
Tulisan ini dipersembahkan sebagai ungkapan hormat dan terima kasih atas perjalanan panjang pengabdian KH Said Aqil Siroj yang selama lebih dari tujuh dekade menghadirkan teladan tentang bagaimana mencintai Nahdlatul Ulama, menjaga Indonesia, dan merawat kemanusiaan.
Pada 3 Juli 2026 mendatang, KH Said Aqil Siroj akan genap berusia 73 tahun. Sebuah usia yang tidak sekadar menandai perjalanan waktu, tetapi juga merekam jejak panjang pengabdian seorang ulama, intelektual, dan pemimpin yang hampir seluruh hidupnya didedikasikan untuk Nahdlatul Ulama, bangsa Indonesia, dan kemanusiaan.
Menjelang usia tersebut, perjalanan hidup beliau layak direnungkan bukan hanya sebagai kisah seorang tokoh, melainkan sebagai cermin tentang bagaimana ilmu, pengabdian, dan keteladanan dapat bertemu dalam satu perjalanan hidup yang utuh. Di tengah kehidupan kebangsaan yang kerap diwarnai polarisasi, pertarungan kepentingan, dan kecenderungan saling menegasikan satu sama lain, kehadiran sosok yang mampu menjembatani perbedaan menjadi semakin penting. KH Said Aqil Siroj adalah salah satu di antaranya.
Selama puluhan tahun, beliau tidak hanya hadir sebagai ulama yang mengajarkan ilmu keagamaan, tetapi juga sebagai penjaga akal sehat kebangsaan. Melalui berbagai forum, pidato, tulisan, dan sikap hidupnya, beliau terus mengingatkan bahwa Indonesia hanya akan tetap kokoh apabila kebangsaan dan kemanusiaan berjalan beriringan.
Banyak orang mengenal beliau sebagai Ketua Umum PBNU selama dua periode. Sebagian mengenalnya sebagai ulama dengan kedalaman ilmu yang diperoleh dari pesantren dan dunia akademik. Sebagian yang lain mengenalnya sebagai penggagas dan penguat gagasan Islam Nusantara yang kemudian menjadi salah satu identitas penting Islam Indonesia di panggung dunia. Namun lebih dari semua itu, yang paling menonjol dari perjalanan KH Said adalah konsistensinya menjaga titik temu antara agama, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Bagi KH Said, Nahdlatul Ulama tidak pernah hadir untuk dirinya sendiri. NU adalah jalan pengabdian yang harus menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas. Karena itu, ketika berbicara tentang Islam, yang beliau hadirkan bukanlah semangat eksklusivitas, melainkan semangat merangkul. Ketika berbicara tentang kebangsaan, yang beliau perjuangkan bukan dominasi satu kelompok atas kelompok lain, melainkan ikhtiar membangun rumah bersama yang mampu menaungi seluruh anak bangsa.
Pandangan tersebut lahir dari keyakinan bahwa Indonesia adalah takdir sejarah yang harus dirawat bersama. Kebinekaan bukan persoalan yang harus diselesaikan, melainkan kenyataan yang harus diterima dan dikelola dengan kebijaksanaan. Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menegaskan bahwa Pancasila, NKRI, dan semangat persatuan bukanlah ancaman bagi agama, melainkan ruang bersama yang memungkinkan seluruh warga bangsa menjalankan keyakinannya secara damai, bermartabat, dan saling menghormati.
Karena itulah, ketika berbagai bentuk ekstremitas menguat dalam kehidupan sosial maupun politik, gagasan-gagasan KH Said justru semakin menemukan relevansinya. Ketika sebagian orang sibuk mencari perbedaan, beliau mengajak menemukan persamaan. Ketika sebagian orang membangun tembok identitas, beliau membangun jembatan persaudaraan. Ketika agama kerap dijadikan alat pertentangan, beliau menghadirkannya sebagai sumber kasih sayang, kebijaksanaan, dan peradaban.
Sikap tersebut membuat pemikiran KH Said melampaui batas-batas organisasi. Gagasan kebangsaannya tidak lahir dari kepentingan politik sesaat, melainkan dari kesadaran bahwa keutuhan Indonesia adalah syarat utama bagi terwujudnya kemaslahatan umat. Karena itu, beliau selalu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok, tanpa pernah kehilangan kecintaannya kepada Nahdlatul Ulama sebagai rumah pengabdiannya.
Dalam sebuah pidato kebangsaan pada acara Halal Bihalal di Jawa Timur beberapa waktu lalu, KH Said Aqil Siroj mengingatkan bahwa politik tidak boleh kehilangan ruh kebangsaan dan kemanusiaannya. Kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan instrumen untuk menghadirkan keadilan, menjaga persatuan, dan menyejahterakan rakyat.
Pesan tersebut terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Di tengah suasana kebangsaan yang sering kali dipenuhi hiruk-pikuk perebutan kekuasaan, beliau mengingatkan bahwa negara tidak dibangun hanya oleh kemenangan politik, melainkan oleh kemampuan menghadirkan keadilan dan menjaga persaudaraan.
