
JOMBANG, CAKRAWARTA.com – KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab dianugerahi gelar Bapak Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI) Nahdlatul Ulama dalam rangkaian Istighotsah untuk menyukseskan Muktamar ke-35 NU di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (20/8/2026) malam.
Gelar tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan atas peran Mbah Wahab dalam membina dan membawa tradisi Jam’iyah Hadrah yang kemudian dikenal sebagai ISHARI ke dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.
Sekretaris PW ISHARI NU Jawa Timur Gus Nu’am Abud mengatakan, Mbah Wahab memiliki perhatian terhadap perkembangan Jam’iyah Hadrah yang dirintis KH Abdurrohim bin Abdul Hadi di Pasuruan. Tradisi tersebut dinilai memiliki potensi besar sebagai media dakwah sekaligus sarana menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Menurut Nu’am, pada 23 Januari 1959 atau 15 Rajab 1378 Hijriah, Mbah Wahab membawa Jam’iyah Hadrah yang saat itu dikenal sebagai Terbang Abdurrahiman ke dalam organisasi NU. Jam’iyah tersebut kemudian diberi nama Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia atau ISHARI.
“Mbah Wahab melihat bahwa tradisi hadrah yang berkembang di masyarakat memiliki potensi dakwah yang kuat. Karena itu, beliau ikut mendorong agar jam’iyah ini menjadi bagian dari lingkungan NU,” ujar Nu’am.
Dalam proses tersebut, sejumlah tokoh NU turut terlibat, antara lain KH Bisri Syansuri, KH Syaifuddin Zuhri, KH Ahmad Syaiku, dan KH Muhammad bin Abdurrokhim, putra KH Abdurrohim bin Abdul Hadi.
Dua tahun kemudian, pada 6 Agustus 1961, Mbah Wahab mengirim surat tulisan tangan kepada KH Muhammad bin Abdurrokhim agar segera membentuk Pengurus Pusat ISHARI sekaligus menyiapkan sekretariat yang berkedudukan di Surabaya.
Pembentukan Pengurus Pusat ISHARI kemudian dilakukan pada 9 September 1961 melalui rapat yang dihadiri ulama PBNU dan tokoh hadrah se-Jawa Timur di Jalan Ronggolawe Nomor 23, Surabaya. Dalam kepengurusan tersebut, Mbah Wahab ditetapkan sebagai pembina dan pelindung, sedangkan KH Muhammad bin Abdurrokhim dipercaya sebagai ketua.
Perkembangan ISHARI terus berlanjut. Pada 28 Desember 1962, PP ISHARI mengajukan permohonan kepada PBNU agar organisasi tersebut ditempatkan dalam badan pembinaan NU. Saat itu, ISHARI disebut telah memiliki sekitar 40.000 anggota yang tersebar di 20 cabang di Jawa Timur.
Peran Mbah Wahab juga terlihat dalam Muktamar NU ke-23 di Surakarta. Ia mengirim surat kepada panitia agar ISHARI diberikan kesempatan dan tempat untuk menampilkan seni hadrah dalam forum permusyawaratan NU tersebut.
“Di Muktamar Solo itu pula, ISHARI ditetapkan secara resmi sebagai organisasi yang berada di bawah pembinaan Pengurus Syuriah NU,” kata Nu’am.
Dari Tradisi Pasuruan ke Jawa Timur
ISHARI berakar dari Jam’iyah Terbang Abdurrahiman yang didirikan KH Abdurrohim bin Abdul Hadi di Pasuruan. Awalnya, kegiatan tersebut berkembang sebagai majelis shalawat dan sarana menumbuhkan kecintaan masyarakat kepada Nabi Muhammad SAW.
Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi ekspresi seni yang memadukan lantunan shalawat, gerak, dan rodad, disertai tepukan tangan para jamaah. Perpaduan itu menjadikan hadrah tidak hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga bagian dari tradisi keagamaan masyarakat.
Dari Pasuruan, tradisi tersebut berkembang ke sejumlah daerah, antara lain Lumajang, Malang, Mojoagung, Jombang, Surabaya, Madura, dan wilayah lainnya di Jawa Timur.
Perkembangan itu tidak terlepas dari peran putra-putra KH Abdurrohim, seperti KH Muhammad di Pasuruan, KH Abdurrahman di Malang, KH Sami’ di Gresik, dan KH Abdul Hadi di Jombang, bersama para santrinya.
Dalam perjalanan organisasi NU, posisi ISHARI kemudian semakin kuat. Pada Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021, ISHARI ditetapkan sebagai salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama.
Penganugerahan gelar Bapak ISHARI kepada Mbah Wahab menjelang Muktamar ke-35 NU di Tambakberas menjadi momentum untuk kembali mengingat hubungan historis antara tradisi hadrah, dakwah, dan perjalanan Nahdlatul Ulama.
Bagi ISHARI, penghormatan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar seni hadrah tetap berkembang sebagai bagian dari khazanah budaya dan dakwah NU di tengah perubahan zaman.(*)
Kontributor: Ishari/Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








