
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur, Sudarsono Rahman, menyerukan pentingnya tabayun dan ishlah untuk mengembalikan marwah Nahdlatul Ulama (NU) pasca Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Menurut Cak Dar, panggilan akrab Putra Bawean itu, selesainya Muktamar secara organisatoris tidak berarti seluruh persoalan telah usai. Ia menyoroti berbagai isu yang beredar di kalangan Nahdliyin setelah forum tertinggi NU tersebut.
“Ada cerita tentang penggalangan dan mobilisasi, Ada tudingan mengenai karantina, Ada pembicaraan tentang pemberian uang, Bahkan beredar kabar ada anggota AHWA yang mengembalikan uang,” ujar Cak Dar dalam pernyataan melalui media ini, Selasa (29/9/2026).
Ia menegaskan, pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut sah untuk diajukan dan tidak boleh dijawab dengan kemarahan atau saling tuduh di ruang publik.
“Menjaga marwah NU bukan berarti menutupi masalah. Justru sebaliknya, marwah lahir dari keberanian untuk membersihkan rumah sendiri,” katanya.
Ketua PW IPNU Jatim periode 1988-1992 itu mengingatkan agar persoalan tidak diselesaikan melalui pengadilan media sosial atau pengerahan massa.
“Kalau benar ada pelanggaran, harus diperiksa. Kalau ada prosedur dilanggar, harus dijelaskan. Kalau tudingan tidak benar, juga harus diluruskan. Jalannya adalah tabayun,” tegasnya.
Sudarsono juga mendorong para kiai sepuh NU untuk tampil sebagai penjaga moral sekaligus penengah, bukan sekadar simbol kebesaran organisasi.
“Biarlah para kiai sepuh mengambil inisiatif, dudukkan semua pihak, dengarkan kesaksian, periksa bukti. NU membutuhkan ishlah, bukan eskalasi,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan kepada semua pihak. Kepada kepemimpinan baru PBNU, ia meminta agar menunjukkan kemampuan merangkul mereka yang berbeda pandangan setelah forum Muktamar selesai.
“Kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan memenangkan forum, tapi dari kemampuan merangkul setelah forum,” kata dia.
Sementara kepada pihak yang kecewa dengan proses Muktamar, ia berpesan agar tidak menjadikan kekecewaan sebagai alasan untuk merobek rumah besar NU.
“Rais Aam dan Ketua Umum akan berganti, tetapi NU harus tetap hidup jauh setelah kita semua tidak lagi berada di dalamnya. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan warga NU terhadap akhlak organisasi ini,” pungkasnya.(*)
Kontributor: Abdel Rafi
Editor: Umar Faruq








