
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pengajian rutin di lingkungan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur kembali digelar di kantor PWNU Jatim yang baru. Kegiatan tersebut sekaligus mengingatkan khodam dan aktivis senior NU Ahmad Zaini Ilyas pada tradisi pengajian PWNU Jatim pada masa lalu, ketika organisasi tersebut masih berkantor di kawasan Darmo.
Ahmad melihat terdapat perubahan dalam pola penyelenggaraan pengajian PWNU Jatim dari masa ke masa. Pada era KH Imron Hamzah sebagai Rais Syuriyah PWNU Jatim, pengajian berlangsung sederhana, egaliter, dan tidak bergantung pada jumlah peserta. Sementara saat ini, pengajian diselenggarakan dengan persiapan yang lebih modern, termasuk dukungan perangkat dokumentasi dan siaran langsung.
Menurut Ahmad, tradisi pengajian rutin di kantor PWNU Jatim pada masa lalu dimulai pada periode KH Imron Hamzah. Ia mengenang sosok tersebut sebagai ulama yang dekat dengan berbagai lapisan warga dan aktivis NU.
KH Imron Hamzah, kata Ahmad, dikenal tidak terlalu formal ketika berada di lingkungan kantor PWNU Jatim. Hampir setiap hari ia hadir ke kantor Darmo dengan pakaian sederhana.
“Beliau memiliki ciri khas yang hampir setiap hari hadir ke kantor Darmo dengan pakaian santainya. Kadang beliau hadir dengan pakai kaos oblong, sarungan dan kopiah putih,” ujar Ahmad Zaini Ilyas pada media ini, Rabu (30/9/2026).
Menurut Ahmad, KH Imron Hamzah juga tidak selalu langsung masuk ke kantor PWNU ketika tiba. Ia kerap mampir terlebih dahulu ke Kantor Ma’arif untuk bercengkerama dengan para aktivis NU.
“Tidak ada suasana formal layaknya pemimpin besar jika mau sowan beliau. Kadang para ditemui sambil lesehan di Ma’arif,” katanya.
Selain pengajian, Ahmad juga mengingat kebiasaan KH Imron Hamzah membangun tradisi salat Zuhur berjamaah di lingkungan kantor PWNU Jatim. Ketika waktu Zuhur tiba, aktivitas kantor dihentikan dan seluruhnya diarahkan untuk mengikuti salat berjamaah.
Setelah salat berjamaah, pengajian rutin mingguan dilaksanakan. Ahmad menyebut, KH Imron Hamzah tidak menjadikan jumlah peserta sebagai syarat berlangsungnya pengajian.
“Ketika sudah masuk waktu salat Zuhur, semua aktivitas kantor harus berhenti, diajak salat berjamaah,” ujar Ahmad.
“Setelah selesai salat berjamaah, kegiatan rutin mingguan dilaksanakan dengan mengaji. Tidak perlu menunggu kuorum, berapa pun yang hadir beliau mulai. Karena menurut beliau yang penting istiqamah mengajinya, berapa pun yang hadir tetap dilaksanakan,” lanjutnya.
Kenangan tersebut kembali muncul ketika PWNU Jatim menggelar pengajian perdana di kantor yang baru. Menurut Ahmad, pengajian kali ini dipersiapkan dengan format yang lebih terstruktur.
Informasi mengenai kegiatan telah disebarkan melalui berbagai grup WhatsApp NU. Perangkat sound system dan perlengkapan untuk siaran juga telah dipersiapkan.
Pada awalnya, pengajian dijadwalkan menghadirkan KH Abdul Matin Jawahir, Wakil Rais PWNU Jatim. KH Abdul Matin dikenal sebagai pengampu pengajian kitab Hikam di pondok pesantrennya.
Namun, pada Selasa pagi terjadi perubahan jadwal karena KH Abdul Matin mendapat tugas mendadak ke Jakarta. Jadwal pengajian kemudian dialihkan kepada KH Firjon B…, selaku pelaksana harian PWNU Jatim.
Ahmad yang pada hari tersebut mengikuti kegiatan rutin khotmil Qur’an bersama kelompok Khodam NU Jatim di musala PWNU Jatim kemudian memperoleh informasi bahwa KH Firjon sedang sakit dan baru pulang dari perawatan.
