Dari Klub Malam ke Islam, CEO Muda Asal Belanda Ini Ubah Total Hidupnya

Aksi CEO muda asal Belanda yang mualaf, Thom J. Defilet di salah satu akun youtubenya yang berjudul “The Best Routine (Explained by a 23yo Muslim CEO)dan telah ditonton jutaan. (foto: tangkapan layar/Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Thom J. Defilet, pengusaha muda asal Belanda, menarik perhatian setelah membagikan kisah perubahan hidupnya dari seorang remaja yang akrab dengan pesta dan minuman menjadi seorang Muslim yang menjadikan salat sebagai pusat aktivitas hariannya.

Defilet, yang kini dikenal sebagai pengusaha dan pembicara motivasi, mengungkap perjalanan tersebut melalui sejumlah konten di media sosial dan YouTube. Dalam salah satu videonya, ia menjelaskan bagaimana keputusannya memeluk Islam tidak hanya mengubah sisi spiritual kehidupannya, tetapi juga cara ia mengatur waktu, bekerja, menjaga kesehatan, dan menjalani keseharian.

Dalam video berjudul The Best Routine (Explained by a 23yo Muslim CEO), Defilet memperlihatkan rutinitas yang ia gunakan ketika menjalankan sejumlah bisnis sekaligus. Alih-alih memulai perencanaan hari dari jam kerja, ia menempatkan lima waktu salat sebagai titik utama untuk membagi aktivitas.

Menurut Defilet, salat menjadi semacam “penanda waktu” yang membantunya membagi hari menjadi beberapa bagian. Dari titik tersebut, ia mengatur waktu tidur, pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, olahraga, makan, hingga waktu bersama keluarga.

Ia juga menekankan pentingnya rutinitas malam. Defilet menerapkan aturan yang disebutnya sebagai 3-2-1 rule: tidak makan tiga jam sebelum tidur, tidak minum dua jam sebelum tidur, dan menghindari layar satu jam sebelum tidur.

Setelah bangun untuk salat Subuh, ia biasanya melanjutkan aktivitas dengan pergi ke masjid dan membaca Al-Qur’an sebelum memulai pekerjaan. Setelah itu, ia memasuki fase deep work, yakni bekerja dalam kondisi minim gangguan dan tanpa telepon untuk menyelesaikan pekerjaan yang dianggap paling penting.

Bagi Defilet, produktivitas bukan semata-mata soal bekerja selama mungkin.

Ia justru menilai tidur yang cukup, kesehatan, ibadah, olahraga, dan waktu bersama keluarga merupakan bagian dari produktivitas itu sendiri.

“Saya tidak ingin bekerja seperti orang yang harus bekerja 10 jam sehari,” demikian gagasan utama yang ia sampaikan ketika menjelaskan keseimbangan antara bisnis dan kehidupan pribadi.

Perubahan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba.

Dalam autobiografinya, Defilet menceritakan bahwa ketika remaja ia sempat menjalani kehidupan yang dipenuhi pesta, minuman, pergaulan yang menurutnya tidak sehat, serta kurang disiplin. Di balik kehidupan tersebut, ia mengaku tengah mencari identitas dan tujuan hidup.

Pada usia sekitar 16 tahun, ia mulai membangun bisnis sendiri. Dari pekerjaan kecil di bidang desain dan freelancing, usahanya berkembang menjadi agensi yang bergerak di bidang pemasaran dan pengembangan digital.

Dalam perjalanan bisnis tersebut, ia mulai mempertanyakan tujuan di balik pencapaian material yang dikejarnya.

Defilet kemudian semakin mendalami persoalan agama, makna hidup, disiplin, dan tujuan. Perjalanan itu akhirnya membawanya memeluk Islam.

Money is a black hole. You can always make more,” tulis Defilet dalam kisah pribadinya, ketika menjelaskan perubahan cara pandangnya terhadap kesuksesan. Baginya, keberhasilan tidak lagi hanya diukur dari uang, tetapi juga dari dampak positif yang dapat diberikan kepada orang lain.

Kini, Defilet memperkenalkan dirinya sebagai Muslim revert dan CEO perusahaan 4yourbrand. Di situs pribadinya, ia menyebut bisnis tersebut berkembang dari usaha yang ia mulai sejak usia 16 tahun. Ia juga menjalankan sejumlah proyek lain di bidang media dan bisnis berbasis komunitas Muslim.

Transformasi tersebut turut menjadi bagian dari konten yang ia bagikan kepada publik. Salah satu videonya yang secara khusus menceritakan perjalanan dari kehidupan malam hingga memeluk Islam bahkan telah meraih jutaan penonton.

Kisah Defilet tentu bukan sekadar cerita tentang seorang pengusaha muda yang menemukan metode produktivitas baru. Ia memperlihatkan bagaimana perubahan keyakinan dapat berpengaruh hingga ke cara seseorang mengatur waktu, bekerja, menjaga tubuh, dan mendefinisikan ulang arti kesuksesan.

Dari kehidupan yang dulu ia gambarkan penuh pesta dan pencarian kesenangan, Defilet kini memilih membangun harinya di sekitar salat, Al-Qur’an, pekerjaan yang terfokus, kesehatan, dan keluarga.

Transformasi itulah yang membuat kisah CEO muda asal Belanda tersebut menarik perhatian jauh melampaui dunia bisnis.(*)

Kontributor: Bustomi

Editor: Abdel Rafi