
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan gaya belajar generasi muda, tradisi mengaji kitab kuning terus diupayakan tetap hidup. Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Jawa Timur bersama Pesantren Digipreneur Al Yasmin membuka langkah baru untuk merawat warisan intelektual pesantren melalui pengajian kitab kuning yang menyasar kalangan muda.
Komitmen tersebut ditandai dengan penyelenggaraan Pengajian Rutin MDS Rijalul Ansor Jawa Timur di Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Surabaya, Minggu (7/6/2026). Kegiatan ini menjadi pembuka dari program pengajian berkala yang dirancang sebagai ruang belajar dan penguatan tradisi keilmuan Islam bagi kader-kader muda Nahdlatul Ulama.
Pengurus MDS Rijalul Ansor Jawa Timur dari Pondok Pesantren Lirboyo, Gus Fahdina Ya Rouf, mengatakan pengajian tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan tradisi kajian kitab kuning di tengah perubahan zaman.
“Pengajian ini menjadi program kerja MDS Rijalul Ansor untuk melestarikan tradisi kajian kitab kuning agar tetap dipelajari dan dicintai generasi muda. Insya Allah, kegiatan ini akan digelar secara rutin setiap bulan,” kata Fahdina.
Pada pengajian perdana itu, peserta mengikuti kajian Kitab Adabul Alim wal Muta’allim yang disampaikan Dr Ahmad Kafabihi atau Gus Ahmad Kafa. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya adab sebagai fondasi utama dalam proses menuntut ilmu.
Menurut Ahmad Kafa, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga oleh kualitas akhlak dan sikap seorang pelajar dalam menghormati guru, ilmu, serta proses pembelajaran itu sendiri.
Kegiatan tersebut diikuti perwakilan pengurus cabang MDS Rijalul Ansor dari berbagai daerah di Jawa Timur, mulai Surabaya Raya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto hingga Madura. Kehadiran peserta dari berbagai wilayah menunjukkan besarnya antusiasme kader muda NU untuk kembali menghidupkan tradisi pengkajian kitab-kitab klasik pesantren.
Fahdina menjelaskan, Pesantren Digipreneur Al Yasmin dipilih sebagai lokasi pembukaan karena memiliki posisi yang strategis dan mendapat dukungan penuh dari pengelola pesantren.
“Kami melihat Al Yasmin memiliki semangat yang sama dalam membangun pendidikan keislaman yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi keilmuan pesantren,” ujarnya.
Founder Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Helmy M Noor, menyambut baik kepercayaan yang diberikan kepada lembaganya sebagai tuan rumah kegiatan tersebut. Ia menilai pengajian kitab kuning tetap memiliki relevansi penting dalam membentuk karakter generasi muda di era digital.

“Kami merasa terhormat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga tradisi keilmuan Islam. Pesantren Digipreneur Al Yasmin akan terus mendukung kegiatan yang memperkuat pendidikan keislaman, pembentukan karakter, dan pengembangan kapasitas generasi muda,” kata Helmy.
Bagi Al Yasmin dan MDS Rijalul Ansor Jawa Timur, pengajian ini tidak sekadar agenda rutin organisasi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan modernitas. Di satu sisi, kitab kuning tetap dipertahankan sebagai sumber khazanah keilmuan Islam yang kaya. Di sisi lain, generasi muda didorong untuk tetap adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
Melalui pengajian berkala ini, kader-kader muda NU diharapkan tidak hanya mewarisi tradisi intelektual pesantren, tetapi juga mampu mengembangkannya dalam konteks kehidupan masa kini. Dengan demikian, kitab kuning tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan terus hidup sebagai sumber inspirasi dan panduan bagi generasi mendatang.(*)
Kontributor: Fitrah Al-Yasmin
Editor: Abdel Rafi








