Pembinaan Guru Ekskul, SMP Al Hikmah Surabaya Fokus Bentuk Pendididikan Beradab dan Berprestasi

Suasana Pembinaan Guru Ekskul SMP Al Hikmah Surabaya sesi Waka Kesiswaan Susi Setyaningsih didampingi Mohammad Shodiqin dan Agus Suyono, Korbid Ekstrakurikuler SMP Al Hikmah Surabaya, Jumat (10/7/2026). (foto: Abdel Rafi/Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Libur sekolah merupakan waktu yang tepat untuk menguatkan soliditas setiap elemen pendidikan dalam sekolah. Ada beragam cara, mulai dari memberangkatkan para guru dan tendik untuk tur studi, melaksanakan rapat kerja, hingga
model-model pembinaan lain.

Namun, biasanya ada satu elemen pendidikan yang acapkali tak tersentuh pembinaan, yakni elemen guru ekskul. Di antara sekolah yang masih peduli dan memperhatikan pembinaan guru ekskul itu, salah satunya SMP Al Hikmah Surabaya.

Sebelum jadwal masuk sekolah, SMP Al Hikmah lagsung tancap gas mengumpulkan seluruh guru ekskulnya di Ruang Rapat Lobi, SMP Al Hikmah Surabaya, pada Jumat siang (10/7/2026). Tidak sekadar temu kangen atau formalitas belaka, namun guru ekskul juga ditata agar selaras dengan visi sekolah, khususnya visi mencetak murid yang berjiwa pemimpin.

“Kepemimpinan yang dimulai dari diri sendiri itu penting. Sebab ia menjadi pijakan menuju kepemimpinan di level yang lebih luas. Jadi, kepemimpinan diri merupakan penentu arah dan kebudayaan sekolah. Kualitas diri, menentukan kualitas lembaga,” jelas Mohammad Sodiqin selaku Kabid Ekstrakulikuler Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Al Hikmah mengawali pembinaan.

Ustadz Sodikin -sapaan akrabnya- juga memberikan penjelasan mengenai langkah-langkah taktis ketika para guru ekskul menangani situasi krisis bersama muridnya.

“Sebagai contoh, ketika sedang di lapangan tiba-tiba ada murid yang cedera. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah Problem Report, identifikasi terlebih dahulu masalahnya, sebabnya, situasi sebenarnya yang terjadi. Gali informasi yang presisi dari anak yang cedera, hingga teman-temannya. Lalu, laporkan pada korbid ekskul yang akan dilanjutkan ke Waka hingga Wali Murid. Langkah kedua, Problem Analyze, setelah menggali informasi yang cukup, lakukan analisa terhadap sebab-sebab terjadinya situasi krisis tersebut. Misal, cederanya karena kurang pemanasan, kurang pengaman, sepatu tidak standar, dan lain-lain, ” urai Sodikin.

Sodikin melanjutkan,”Langkah ketiga adalah Problem Solver, ketika informasi telah cukup, laporan dan analisa sudah disampaikan, maka anak yang cedera ini perlu dirawat atau dibawa ke tempat aman. Bisa UKS atau faskes terdekat. Ketika langkah-langkah ini dijalankan dengan baik, maka situasi krisis akan terkendali, ” tutupnya.

Selain dari pihak yayasan, pembinaan juga diberikan langsung oleh Kepala Sekolah SMP Al Hikmah Surabaya, Abu Said Qhodri. Ia menekankan pentingnya aspek beradab dan berprestasi

“Para ustadz-ustadzah guru ekskul perlu senantiasa mendorong para murid untuk berprestasi, ikut lomba, akademik maupun non-akademik. 1 anak 1 prestasi per semester,” terang Ustadz Qhodri – sapaan akrabnya-.

“Namun prestasi itu haruslah bertumpu pada adab yang baik. Tidak masalah hilang 5, 10, 15 menit untuk mengondisikan murid agar siap menerima pelajaran. Bahkan hilang 1 pertemuan penuh untuk mendidik adab para murid agar menghormati Guru pun tidak masalah. Sampai nantinya berangsur-angsur murid mulai memahami maksud baik guru,” tegas Qhodri di hadapan 20 guru ekskul.

Terakhir, pembinaan disampaikan Susiani Setyaningsih yang juga Waka Kesiswaan SMP Al Hikmah Surabaya. Di sesi akhir pembinaan ini banyak apresiasi diberikan kepada guru ekskul teladan.

“Kami ucapkan terimakasih banyak pada ustadz-ustadzah semua yang sudah membina para murid. Kami mengapresiasi pula para guru yang memiliki nilai supervisi paling tinggi, modul ajar terbaik, hingga yang selalu datang awal dan tak pernah terlambat. Selamat”, ucap Ustadzah Susi – sapaan akrabnya- sembari menyerahkan beragam hadiah.

Pembinaan Guru Ekskul SMP Al Hikmah Surabaya ini pun ditutup dengan evaluasi serta tindak lanjut bersama. Diharapkan pembinaan ini dapat menjadi bekal proses belajar mengajar ekskul. Sehingga penanaman adab, peningkatan kompetensi, hingga diraihnya prestasi dapat tercapai. Sinergi ini perlu dilakukan agar tujuan utama pendidikan tercapai, menciptakan manusia-manusia yang baik di dunia dan akhirat.(*)

Kontributor: Abdel Rafi

Editor: Umar Faruq