
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Banyak mahasiswa merasa telah menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Namun, hasil penelitian terbaru justru menunjukkan gambaran yang berbeda. Sebanyak 69 persen mahasiswa menilai kemampuan berbahasa Indonesia mereka sudah baik, tetapi hasil pengukuran kompetensi memperlihatkan rata-rata kemampuan kebahasaan mereka hanya mencapai 41 persen.
Temuan tersebut disampaikan Syarifudin Yunus, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Indraprasta PGRI sekaligus pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka Bogor. Penelitian dilakukan bersama Dewi Indah Susanti dan dipublikasikan dalam Jurnal Alinea (Sinta 2) edisi Juli 2026.
“Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap kemampuan berbahasa Indonesia belum tentu mencerminkan kompetensi yang sebenarnya. Ada kesenjangan yang perlu menjadi perhatian perguruan tinggi,” kata Syarifudin, Rabu (22/7/2026).
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif terhadap 42 mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia Universitas Indraprasta PGRI yang dipilih melalui teknik simple random sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi mahasiswa pada aspek morfologi hanya mencapai 43 persen. Sementara itu, kompetensi sintaksis dan semantik masing-masing berada pada angka 40 persen. Secara keseluruhan, rata-rata kompetensi kebahasaan mahasiswa tercatat sebesar 41 persen.
Padahal, berdasarkan survei persepsi yang dilakukan dalam penelitian yang sama, sebanyak 69 persen responden mengaku yakin telah memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang baik. Perbedaan yang cukup mencolok itu menunjukkan bahwa rasa percaya diri mahasiswa belum sepenuhnya sejalan dengan kemampuan kebahasaan yang mereka miliki.
Menurut Syarifudin, kondisi tersebut perlu menjadi evaluasi bagi perguruan tinggi, terutama program studi yang mencetak calon guru Bahasa Indonesia.
“Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia semestinya menjadi teladan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena itu, penguasaan teori harus diimbangi dengan kompetensi yang terukur melalui praktik membaca, menulis, berbicara, dan berpikir kritis,” ujarnya.
Penelitian tersebut juga mengungkap fakta lain. Sebanyak 81 persen responden menyatakan berminat menjadi guru Bahasa Indonesia. Tingginya minat itu dinilai sebagai modal positif, tetapi harus diiringi dengan peningkatan kompetensi agar lulusan benar-benar siap menjadi pendidik profesional.
“Jangan sampai mahasiswa merasa sudah mahir berbahasa Indonesia, tetapi ketika diuji secara objektif kemampuan mereka masih belum sesuai harapan. Persepsi harus dibangun di atas kompetensi yang nyata,” kata Syarifudin.
Ia menjelaskan, kesenjangan antara persepsi dan kompetensi dipengaruhi berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi motivasi belajar, minat, dan kepercayaan diri mahasiswa. Adapun faktor eksternal mencakup kualitas pembelajaran, metode pengajaran, lingkungan sosial, serta pengalaman literasi mahasiswa.
Karena itu, menurut Syarifudin, penguatan kompetensi kebahasaan tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran teoretis.
“Mahasiswa harus lebih banyak berlatih menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi nyata. Kampus juga perlu membangun budaya literasi yang kuat sehingga mahasiswa terbiasa membaca, menulis, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan secara sistematis,” ujarnya.
Sebagai pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor, Syarifudin menilai budaya literasi memiliki hubungan erat dengan kemampuan berbahasa seseorang.
“Literasi merupakan fondasi kemampuan berbahasa. Semakin tinggi intensitas membaca dan menulis, semakin baik pula kemampuan seseorang dalam memahami informasi, menyusun argumen, dan berkomunikasi secara efektif,” katanya.
Penelitian berjudul “Analisis Kesenjangan antara Persepsi dan Kompetensi Berbahasa Indonesia serta Faktor-Faktor Determinannya pada Mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia” itu telah terbit pada Juli 2026 dengan DOI 10.58218/alinea.v6i2.3071.
Syarifudin berharap hasil penelitian tersebut menjadi masukan bagi perguruan tinggi untuk memperkuat pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih aplikatif dan berbasis praktik. Menurut dia, penyelarasan antara persepsi dan kompetensi menjadi penting agar mahasiswa mampu menilai kemampuan dirinya secara objektif sekaligus terus meningkatkan kualitas berbahasa sebagai bekal memasuki dunia akademik maupun dunia kerja.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








