
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Ketika langit Jawa Timur masih minim hujan dan ancaman kekeringan terus membayangi, Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur mengajak umat Islam melakukan ikhtiar spiritual melalui Sholat Istisqa’. Seruan itu disampaikan di tengah kondisi kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa waktu ke depan.
Pimpinan Wilayah (PW) DMI Jawa Timur mengeluarkan surat imbauan kepada seluruh DMI Kabupaten/Kota dan takmir masjid se-Jawa Timur untuk melaksanakan Sholat Istisqa’ secara serentak pada Jumat (25/9/2026) besok.
Surat bernomor 192/PW-DMI/JTM/IX/2026 tertanggal 21 September 2026 itu ditandatangani Ketua PW DMI Jatim Dr KHM Sudjak, MAg, bersama Sekretaris PW DMI Jatim Drs H Suhadi.
“Surat imbauan itu menginstruksikan pelaksanaan Sholat Istisqa’ sebelum atau sesudah Sholat Jumat pada 25 September 2026,” kata Suhadi dalam keterangan di Kantor PW DMI Jatim, Surabaya, Kamis (24/9/2026) siang.
Menurut Suhadi, Sholat Istisqa’ dapat dilaksanakan di dalam maupun halaman masjid. Jika digelar setelah Sholat Jumat, pelaksanaannya diarahkan menggunakan khutbah singkat yang berfokus pada istighfar, hamdalah, ajakan bertakwa, taubat, serta doa memohon hujan.
Seruan tersebut tidak berdiri sendiri. Data BMKG menunjukkan Jawa Timur memang masih menghadapi persoalan kekeringan. Dalam analisis Dasarian I September 2026, seluruh wilayah Jawa Timur masuk kategori Awas kekeringan meteorologis. BMKG juga mencatat curah hujan pada dasarian tersebut didominasi kategori rendah, mencapai 92,62 persen wilayah analisis.
Kondisi atmosfer global turut menjadi faktor. BMKG pada 22 September 2026 menyatakan El Niño yang sedang berlangsung berada pada intensitas sangat kuat. Kombinasi El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif disebut berpotensi memperpanjang periode kekeringan dan membuat musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat di banyak wilayah Indonesia.
Karena itu, Sholat Istisqa’ kali ini menjadi lebih dari sekadar ritual keagamaan. Ia menjadi bentuk ikhtiar masyarakat menghadapi situasi alam yang berdampak langsung terhadap ketersediaan air, pertanian, kesehatan, hingga aktivitas ekonomi.
Di Surabaya, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) dijadwalkan melaksanakan Sholat Istisqa’ setelah Sholat Jumat di ruang utama masjid. Sholat akan dipimpin imam KH Abdul Hamid Abdullah, MSi, dengan khatib Prof Dr KHM Ali Azis, MAg.
“Silakan hadir untuk ikhtiar dan doa memohon hujan yang membawa kebaikan bersama. Semoga langkah kaki kita ke masjid dan setiap bait doa yang kita panjatkan mendapat ijabah dari Allah SWT,” kata Humas Badan Pelaksana Pengelola (BPP) MAS H Helmy M Noor.
Namun, persoalan kekeringan tidak berhenti pada soal datang atau tidak datangnya hujan. Ketika musim kering berlangsung lebih panjang, persoalan air berubah menjadi persoalan sosial yang membutuhkan respons nyata.
BMKG sebelumnya memprediksi sebagian besar wilayah Jawa Timur mengalami musim kemarau dengan sifat hujan di bawah normal. Untuk Jawa Timur, puncak kemarau 2026 secara dominan diprediksi terjadi pada Agustus, sementara sebagian wilayah dapat mengalami periode kering yang lebih panjang.
Bahkan dalam pembaruan terbaru, BMKG memproyeksikan sebagian wilayah Jawa Timur masih berpeluang mengalami curah hujan bulanan di bawah 50 milimeter pada November 2026. Artinya, datangnya hujan tidak serta-merta dapat dianggap sebagai kepastian dalam waktu dekat di seluruh wilayah.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








