
JOMBANG, CAKRAWARTA.com – KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin tidak lahir hanya dengan membawa nama besar keluarga pesantren. Di balik nasabnya sebagai cicit Hadratusy Syeikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, terdapat perjalanan hidup yang cukup panjang sebelum akhirnya ia dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2026-2031.
Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar Ke-35 NU yang berlangsung di Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026) pagi.
Dalam penjaringan awal yang melibatkan 552 pemilik suara, Gus Kikin memperoleh 472 suara, tertinggi dibandingkan kandidat lainnya. Setelah melalui verifikasi persyaratan organisasi dan mendapatkan persetujuan tertulis Rais Aam, penentuan Ketua Umum dilakukan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Keputusan AHWA kemudian menetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031.
Terpilihnya Gus Kikin membawa ke panggung nasional perjalanan seorang tokoh yang tumbuh dalam tradisi pesantren, tetapi pada masa mudanya juga bersentuhan dengan dunia kemahasiswaan, organisasi, pelayaran, dan dunia usaha.
Bukan Hanya Warisan Nasab
Gus Kikin lahir di Jombang, 17 Agustus 1958, dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum.
Dari garis ibu, ia memiliki hubungan nasab dengan KH Hasyim Asy’ari. Nyai Abidah Ma’shum merupakan putri dari Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung KH Hasyim Asy’ari.
Dari garis ayah, Gus Kikin merupakan keturunan KH Anwar Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang.
Lingkungan tersebut membuat Gus Kikin tumbuh dalam tradisi keulamaan dan pesantren. Namun, perjalanan hidupnya kemudian mempertemukan tradisi tersebut dengan dunia pendidikan modern dan organisasi kemahasiswaan.
Dari Pesantren ke Dunia Pelayaran
Gus Kikin menempuh pendidikan formal di MI Parimono Jombang, SMP Negeri 1 Jombang, kemudian SMPP yang kini menjadi SMA Negeri 2 Jombang.
Ia kemudian menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta dan melanjutkan studi Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka.
Pendidikan keagamaan ditempuh antara lain di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang yang diasuh ayahnya dan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang.
Selepas pendidikan di STIP, Gus Kikin tidak langsung masuk ke dunia pesantren. Ia terlebih dahulu bekerja di perusahaan pelayaran Djakarta Lloyd dan pernah dipercaya memimpin cabang perusahaan tersebut di Cilegon.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya masuk lebih jauh ke dunia usaha.
Pada 1998, Gus Kikin mulai mendirikan sejumlah perusahaan di Surabaya. Usahanya kemudian berkembang ke berbagai bidang, antara lain transportasi laut, pelayaran, kontraktor minyak dan gas, teknologi informasi, dan media.
Dengan pengalaman tersebut, Gus Kikin dikenal sebagai sosok yang memiliki pengalaman di dunia profesional dan bisnis sekaligus tetap berakar kuat pada tradisi pesantren.
Kembali ke Tebuireng
Perjalanan Gus Kikin kemudian semakin dekat dengan pesantren.
Ia dipercaya meneruskan estafet kepengasuhan Pondok Pesantren Tebuireng setelah KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah wafat.
Tebuireng memiliki tempat khusus dalam sejarah NU. Pesantren tersebut didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari dan menjadi salah satu pusat penting perkembangan keilmuan Islam serta tradisi Nahdlatul Ulama.
Dari Tebuireng, kiprah Gus Kikin kemudian bergerak ke organisasi NU di tingkat Jawa Timur.
Pada Januari 2024, ia ditunjuk sebagai Penjabat Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur. Beberapa bulan kemudian, dalam Konferensi Wilayah XVIII NU Jawa Timur pada 3 Agustus 2024 di Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, ia terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur masa khidmat 2024-2029.
Posisi tersebut menjadi salah satu pijakan penting bagi perjalanan Gus Kikin menuju kepemimpinan PBNU.
Mengusung Qanun Asasi
Menjelang Muktamar Ke-35, Gus Kikin tidak hanya menawarkan dirinya sebagai figur untuk memimpin organisasi. Ia juga membawa gagasan mengenai arah NU ke depan.
Salah satu gagasan yang sering disampaikannya adalah pentingnya kembali menjadikan Qanun Asasi sebagai rujukan dalam kehidupan organisasi NU.
Bagi Gus Kikin, Qanun Asasi yang dirumuskan KH Hasyim Asy’ari bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan mengandung prinsip-prinsip dasar yang tetap relevan sebagai pijakan NU menghadapi perubahan zaman.
Gagasan tersebut berjalan beriringan dengan pandangannya mengenai pentingnya tata kelola organisasi yang teduh, penguatan ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah nahdliyah, serta menjaga persatuan warga NU.
Menjaga NU dari Politik Praktis
Gus Kikin juga menekankan pentingnya menjaga NU agar tidak terlalu jauh terseret ke dalam politik praktis.
Menurut pandangan yang ia sampaikan dalam berbagai kesempatan, NU harus lebih banyak berkonsentrasi pada pengurusan umat, penguatan kehidupan keagamaan, pendidikan, pesantren, dan persoalan sosial kemasyarakatan.
Dalam suasana Muktamar Ke-35, ia juga menyampaikan pesan:
“Siapa pun yang terpilih jadi Ketum PBNU, NU harus tetap rukun.”
Kini, pesan tersebut memperoleh konteks baru. Setelah terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin menghadapi tantangan untuk menerjemahkan prinsip kerukunan itu ke dalam kepemimpinannya.
Perjalanan Gus Kikin menunjukkan lintasan yang cukup beragam.
Ia lahir dari keluarga ulama dan memiliki hubungan nasab dengan pendiri NU. Ia belajar di pesantren, kemudian menempuh pendidikan formal. Ia pernah bekerja di perusahaan pelayaran, membangun usaha, kemudian kembali ke pesantren dan dipercaya mengasuh Tebuireng.
Dari Tebuireng, ia memasuki kepemimpinan NU Jawa Timur sebelum akhirnya mencapai tingkat nasional.
Kini, seluruh pengalaman tersebut bertemu dalam satu amanah yakni memimpin PBNU periode 2026-2031.
Karena itu, Gus Kikin memasuki kepemimpinan PBNU bukan semata-mata karena hubungan darah dengan KH Hasyim Asy’ari. Nasab memang memberikan akar sejarah, tetapi perjalanan pendidikan, pengalaman profesional, perkaderan, pengabdian pesantren, dan pengalaman organisasi turut membentuk sosoknya.
Lima tahun ke depan akan menjadi ujian bagi Gus Kikin untuk membuktikan bagaimana seluruh pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi kepemimpinan NU yang mampu menjaga tradisi sekaligus menjawab perubahan zaman.
Dari pesantren ia membawa tradisi. Dari dunia pelayaran dan usaha ia memperoleh pengalaman profesional. Dari Tebuireng dan PWNU Jawa Timur ia belajar memimpin. Kini, Gus Kikin mendapat amanah untuk membawa seluruh pengalaman itu ke PBNU.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