Setelah kegiatan khotmil Qur’an selesai sekitar pukul 14.00 WIB, Ahmad bersama sejumlah rekannya memutuskan tetap mengikuti pengajian perdana yang dijadwalkan berlangsung setelah salat Ashar.
Ketika waktu Ashar tiba, azan dikumandangkan di musala PWNU Jatim. Sambil menunggu pelaksanaan salat berjamaah, jamaah melantunkan pujian berupa Shalawat Asyghil yang cukup familiar di kalangan warga NU.
Setelah Kyai Jazuli M. Nur datang dan menunaikan salat sunah qabliyah Ashar, salat Ashar berjamaah kemudian dilaksanakan dengan diikuti pengurus PWNU Jatim dan sejumlah badan otonom NU.
Usai salat, jamaah merapikan posisi untuk mengikuti pengajian. Karena kegiatan tersebut merupakan pengajian perdana, sejumlah hadirin kemudian meminta agar terdapat pengantar sebelum kajian dimulai.
Gus Taufik Mukti kemudian mengantarkan kegiatan tersebut. Dalam pengantarnya disampaikan bahwa KH Firjon sedang sakit dan berada di lantai dua. Karena kondisi tersebut, pengajian kemudian diserahkan kepada unsur Syuriyah PWNU Jatim.
KH Dr. Romadan Khotib, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim, kemudian ditunjuk untuk mengisi pengajian.

Menurut Ahmad, terdapat pula momen menarik ketika KH Romadan memulai kajian menggunakan kitab yang telah dibagikan kepada jamaah. Pada awalnya, KH Romadan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.
Namun, KH Ashari kemudian menghampiri KH Romadan dan menyampaikan agar pengajian PWNU Jatim menggunakan pola pengajian pesantren.
“Ketika menggunakan bahasa Indonesia, majulah Kyai Ashari ke depan Kyai Romadan dan berbisik bahwa pengajian di PWNU Jatim menggunakan cara pondokan,” tutur Ahmad.
Setelah mendapat masukan tersebut, KH Romadan melanjutkan pengajian dengan pola pengajian pesantren, termasuk memberikan arti menggunakan bahasa Jawa. Penjelasan kemudian juga disampaikan menggunakan bahasa Indonesia.
Pengajian berlangsung sekitar satu jam dalam suasana khidmat. Pada pengajian perdana tersebut, sesi tanya jawab belum dibuka.
Ahmad mencatat, penyelenggaraan pengajian PWNU Jatim saat ini memang jauh lebih dipersiapkan dibandingkan pengajian pada masa kantor Darmo.
Perangkat sound system, perlengkapan dokumentasi dan siaran langsung disiapkan untuk mendukung kegiatan. Jamaah yang hadir juga mendapatkan konsumsi dan kegiatan diakhiri dengan makan bersama nasi liwetan.
Perubahan tersebut, menurut Ahmad, menunjukkan bahwa tradisi pengajian PWNU Jatim ikut beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Kalau zaman di Darmo, Kyai Imron Hamzah dengan model tradisional, namun sekarang pengajiannya telah dipersiapkan dengan optimal sesuai perkembangan,” katanya.
Perbedaan lainnya adalah jangkauan peserta. Jika pengajian di kantor PWNU Jatim pada masa lalu terutama diikuti oleh mereka yang hadir secara langsung, penyelenggaraan saat ini memungkinkan kegiatan diikuti dari tempat lain melalui siaran langsung.
Dengan demikian, warga NU yang tidak berada di kantor PWNU Jatim tetap dapat mengikuti pengajian dari rumah maupun tempat kerja.
Bagi Ahmad, perubahan cara penyelenggaraan tersebut tidak perlu menghilangkan substansi tradisi pengajian. Modernisasi teknologi justru dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan kegiatan selama tradisi mengaji tetap dijaga.
Ia berharap pengajian rutin di lingkungan PWNU Jatim dapat berlangsung secara istiqamah dan menjadi bagian yang terus dipelihara dalam kehidupan organisasi.
“Semoga kegiatan ini berjalan istiqamah karena pengajian seperti ini adalah ruh NU yang perlu tetap dipelihara,” ujar Ahmad Zaini Ilyas.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








