
TULUNGAGUNG, CAKRAWARTA.com – Wajah Wahyudiono menyiratkan kegembiraan. Setelah bertahun-tahun tinggal di rumah beratap bocor, berdinding penuh lubang, dan berlantai tanah, warga Desa Pakisrejo, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung, itu kini menanti rumah yang lebih layak untuk keluarganya.
Rumah Wahyudiono tengah direnovasi melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), hasil kerja sama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kodam V/Brawijaya.
Bagi Wahyudiono, perbaikan rumah tersebut menjadi harapan baru. Puluhan tahun ia dan keluarganya bertahan dalam kondisi hunian yang serba terbatas.
Saat hujan turun, air kerap menetes dari atap yang bocor. Sejumlah bagian dinding rumah juga berlubang. Sementara itu, lantai yang masih berupa tanah membuat kondisi rumah jauh dari nyaman.
”Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kodam V/Brawijaya yang telah memperbaiki rumah saya,” kata Wahyudiono saat ditemui di rumahnya, Senin (13/7/2026).
Rumah itu kini masih dalam proses renovasi. Namun, bagi Wahyudiono, perubahan yang berlangsung sedikit demi sedikit telah mendekatkan keluarganya pada impian sederhana: tinggal di rumah yang aman dan nyaman.
Wahyudiono bukan satu-satunya penerima manfaat. Sebanyak 574 rumah tidak layak huni di wilayah Korem 081/Dhirotsaha Jaya menjadi sasaran program Rutilahu pada 2026.
Kepala Penerangan Korem 081/DSJ Mayor Inf Ismail mengatakan, ratusan rumah tersebut tersebar di enam kabupaten di Jawa Timur.
”Untuk tahun 2026, total ada 574 unit rumah di wilayah kami yang menjadi sasaran program Rutilahu hasil kerja sama Pemprov Jawa Timur dan Kodam V/Brawijaya,” ujar Ismail.
Sebanyak 105 rumah berada di Kabupaten Trenggalek dan 95 rumah di Kabupaten Tulungagung. Adapun Kabupaten Madiun, Ngawi, Blitar, dan Nganjuk masing-masing mendapat alokasi renovasi sebanyak 94 rumah.
Menurut Ismail, program tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh hunian yang lebih layak. Kolaborasi pemerintah daerah dan TNI itu tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik bangunan.
Kondisi rumah yang lebih layak diharapkan turut meningkatkan kualitas kesehatan, keamanan, dan kesejahteraan keluarga penerima bantuan.
”Kami berharap program ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat penerima bantuan. Rumah yang sebelumnya tidak layak huni dapat berubah menjadi tempat tinggal yang lebih aman, sehat, dan nyaman bagi keluarga,” kata Ismail.
Bagi Wahyudiono, manfaat itu kini mulai terlihat di depan mata. Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat keluarganya berlindung dalam keterbatasan perlahan berubah. Atap bocor, dinding berlubang, dan lantai tanah yang akrab dengan kesehariannya segera menjadi bagian dari masa lalu.(*)
Kontributor: Arwang
Editor: Abdel Rafi








