Delegasi Hong Kong Pelajari Pengelolaan Masjid Al-Akbar Surabaya

Delegasi YME Hong Kong berfoto bersama dengan BPP MAS dalam kunjungan  mereka ke Masjid Al Akbar Surabaya, Selasa (4/8/2026). (foto: BPP MAS untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Sebanyak 15 delegasi Yayasan Medical and Education (YME) Hong Kong mengunjungi Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Selasa (4/8/2026). Kunjungan tersebut menjadi ajang berbagi pengalaman mengenai pengelolaan masjid sekaligus mempererat hubungan masyarakat Muslim Indonesia dan Hong Kong.

Rombongan yang dipimpin Dr Jimmy Yong itu diterima Ketua Badan Pelaksana Pengelola (BPP) Masjid Al-Akbar Surabaya KHM Sudjak, Bendahara BPP HM Soedarto, serta jajaran pengelola. Selain berdialog, para delegasi meninjau sejumlah fasilitas, antara lain Menara 99 meter, studio radio dan digital, serta berbagai unit pelayanan yang dimiliki masjid.

Jimmy Yong mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Masjid Al-Akbar. Ia mengatakan telah beberapa kali berkunjung secara pribadi sebelum akhirnya mengajak rekan-rekannya dari Hong Kong untuk melihat langsung aktivitas masjid tersebut.

“Saya sering datang sendiri ke masjid ini. Suasananya sangat nyaman, bahkan saya pernah membaca buku di teras hingga tertidur. Karena itu saya mengajak teman-teman dari Hong Kong untuk berkunjung ke sini,” ujarnya.

Menurut Jimmy, selama berada di Jawa Timur rombongan juga mengunjungi Pesantren Tebuireng di Jombang dan Pesantren Al-Munawar di Bojonegoro sebagai bagian dari upaya mengenal lebih dekat kehidupan pendidikan Islam di Indonesia.

Ia menjelaskan, komunitas Muslim di Hong Kong terus berkembang dan saat ini memiliki sedikitnya lima masjid besar. Pemerintah setempat, kata dia, juga memberikan ruang bagi pekerja migran Muslim untuk menjalankan ibadah sesuai ketentuan yang berlaku.

Ketua BPP Masjid Al-Akbar Surabaya KHM Sudjak menyambut baik kunjungan tersebut. Menurut dia, pertukaran pengalaman semacam ini menjadi bagian penting dalam memperkuat persahabatan sekaligus memperkenalkan peran masjid di Indonesia yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah.

Sudjak menjelaskan, Masjid Al-Akbar yang dibangun pada 1995 dan diresmikan Presiden Abdurrahman Wahid pada 10 November 2000 terus mengembangkan fungsi pelayanan kepada masyarakat. Selain sebagai pusat ibadah, masjid juga menyediakan layanan kesehatan melalui Rumah Sehat, pendidikan formal dan non formal, pembinaan generasi muda, hingga berbagai kegiatan bagi kelompok lanjut usia.

“Masjid harus menjadi ruang yang ramah bagi semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, lansia, penyandang disabilitas, hingga tamu dari berbagai latar belakang agama dan negara,” kata Sudjak yang juga Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) provinsi Jawa Timur itu.

Ia menambahkan, pengelolaan kebersihan, keamanan, dan kenyamanan menjadi perhatian utama agar jamaah dapat beribadah dengan tenang. Menurutnya, konsep tersebut menjadikan Masjid Al-Akbar sebagai salah satu rujukan pengelolaan masjid yang mengintegrasikan fungsi keagamaan, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial bagi masyarakat.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi