
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Sehari setelah ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmat 2026-2031, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin langsung memulai aktivitasnya di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, Jumat (4/9/2026).
Salah satu pekerjaan awal yang dihadapinya ialah menyiapkan susunan kepengurusan PBNU untuk lima tahun mendatang. Namun, Gus Kikin menegaskan bahwa penyusunan tersebut tidak akan dilakukan secara tergesa-gesa.
Menurut dia, sejumlah nama telah mulai dimintai kesediaannya untuk masuk dalam jajaran kepengurusan. Beberapa di antaranya bahkan telah menyatakan kesediaan untuk mengemban amanah.
Salah satu nama yang disebut Gus Kikin ialah H Gudfan Arif yang kembali diminta untuk menjalankan amanah sebagai Bendahara Umum PBNU.
Adapun posisi lainnya masih dalam tahap pertimbangan. Dalam proses tersebut, Gus Kikin mengatakan akan menggunakan salah satu tradisi yang selama ini lekat dengan kultur NU, yakni shalat istikharah.
“Banyak hal yang harus dilakukan dalam menyusun Pengurus PBNU, termasuk Istikhoroh,” kata Gus Kikin.
Bagi Gus Kikin, istikharah menjadi bagian dari ikhtiar untuk menentukan orang-orang yang dinilai tepat mengemban amanah organisasi. Ia ingin kepengurusan PBNU tidak sekadar memenuhi kebutuhan struktur, tetapi diisi oleh orang-orang yang mampu bekerja dan memberikan manfaat bagi umat.
“Tradisi NU adalah Istikhoroh, supaya kita bisa mendapatkan petunjuk siapa saja yang cocok dan siapa saja yang dapat memberikan manfaat kepada ummat ketika menjadi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Gus Kikin menyadari, penyusunan kepengurusan merupakan salah satu pekerjaan penting pada awal masa khidmatnya. Komposisi pengurus akan turut menentukan bagaimana PBNU menjalankan program dan amanah organisasi selama lima tahun ke depan.
Karena itu, ia memilih mengedepankan kehati-hatian. Pertimbangan organisasi, komunikasi dengan berbagai pihak, dan istikharah menjadi bagian dari proses sebelum kepengurusan ditetapkan.
“Mohon dukungan panjenengan semua, kita akan segera menyusun kepengurusan yang ada di PBNU, supaya kita bisa segera beraktivitas dan berkhidmah kepada masyarakat,” tutur Gus Kikin.
Pada hari pertama aktivitasnya sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin juga menggelar ramah tamah dengan jajaran karyawan PBNU serta sejumlah kader NU dari berbagai daerah yang hadir di Jakarta.
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan awal bagi Gus Kikin untuk membangun komunikasi dengan jajaran internal PBNU setelah kepemimpinan baru ditetapkan melalui Muktamar Ke-35 NU di Jombang.
Setelah itu, Gus Kikin bersama rombongan meninjau sejumlah fasilitas di Gedung PBNU. Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung berbagai fasilitas yang digunakan dalam mendukung aktivitas organisasi.
Di sela rangkaian kegiatan tersebut, Gus Kikin juga menerima kunjungan jajaran pimpinan Bank Syariah Indonesia (BSI). Dalam pertemuan itu hadir Komisaris Utama BSI Muhadjir Effendy dan Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo.
Pertemuan dengan jajaran BSI berlangsung dalam suasana silaturahim dan menjadi bagian dari agenda Gus Kikin pada hari pertama aktivitasnya di PBNU.
Muktamar Ke-35 NU telah menetapkan kepemimpinan baru PBNU untuk Masa Khidmat 2026-2031. Setelah itu, penyusunan kepengurusan menjadi tahapan penting sebelum roda organisasi berjalan secara penuh.
Bagi Gus Kikin, memilih pengurus bukan sekadar mengisi posisi dalam struktur organisasi. Di dalamnya terdapat tanggung jawab untuk menentukan orang-orang yang akan bekerja bersama menjalankan amanah dan khidmah NU selama lima tahun ke depan.
Karena itu, proses tersebut ditempuh melalui perpaduan antara ikhtiar organisatoris dan tradisi spiritual NU. Musyawarah, pertimbangan yang matang, serta istikharah menjadi bagian dari upaya Gus Kikin menemukan komposisi kepengurusan yang dinilai mampu bekerja secara efektif sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, hari pertama Gus Kikin di Gedung PBNU tidak hanya menjadi awal aktivitas administratif setelah Muktamar Ke-35 NU. Hari itu juga menandai dimulainya proses menata barisan baru PBNU, dengan kehati-hatian organisatoris sekaligus pijakan spiritual.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








