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Tofan Tri Nugroho. (foto: cakrawarta)

“Karena, saya rasa Muhammadiyah bisa tergolong pada nasabah lancar dalam pembayaran kreditnya,” tegasnya.

Namun, apabila dilihat dari struktur baru BSI yang baru saja keluar yang sekaligus mencoba memberikan jawaban atas peredaran isu mengenai upaya penarikan dana PP Muhammadiyah adalah “respon halus” terhadap tidak diindahkannya rekomendasi PP Muhammadiyah oleh pihak BSI, menurut Tofan, kalau diambil dari kacamata analis maka tidak hanya melihat dari sisi kinerja BSI selama ini tetapi kejadian yang sedang dan akan terjadi di masa depan yang bisa menimbulkan resiko konsentrasi tersebut.

“Kalau ditanya apakah ini terkait dengan pengangkatan Direktur dan Komisaris baru? Bisa saja dijadikan bahan kajian dan bisa juga nanti dijadikan kajian bagi pihak internal BSI untuk memasukkan jajaran PP Muhamamdiyah ke dalam struktur agar menambah kepercayaan mereka agar mereka bisa ikut mengawasi di dalamnya,” tandasnya.

Mengapa demikian? Menurut Tofan, dengan cara seperti itu, kekhawatiran PP Muhammadiyah soal risiko konsentrasi dan atau adanya pergerakan di masa lalu dan misal ada dugaan langkah-langkah korporatif yang dapat membahayakan situasi perbankan syariah yang berdampak pada perekonomian nasional, dapat diminimalisir atau diyakinkan bahwa hal tersebut kecil terjadi.

“Tentu itu penting jadi bahan kajian pihak BSI dan sekaligus untuk meyakinkan bahwa kekhawatiran Muhammadiyah kecil terjadi di masa mendatang. Saya rasa secara kualitas, Muhammadiyah memiliki SDM mumpuni untuk bisa mengatasi hal tersebut,” pungkas Tofan.

(tommy/rafel)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular