
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Pemuda Cinta Tanah Air (PITA) menilai penyelenggaraan ibadah haji 2026 menunjukkan perbaikan, terutama pada layanan transportasi antarlokasi ibadah, distribusi katering, dan pengelolaan pergerakan jamaah di Tanah Suci.
Bendahara Umum PITA Deni Martanti mengatakan, perbaikan tersebut terlihat dari berkurangnya keluhan jamaah mengenai sejumlah layanan yang pada tahun-tahun sebelumnya kerap menjadi perhatian, khususnya ketepatan bus dan distribusi konsumsi.
”Kami mengapresiasi kerja keras dan keseriusan Kementerian Haji dan Umrah dalam mengelola penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. Persoalan yang selama ini sering menjadi perhatian, terutama transportasi bus dan layanan katering, relatif dapat diatasi dengan lebih baik,” kata Deni dalam keterangannya pada media ini, Minggu (21/6/2026).
Menurut Deni, penilaian itu tidak hanya didasarkan pada laporan administratif. PITA, kata dia, juga menghimpun masukan melalui komunikasi langsung dengan sejumlah jamaah Indonesia yang telah menunaikan rangkaian ibadah haji.
Dari komunikasi tersebut, sejumlah jamaah menilai layanan transportasi, konsumsi, serta respons petugas mengalami peningkatan dibandingkan musim haji sebelumnya. Ketepatan waktu bus dan distribusi katering disebut menjadi dua aspek yang paling banyak mendapat perhatian jamaah.
”Apresiasi ini didasarkan pada data dan fakta lapangan yang kami peroleh melalui komunikasi langsung dengan jamaah. Banyak jamaah mengakui pelayanan tahun ini lebih baik, terutama terkait ketepatan layanan bus, distribusi katering, serta respons petugas dalam membantu kebutuhan jamaah,” ujar Deni.
Ia menambahkan, pengalaman langsung jamaah perlu menjadi salah satu ukuran utama dalam mengevaluasi penyelenggaraan haji. Sebab, kualitas pelayanan pada akhirnya tidak hanya tercermin dalam kelancaran administrasi, melainkan juga dalam kenyamanan jamaah selama menjalankan seluruh rangkaian ibadah.
PITA menilai perbaikan layanan haji 2026 tidak terlepas dari perencanaan yang lebih matang, penguatan manajemen pelayanan, serta koordinasi antarpihak yang terlibat dalam penyelenggaraan haji.
Dengan kendala teknis yang dinilai semakin berkurang, jamaah diharapkan dapat lebih fokus menjalankan ibadah. Kondisi itu juga dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab negara untuk memastikan pelaksanaan haji berlangsung aman, nyaman, dan bermartabat.
Meski demikian, Deni mengingatkan bahwa perbaikan tidak boleh berhenti pada satu musim penyelenggaraan. Evaluasi berkelanjutan tetap diperlukan, terutama untuk mengantisipasi kompleksitas pelayanan seiring besarnya jumlah jamaah Indonesia.
”Capaian positif ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Penyelenggaraan haji harus terus diarahkan pada tata kelola yang profesional, transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kebutuhan jamaah,” kata Deni.
Menurut dia, keberhasilan penyelenggaraan haji 2026 dapat menjadi pijakan untuk memperkuat kualitas pelayanan pada musim haji berikutnya.(*)
Editor: Abdel Rafi