Pesan itu sekaligus mencerminkan konsistensi pandangan beliau selama ini. Agama, politik, dan kebangsaan tidak boleh dipertentangkan, tetapi harus dipertemukan dalam satu tujuan besar: menghadirkan kemaslahatan bagi rakyat dan menjaga martabat kemanusiaan. Ketika banyak orang berbicara tentang perebutan kekuasaan, beliau mengingatkan tentang tanggung jawab moral kekuasaan. Ketika banyak orang sibuk membela kelompoknya masing-masing, beliau mengajak kembali melihat Indonesia sebagai rumah bersama yang harus dijaga oleh seluruh anak bangsa.
Bagi KH Said, Indonesia adalah ladang pengabdian untuk mewujudkan pesan Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling memberi manfaat bagi manusia lainnya. Sekaligus menjadi ruang pengabdian seorang hamba kepada Allah SWT yang menurunkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Di titik inilah gagasan kemanusiaan menjadi benang merah yang sangat kuat dalam perjalanan intelektual dan sosial beliau. Keberagamaan, dalam pandangannya, tidak berhenti pada ritual dan simbol, melainkan harus menghadirkan penghormatan terhadap martabat manusia. Karena itu, nilai keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap perbedaan selalu menjadi bagian penting dari cara beliau memahami agama dan kehidupan berbangsa.
Agama, menurut beliau, harus menjadi sumber inspirasi untuk membangun peradaban yang lebih manusiawi. Ia harus menghadirkan harapan bagi mereka yang lemah, perlindungan bagi mereka yang rentan, dan persaudaraan bagi mereka yang berbeda. Karena itulah perjuangan menjaga Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjuangan menjaga kemanusiaan itu sendiri.
Menjelang usia 73 tahun, KH Said Aqil Siroj telah melewati berbagai fase kehidupan baik sebagai santri, akademisi, ulama, pemimpin organisasi, dan tentu saja sebagai tokoh bangsa. Namun di atas semua itu, beliau tetap seorang pembelajar yang meyakini bahwa pengabdian tidak mengenal batas usia. Pengabdian adalah perjalanan panjang untuk menghadirkan manfaat bagi sesama, merawat persatuan, dan menjaga harapan.
Mungkin itulah warisan terbesar yang dapat dipetik dari perjalanan beliau. Bahwa menjadi besar bukanlah soal jabatan, melainkan soal kebermanfaatan. Bahwa menjadi pemimpin bukanlah soal kekuasaan, melainkan soal keteladanan. Dan bahwa mencintai Indonesia bukanlah sekadar slogan, melainkan ikhtiar yang diwujudkan setiap hari melalui kerja, pengabdian, dan keberpihakan kepada kemanusiaan.
Menjelang 3 Juli 2026, saat beliau memasuki usia 73 tahun, kita tidak hanya merayakan pertambahan usia seorang ulama. Kita sedang merayakan keteguhan seorang pengabdi yang sepanjang hidupnya memilih berada di jalan persatuan, jalan kebangsaan, dan jalan kemanusiaan. Sebuah jalan yang mungkin tidak selalu mudah, tetapi menjadi fondasi penting bagi Indonesia yang damai dan bermartabat.
Pada situasi Nahdlatul Ulama hari ini, saya kira NU masih membutuhkan sosok seperti KH Said Aqil Siroj. Sosok ulama yang mampu menjembatani perbedaan, menjaga keseimbangan antara keislaman dan kebangsaan, serta menempatkan kemanusiaan sebagai inti dari pengabdian. Sosok yang tidak hanya berbicara tentang kebesaran organisasi, tetapi juga memastikan bahwa kebesaran itu selalu bermakna bagi umat, bangsa, dan mereka yang berada di lapisan paling bawah kehidupan. Sebab pada akhirnya, kebesaran NU tidak hanya ditentukan oleh kuatnya struktur organisasi, melainkan juga oleh hadirnya keteladanan yang mampu merawat persatuan, menjaga akal sehat kebangsaan, dan menggerakkan pengabdian bagi kemaslahatan yang lebih luas.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, kekuatan, keberkahan usia, dan kemuliaan pengabdian kepada beliau. Semoga terus menjadi guru bangsa yang menjaga akal sehat kebangsaan, merawat tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama, serta menginspirasi Indonesia dengan pesan-pesan persaudaraan, kebijaksanaan, dan kemanusiaan.
Selamat menyongsong usia 73 tahun, Kiai Said Aqil Siroj. Terima kasih atas ilmu, keteladanan, dan pengabdian yang telah diberikan kepada Nahdlatul Ulama, Indonesia, dan peradaban kemanusiaan.
Barangkali usia adalah angka yang terus bertambah, tetapi pengabdian adalah jejak yang akan terus hidup dalam ingatan zaman. Dan dari jejak itulah generasi berikutnya belajar tentang arti mencintai Nahdlatul Ulama, menjaga Indonesia, dan merawat kemanusiaan. Semoga. (*)
Surabaya, 3 Juni 2026
SUDARSONO RAHMAN
Wakil Ketua Umum. DPP Barikade Gus Dur








