Jumat Duka Bersama Sebuah Legasi Hayati

(foto: penulis bersama mendiang Hi. Rachmat Gobel pada sebuah acara Partai Nasdem di Jakarta 2023)

“Opo’o to lipu, mo’ati lo hulondalo, mo’ati lo Allahu” atau “Wahai keluarga, sabarlah dalam duka, ikhlaslah dalam kehilangan, dan serahkanlah segalanya kepada Allah.” — “Tinilo Pa’ita.” (Nasehat Kematian dalam budaya Gorontalo)

Jumat dini hari, ketika pertandingan World Cup 2026 antara Perancis dan Maroko baru berlangsung beberapa menit, kabar duka beredar dari sebuah rumah sakit di Jakarta.

Kabar itu, wafatnya seorang pengusaha sekaligus politisi Partai Nasdem, Dr. (HC) Hi. Rachmat Gobel SE, Ketua Nasdem Provinsi Gorontalo dan anggota DPR RI dari Dapil Gorontalo.

Pada Jumat dini hari, 10 Juli 2026, pukul 03.20 WIB, beliau menunai panggilan Allah dan meninggalkan istri tercinta Retno Damayanti, dua anak Nurfitria Sekarwillis Kusumawardhani dan Mohammad Arif Gobel, serta cucu-cucu dan keluarga besar yang disayanginya.

Kematian ini mengguncang duka akbar, bukan hanya bagi keluarga besar Gobel dan Partai Nasdem, tetapi juga bagi warga Gorontalo yang melihatnya sebagai pewaris legasi industri elektronik Gobel, kelak Panasonic Gobel.

Namun duka bukan sekadar kesedihan, melainkan pengingat bahwa hidup dan mati adalah siklus semesta.

Satu-satunya etape vertikal untuk “menguji manusia siapa yang paling baik amalannya“(ahsanu amala).

Obituari ini tak bisa dilepaskan dari jejak dan legasi ayahandanya, Drs. Thayeb Mohammad Gobel, pelopor industri elektronik Indonesia sejak awal 1970-an, yang kisah hidupnya diabadikan dalam dua buku biografi.

Pertama, dalam Gobel: Pelopor Industri Elektronik Indonesia dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang (1994) dari Ramadhan KH, Thayeb Gobel digambarkan sebagai sosok yang menemukan falsafah hidup dari pohon pisang yang memberi manfaat total, dari buah, daun, hingga batang, dan sebelum rebah menyiapkan tunas baru.

Ia pun menasihati anak-anaknya, termasuk mendiang Rachmat, bahwa ukuran hidup bukanlah seberapa lama bertahan, melainkan “seberapa banyak nilai yang tetap tumbuh setelah ia pergi.”

Prinsip ini menjadi fondasi Gobel Group, meneguhkan tradisi regenerasi dan pengabdian tanpa pamrih.

Sementara itu, dalam Gobel, Budaya dan Ekonomi: Tentang Wirausaha, Manajemen, dan Visi Industri Thayeb Mohammad Gobel (1998) karya Fachry Ali, Imam Ahmad, Didik Rachbini dan kawan-kawan, legasi keluarga Gobel ditampilkan sebagai integrasi budaya Gorontalo dengan visi industri modern.

Thayeb Gobel atau sering disapa Ka Ebu menasihati bahwa “usaha adalah amanah, bukan sekadar keuntungan,” menegaskan bahwa setiap langkah bisnis harus dipertanggungjawabkan di hadapan manusia dan Tuhan.

Ia juga mengingatkan, “hidup di dunia hanya sementara, tetapi nilai yang kita tanam akan menjadi bekal di akhirat,” sehingga usaha harus seperti doa: ikhlas, berkesinambungan, dan diserahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Wafatnya, sang pewaris “falsafah Gobel“ -dari asal kata serapan bahasa Arab, Hubb (هاب); tingkatan cinta tertinggi dalam tradisi sufisme bertransformasi dalam lafal Gorontalo, “Hubulo“(Terbelandakan: Gobel)- mendiang Rachmat Gobel (1962-2026), dalam hidupnya, telah menunaikan amanah itu.

Ia meneruskan falsafah ayahandanya, membangun industri elektronik, dan mengabdikan diri secara totalitas dalam politik untuk Gorontalo.

Kini, kepergiannya menjadi penutup satu bab, tetapi nilai yang ia tanam tetap tumbuh sebagai bekal akhirat dan warisan dunia.

Akhirnya, dalam ritual Posobhaghoo Motonuno juga menegaskan makna spiritual kematian.

Dalam prosesi penyucian jenazah dengan kapur sirih, doa-doa dilantunkan dengan pesan, “Lo hulondalo, lo Allahu, mo’ati lo to lipu” yang berarti, “Untuk Gorontalo, untuk Allah, sabarlah wahai keluarga.”

Pesan ini menekankan keseimbangan antara penghormatan sosial dan pengabdian spiritual.

Dengan demikian, nasehat kematian dalam bahasa Gorontalo selalu menekankan tiga hal yaitu sabar dalam menghadapi kehilangan, ikhlas menerima takdir, dan menjadikan kematian sebagai pengingat bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan menuju akhirat.

#cover Quran: Surah Yaseen oleh Md. Anisur Rahman resmi dirilis pada 12 Maret 2026 melalui Zikrullah TV, diproduseri oleh Mohammad Amin Nadaf. Album ini hadir dalam berbagai versi rekaman, termasuk studio, live, akustik, dan majlis, yang menekankan lantunan tilawah dengan nuansa spiritual mendalam.

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan