
JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengusulkan Aswaja Center menjadi salah satu lembaga resmi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Usulan tersebut akan dibawa ke Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27–31 Agustus 2026.
Usulan itu mengemuka dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Aswaja Center NU yang digelar di Masjid Jami’ Pesantren Tambakberas, Sabtu (29/8/2026). Forum tersebut dihadiri delegasi Aswaja Center dari sejumlah daerah, antara lain Jawa Timur, Jawa Barat, Makassar, dan Gorontalo.
Koordinator Aswaja Center NU Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin, mengatakan usulan menjadikan Aswaja Center sebagai lembaga NU masih dalam pembahasan dan belum menjadi keputusan Muktamar.
“PWNU Jatim sudah memiliki Pokja Aswaja Center sejak 2011 dan sejumlah cabang juga telah mengembangkan kegiatan serupa. Ini sejalan dengan nilai Aswaja yang menjadi ruh NU,” kata Ma’ruf.
Menurut dia, kelembagaan Aswaja Center diperlukan untuk memperkuat kajian, pendidikan, dan penyebarluasan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman.
Dalam Silatnas tersebut, Ma’ruf juga meluncurkan “Buku Induk Aswaja NU”. Buku tersebut memuat tiga prinsip Aswaja, dalil mengenai tradisi Yasin, tahlil, tawassul dan haul, serta sejarah NU dengan menampilkan sejumlah tokoh yang berperan dalam proses awal berdirinya organisasi.
Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, KH Balya Firjaun Barlaman, mengatakan Aswaja tidak dapat dipisahkan dari tiga dimensi ajaran Islam, yakni iman, Islam, dan ihsan.
Menurut dia, prinsip tersebut kemudian dikembangkan dalam tradisi keilmuan NU melalui tiga bidang utama, yakni akidah, syariah, dan tasawuf.
“Tiga serangkai itu diterapkan NU melalui akidah Imam Asy’ari dan Imam Maturidi, syariah melalui empat mazhab, serta tasawuf melalui Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali,” ujar Balya.
Ia mengatakan kekhasan NU terletak pada pengembangan dan pengajaran tradisi keilmuan tersebut melalui sebuah organisasi kemasyarakatan.
Sementara itu, Wakil Ketua Aswaja Center PWNU Jatim, KH Faris Khoirul Anam, mengatakan pemahaman Aswaja perlu ditempatkan sebagai ilmu sekaligus pembentukan karakter. Prinsip tersebut tercermin dalam sikap tawassut, tawazun, i’tidal, dan tasamuh.
Menanggapi pertanyaan peserta mengenai hubungan Aswaja dengan ukhuwah Islamiyah, Faris mengatakan prinsip Aswaja tidak diarahkan untuk membangun permusuhan dengan kelompok lain.
“Aswaja merupakan ilmu sekaligus mental dan karakter yang dapat menjadi problem solver. Prinsip jalan tengah, misalnya melalui qiyas, menjadi salah satu cara menyikapi persoalan secara proporsional,” katanya.
Muktamar dan Agenda Literasi
Selain Silatnas Aswaja Center, sejumlah komunitas turut menggelar kegiatan yang berkaitan dengan penguatan literasi dan sejarah NU selama Muktamar ke-35.
Komunitas Nahdlatur Turots menggelar pameran sekitar 2.000 turots, berupa naskah peninggalan ulama dan karya-karya keislaman klasik. Sebagian koleksi tersebut telah melalui proses digitalisasi.
Jaringan Penulis dan Penggerak Literasi (JPPL) bersama Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PWNU Jawa Timur juga merumuskan buku sejarah berbasis dokumen. Upaya tersebut ditujukan untuk memperkaya penulisan sejarah NU dengan merujuk pada sumber-sumber dokumenter.
Sementara itu, Majelis Alumni IPNU dan IPPNU mendorong agar Muktamar ke-35 tidak hanya berfokus pada persoalan pergantian kepemimpinan. Forum tersebut juga dinilai perlu membahas agenda NU Abad Kedua untuk periode 2026–2031, terutama dalam merespons perubahan akibat perkembangan teknologi digital.
Dengan demikian, berbagai forum dan kegiatan pendukung Muktamar ke-35 tidak hanya menjadi ruang pembahasan mengenai kepemimpinan NU, tetapi juga mempertemukan gagasan mengenai penguatan Aswaja, pelestarian khazanah keislaman, penulisan sejarah, serta arah NU menghadapi era digital.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








