Baru Dibuka Semalam, Pelatihan Khatib-Imam NU di UPN Langsung Penuh, 200 Peserta Masih Antre

Ketua LD PWNU Jatim, KH. Syukron Djazilan Badri (tengah) dalam momen Pelatihan Khatib dan Imam Profesional NU di Kampus UPN Veteran Jatim, Surabaya, Sabtu (19/9/2026). (foto: LD PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Baru dibuka, pendaftaran pelatihan khatib dan imam profesional NU langsung penuh hanya dalam waktu semalam. Dari kapasitas awal yang disiapkan untuk 100 peserta, panitia bahkan mengaku masih harus menolak sekitar 200 calon peserta lain yang ingin mengikuti pelatihan.

Tingginya animo tersebut terlihat dalam Pelatihan Khatib dan Imam Profesional NU yang digelar Lembaga Dakwah (LD) PWNU Jawa Timur bekerja sama dengan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur di kampus UPN, Surabaya, Sabtu (19/9/2026).

Ketua pelaksana kegiatan, H. Mirwan, mengatakan pendaftaran terpaksa ditutup lebih cepat karena kuota yang disediakan telah terpenuhi.

“Ya, peminat membeludak. Dari kapasitas 100 peserta yang direncanakan, hanya dalam waktu semalam ternyata link pendaftaran sudah ditutup, karena target peserta sudah terpenuhi,” kata Mirwan.

Antusiasme tersebut ternyata tidak berhenti setelah pendaftaran ditutup. Menurut Mirwan, masih banyak masyarakat yang menghubungi panitia dan berharap tetap dapat mengikuti pelatihan.

“Hebatnya, mereka tidak hanya berasal dari Jawa Timur, tapi banyak juga yang dari beberapa provinsi lain di luar Jawa. Masih ada sekitar 200 peserta lagi yang ingin menjadi peserta tapi belum bisa kami penuhi,” ujarnya.

Besarnya animo tersebut membuat kegiatan yang awalnya dirancang dalam skala terbatas justru membuka kemungkinan untuk dikembangkan menjadi program yang lebih luas.

Rektor UPN Veteran Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. H. Akhmad Fauzi, MMT, IPU, menyatakan kesiapannya apabila pelatihan serupa kembali digelar di kampus tersebut.

Bahkan, ia mendorong agar cakupan kegiatan tidak berhenti pada peserta dari Jawa Timur. “Kalau perlu tidak se-Jawa Timur, tapi diperluas lagi, se-Indonesia,” ujarnya saat membuka acara. Pernyataan tersebut langsung disambut tepuk tangan peserta.

Di balik tingginya minat mengikuti pelatihan, terdapat persoalan yang menjadi perhatian LD PWNU Jawa Timur: bagaimana menyiapkan dai, khatib, dan imam yang tidak hanya menguasai materi keagamaan, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan generasi muda.

Ketua LD PWNU Jawa Timur, Dr. KH. Syukron Djazilan Badri, S.Ag., M.Ag., M.Pd., mengatakan berdasarkan penelitian yang dirujuknya, sekitar 65 persen penduduk Indonesia berafiliasi dengan NU. Namun, menurut dia, besarnya basis tersebut belum otomatis menjamin keterikatan generasi muda dengan NU.

“Bagaimana menjadi da’i yang menarik bagi remaja agar mereka semakin dekat dengan NU,” kata Syukron, yang juga Ketua MUI Kota Surabaya dan dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) itu.

Persoalan tersebut membuat kemampuan berdakwah menjadi semakin penting. Seorang khatib atau dai tidak cukup hanya mampu menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga dituntut memahami cara berkomunikasi dengan jamaah yang terus berubah, terutama generasi muda.

Karena itu, pelatihan tidak hanya berisi teori. Peserta mendapatkan materi mengenai strategi retorika, fikih imam dan khutbah Jumat, pembinaan bacaan Al-Qur’an, hingga praktik khutbah Jumat.

Materi disampaikan oleh para praktisi yang berpengalaman. Suasana pelatihan juga dibuat tidak kaku dengan selingan humor dan pengalaman praktis para pemateri dalam menjalankan tugas sebagai khatib maupun imam.

Pendekatan tersebut membuat peserta tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi juga terlibat dalam pembahasan dan praktik.

Namun, pelatihan tidak berhenti ketika acara ditutup. Setiap peserta diwajibkan menyusun materi khutbah Jumat dalam waktu satu pekan. Setelah tugas tersebut diselesaikan dan dikirim kepada panitia, sertifikat kelulusan baru diberikan.

Dengan pola tersebut, peserta tidak sekadar hadir, mendengarkan materi, lalu pulang membawa sertifikat. Ada tugas lanjutan yang menjadi bagian dari proses evaluasi kemampuan peserta.

Tingginya jumlah peminat yang belum tertampung sekaligus menjadi sinyal bahwa kebutuhan terhadap peningkatan kapasitas khatib dan imam masih cukup besar. Terlebih, tantangan dakwah kini tidak hanya berada di mimbar masjid, tetapi juga bersentuhan dengan perubahan perilaku dan pola komunikasi generasi muda.

Jika animo tersebut terus berkembang, gagasan memperluas pelatihan hingga tingkat nasional sebagaimana disampaikan Rektor UPN Veteran Jawa Timur bukan lagi sekadar wacana. Setidaknya, angka pendaftaran menunjukkan adanya pasar peserta yang cukup besar untuk program semacam itu.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi